Pelajaran Dari Emak Pemecah Batu

Praak… Praak… Praak

Suara benda keras yang beradu terdengar keras memecah keheningan pagi. Aku penasaran, mengapa sepagi ini terdengar suara riuh. Apalagi ditimpali suara perbincangan berbarengan dengan suara tawa dan kadang teriakan. Tunggu dulu, itu suara perempuan dan tak cuma satu. Sepertinya banyak. Aku makin penasaran, siapa mereka ini. Mereka saling melempar batu, akrobat kah?

Pagi belumlah menampakkan sinarnya ketika motor yang aku tunggangi memasuki kawasan Brown Canyon, sebuah tempat yang nge-hits di daerah Meteseh, Tembalang, Semarang. Tempat ini awal mulanya adalah sebuah perbukitan yang terbentuk sedemikian rupa karena aktivitas penambangan material yang terjadi selama sekian tahun. Dinamakan Brown Canyon karena tebing-tebing yang digerus alat-alat berat itu menjulang tinggi yang jika dilihat sepintas mirip dengan kawasan Grand Canyon National Park di Arizona, Amerika Serikat. Udara pagi masih menyisakan dinginnya sebelum disapu sinar lembut matahari.

Berbekal koordinat di Google Maps, tertera jarak kurang lebih 12 Km yang harus aku tempuh dari rumahku. Jalan yang harus dilewati sedikit berbatu dan tanah berdebu. Aku rasa jalanan ini akan menjadi kubangan lumpur jika turun hujan dan tentunya akan menyulitkan bila kita berkendara menggunakan motor matic atau mobil yang berbadan rendah seperti sedan ke tempat ini.

Pemecah batu
Dari atas sinilah mereka melemparkan batu

Debu berterbangan cukup tebal ketika beberapa truk-truk besar pengangkut tanah hilir mudik dan keluar masuk area pertambangan. Pagi itu aku beruntung karena tidak dikenakan biaya karcis masuk, mungkin karena masih terlalu pagi. Aku menepikan motor dan menitipkannya pada salah satu warung yang terdapat di sana. Berjalan perlahan menyusur jalan tanah berdebu diantara tebing-tebing batu padas yang menjulang tinggi, membuatku terasa sangat kecil. Tebing-tebing padas itu bagaikan barisan Autobot dan Decepticon… Hahaha (kebanyakan nonton Transformer nih).

Cukup lama aku berkeliling dan berjalan sembari menekan shutter kamera, hingga akhirnya mataku tertuju pada sekumpulan ibu berusia separuh baya di ujung sana. Pada sisi atas tebing terlihat dua orang wanita sedang melemparkan bongkahan batu berukuran cukup besar ke bawah. Kurang lebih 15 meter tinggi tebing itu. Rupanya inilah sumber suara benda keras beradu yang kedengaran ketika aku tengah berkeliling tadi. Di bawah ada dua orang wanita yang terlihat memilah bongkahan batu besar itu menjadi dua bagian, batu padas dan batu untuk landasan cor jalan. Kumpulan batu padas akan mereka pecah lalu kemudian diayak sehingga menjadi bongkahan batu kecil dan pasir tanah. Akupun penasaran dan mendekat ke arah mereka. Empat ibu-ibu itu semuanya adalah para pemecah batu.

Mereka mulai bekerja kira-kira jam 7 pagi hingga rembang petang. Bongkahan batu untuk landasan cor jalan itu dikumpulkan dan jika sudah cukup banyak akan mereka naikkan ke truk pengangkut batu milik pengepul. 1 bak truk penuh batu dihargai Rp 200.000 – itupun masih dipotong untuk sang mandornya.

Melempar batu
Para pemecah batu melemparkan batu ke bawah

Diselingi canda tawa dan sendau gurau, mereka bekerja dengan giat. Tak peduli keringat mulai menetes dan membasahi pakaian mereka, padahal hari belumlah beranjak siang. Demi tambahan uang supaya dapur mereka tetap ngebul, mereka berkalang tanah mengais rejeki. Kadang mereka saling ledek, supaya pekerjaan yang berat itu tidak terasa –mereka tertawa lepas hingga kedengaran suara mereka hingga bergema. Semuanya untuk mengusir sepi dan lelahnya raga.

“Ibu, sudah lama kerja seperti ini?” tanyaku pada salah satu dari mereka.

“Belum mas, baru 2 bulan ini. Dulunya saya jualan sayur di pasar, tapi karena pasarnya sepi ya saya sekarang kerja disini. Kayak kemarin pas hujan terus tiap hari, ya saya jualan lagi di pasar. Gitu saja terus, mas,” sahutnya.

“Ibu namanya siapa?”, tanyaku lagi.

”Saya? Saya Isah, mas. Ini teman saya, namanya Jum”, jawab mak Isah sambil menunjuk pada teman disampingnya.

Tumpukan batu
Diantara gundukan batu

Dengan logat Jawanya yang sangat kental, mak Isah meneruskan ceritanya.

“Lha kalau yang 2 diatas sana itu Sami dan Yem – itu yang gemuk. Yem itu baru saja ditinggal suaminya meninggal. Bunuh diri. Katanya gantung diri karena nggak sanggup hidupin anak istrinya. Suaminya Yem dulu kerja disini juga. Mecah batu. Lha sejak suaminya mati, Yem jadi kerja disini. Dulu dia kerjanya bantu nyuci di rumah orang, mas,” imbuhnya.

Blaaak!! Badanku berasa seperti ditimpa batu padas. Dunia memang terlihat kejam hingga ada orang yang tidak sanggup mengatasi beban hidupnya. Tetapi aku kembali diingatkan, bahwa aku pernah mengalami masa-masa sulit dan hampir menyerah. Pernah pula terlintas dalam benakku untuk mengakhiri hidup saat itu. Mungkin jika itu terjadi, tidak akan pernah ada blog jelajahlangkah.com dan aku tak sempat menikmati dangdut koplo (hahahaha…).

Aku meminta ijin mak Isah untuk memotret kegiatan mereka dan iapun tak keberatan, bahkan mak Jum diajaknya untuk pose berdua. Hahaha… menyenangkan dapat mengenal sosok mereka yang bicara polos dan tanpa canggung.

Emak pemecah batu
Mak Isah (kiri) dan Mak Jum (kanan); senyumnya sumringah

Puas menjelajah Brown Canyon, akupun berpamitan kepada emak-emak pemecah batu dan berterima kasih atas pelajaran sederhana yang diberikan oleh mereka pagi itu. Berbagi kisah dan berbagi suka. Kisah tentang sebuah kontradiksi – ruangan berpendingin udara, pekerjaan, gaji tetap Vs panas terik sinar matahari, buruh kasar, gaji tak jelas masih dipotong bagian mandor. Tentang makan enak Vs entah hari ini masih bisa makan atau tidak.

Apakah dunia kau rasa tak adil? I don’t think so. Justru dunia makin indah dengan ketidak-adilan itu. Tergantung dari sudut mana engkau memandangnya. Aku mendapatkan sebuah pelajaran berharga, bahwa selalu ada alasan untuk bersyukur.

Tak lupa aku sisipkan uang jatah makan siangku hari itu untuk mereka. Nggak banyak, tapi paling tidak bisa menambah sedikit lebar senyum mereka, emak-emak para pemecah batu, hari itu.

Note:

Penulis adalah seorang traveller, penikmat soto dan fans dangdut koplo Nella Kharisma 😉

Emak pemecah batu
Mak Sami (kiri), Mak Yem (kanan); rehat sebentar

 

13 Replies to “Pelajaran Dari Emak Pemecah Batu”

  1. Orang-orang ini lebih hebat dan tangguh menghadapi hidup. Meski keras, mereka tetap bersyukur. Tentu ini jauh beda dengan yang di senayan sana. Dari perempuan-perempuan itulh saya juga belajar bagaimana menghadapi kerasnya hidup. Dan tentu, mereka selalu menginspirasi.

    Ini bukan soal adil atau tidak adil menurut saya. Ini soal falsafah Jawa “Nrimo ing pandum” dan ini cukup berat..

    Liked by 1 person

  2. Mereka luar biasa, para pemecah batu itu. Di Ende ada dua kalau yang kayak gini, pemecah batu gunung/bukit, dan pengumpul serta pemecah batu pantai. Sumber kehidupan mereka. Mereka tangguh, mereka kuat, mereka pejuang ekonomi keluarga….

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Mas Broh Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s