Keunikan Kerbau Rawa Di Kalimantan Selatan

“Berjalan dan berpetualanglah. Nikmati hidupmu. Toh hidup hanya sekali saja; rugi jika tak kau nikmati” – @burgerk3ju

Kerbau bisa berenang? Ah yang benar?

Melihat aktivitas kerbau rawa menjadi jadwal perjalananku hari ini di Banjarmasin. Sebuah pengalaman baru buatku. Tentunya akan jadi petualangan yang menarik karena sebelumnya aku belum pernah mendengar perihal adanya kerbau rawa (Bubalus bubalis).

Kalang Hadangan, berasal dari bahasa Banjar yang berarti peternakan kerbau rawa. Kalang artinya  kandang dan Hadangan adalah kerbau. Di daerah Hulu Sungai Selatan Banjarmasin dan beberapa tempat di Kalimantan Selatan terdapat juga beberapa peternakan kerbau rawa. Namun kalang hadangan yang terdapat di desa Pandak Daun, Daha Utara, Hulu Sungai Selatan menjadi lokasi yang paling dekat dengan kota Banjarmasin. Jika kamu tak punya banyak waktu di kota Banjarmasin, kalang hadangan di sini dapat menjadi tujuan dalam satu agenda perjalanan singkat.

Perahu kelotok yang aku tumpangi beserta rombongan mulai melaju menyusuri sungai Nagara. Sungai ini merupakan sungai terpanjang kedua setelah sungai Barito. Airnya berwarna coklat.

Perahu kelotok menjadi alat transportasi sehari-hari bagi masyarakat Kalimantan untuk beraktivitas seperti layaknya angkot atau bis Metro Mini di Jakarta. Terlihat hilir mudik perahu kelotok berpapasan saat kami menyusuri sungai di Kalimantan Selatan yang lebarnya kurang lebih sama dengan ukuran lapangan bola.

Kalang Hadangan; Kerbau Rawa
Menyusuri sungai Nagara (Dok. Pribadi)

Sebagai tambahan informasi saja, untuk menggunakan jasa klotok dipatok harga kurang lebih Rp250.000 per perahu dengan kapasitas penumpang 10 orang.

Sambil mengunyah jajan pasar seperti Bingka dari Nagara dan beberapa wadai (kue) yang dibawa oleh rombongan, aku menikmati perjalanan di atas kelotok.

Rumah-rumah apung di pinggir sungai mulai menampakkan aktivitas penghuninya. Anak-anak bertelanjang dada asyik bermain air di sungai. Beberapa terlihat melakukan aksi salto seraya menceburkan dirinya ke sungai. Gelak tawa mereka memecah kesunyian pagi. Menambah keseruan selain bunyi mesin perahu kelotok yang bising.

Kalang Hadangan; Kerbau Rawa
Menikmati perjalanan dari atas kelotok (Dok. Pribadi)

30 menit sudah kami menyusuri sungai hingga akhirnya berganti rawa. Perahu klotok menambah cepat lajunya, melewati lorong air yang terbentuk karena tanaman eceng gondok yang tumbuh hampir menutupi permukaan rawa. Kalang Hadangan masih di depan sana, kurang lebih 10 menit perjalanan.

Kami akhirnya sampai pada sebuah bangunan panggung di atas rawa yang terbuat dari susunan gelondongan kayu. Disusun bersilangan sebagai pembatas dan dibuat pintu. Tinggi kalang dapat mencapai 5 meter atau tergantung kedalaman rawa. Bangunan panggung ini mengusung konsep rumah lanting (apung).

Deretan papan kayu setebal 10 cm yang tertata rapat menjadi lantainya dengan ketinggian 1,5 meter dari permukaan air rawa. Segerombolan kerbau berada di dalam kalang. Itulah kalang hadangan.

Saat kami tiba hadangan ini belum dilepaskan ke rawa; menurut penjaga kalang ada perhitungan waktunya kapan mereka akan dilepas. Macam pertandingan lari marathon saja ya!

Kalang Hadangan; Kerbau Rawa; Hulu Sungai Selatan
Kalang Hadangan adalah terjemahan dari kandang kerbau; letaknya di atas rawa (Dok. Pribadi).

Hadangan akan dibebaskan dari kalangnya di waktu pagi. Kerbau-kerbau rawa beragam usia menghambur keluar saat pintu kandang dibuka. Mereka akan menelusuri hamparan area rawa secara berkelompok untuk mencari makan yang biasanya dipimpin oleh kerbau jantan dewasa.

Kerbau rawa ini sebetulnya sama dengan kerbau di darat, namun kerbau rawa telah beradaptasi dengan lingkungan rawa-rawa sebagai tempat tinggalnya.

Salah satu keunikan kerbau rawa adalah mereka bisa berenang belasan kilometer di air rawa yang cukup dalam. Saat berenang di rawa hanya terlihat kepala dengan tanduknya di atas air. Sesekali moncong kerbau terlihat menyelam untuk mencari rumput yang tenggelam. Menarik sekali.

  • Kalang Hadangan; Kerbau Rawa; Hulu Sungai Selatan
  • Kalang Hadangan; Kerbau Rawa; Hulu Sungai Selatan
  • Kalang Hadangan; Kerbau Rawa; Hulu Sungai Selatan
  • Kalang Hadangan; Kerbau Rawa; Hulu Sungai Selatan

“Hadangan tiap hari hidupnya di air. Jika kulitnya terlalu lama terpapar panas sinar matahari, kulitnya yang sensitif akan gatal dan ia akan berusaha menggaruk-garukkan kulitnya ke besi di kandang hingga luka,” kata salah seorang penjaga kalang kepadaku. Rokok dimulutnya tampak tinggal setengah.

Disarankan bagi kalian, waktu yang tepat bertualang ke kalang hadangan adalah saat pagi atau menjelang senja untuk menikmati matahari terbenam.

“Rumput padihiang adalah rumput yang biasa dimakan kerbau rawa; terkadang mereka juga makan eceng gondok ataupun purun kudung yang menutupi sebagian rawa. Saat air sungai atau rawa tengah banjir, kami yang mencari dan mengambilkan rumput, kemudian membawanya ke kandang dengan jukung,” tambah penjaga kalang.

Ketika hari menjelang senja, kerbau-kerbau rawa akan digiring pulang oleh para penggembala menuju kalangnya. Mereka menggunakan jukung atau perahu kecil saat menggiring hadangan.

Kalang Hadangan; Kerbau Rawa; Hulu Sungai Selatan
Kalang hadangan dibangun menganut konsep rumah lanting (apung).

“Resiko tertukarnya kerbau rawa cukup tinggi, mas. Karena ada beberapa peternak kerbau yang juga menggembalakan di rawa ini. Untuk membedakan masing-masing kerbau kepunyaan peternak A atau B, biasanya dibuat tanda dengan cara menggunting sedikit bagian pada telinga kerbau saat kerbau itu masih berusia 7 hari,” pungkas pak penjaga kalang kepadaku.

Perjalanan kali ini di Kalimantan Selatan memberikan kesan tersendiri buatku. Unik dan menyenangkan. Aku mendapatkan pemahaman dan pengetahuan yang baru tentang dunia fauna di Indonesia yang sangat beragam. Kerbau dengan keberadaan dan tingkah lakunya yang lebih senang hidup berkubang di dalam rawa (bakunyung) serta cara mereka mencari makan dengan berenang menjadi atraksi tersendiri.

Tentu saja tak ketinggalan pula kekayaan kuliner yang nyaman banar di lidah. Jangan lupakan wanita Banjar dengan paras bungas-nya. Aah kangen aku kembali ke Banjar.

Kamu kapan melancong ke banua Kalimantan Selatan?

Banjarmasin, Februari 2017

*Tulisan ini pernah ditayangkan di In-flight Magazine Citilink edisi Maret 2017artikel ini telah mengalami penyuntingan untuk ditayangkan di blog pribadi.

5 Replies to “Keunikan Kerbau Rawa Di Kalimantan Selatan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s