Kamu Jangan Rewel Ya, Beib

“Saat raungan mesin berbunyi, saat itulah hidupmu dimulai” – anonymous

Raira, seorang pembalap go kart berjongkok di depan mesin balapnya sebuah go kart bernomor 87. Ia terlihat khusyuk.

Sudah menjadi kebiasaan bagi para pembalap untuk “berbicara” kepada tunggangannya sebelum memulai sebuah balapan; tak terkecuali pembalap kelas dunia seperti Valentino Rossi pun melakukan hal yang sama. Jika kamu penggemar balapan motor MotoGP akan terbiasa melihat saat Rossi terlihat jongkok di samping motornya seperti tengah “bermesraan” dengan tunggangannya sebelum race dimulai.

Ritual seperti itu lumrah adanya di dunia balap. Mereka – pembalap dan tunggangannya – bak sepasang kekasih atau lebih tepat dikatakan harus “kawin”. Menyatu. Mengerti satu sama lain.

“Kamu jangan rewel ya, Beib…” begitu kira-kira doa yang diunggah para pembalap. Yang dilanjutkan dengan menepuk-nepuk nomor kendaraan dengan telapak tangan atau bahkan mencium tunggangannya. Pertanda semuanya akan baik-baik saja sepanjang perlombaan.

Raira, terlihat bermesraan dengan go-kart tunggangannya (Dok. pribadi).

Pembalap membutuhkan tunggangannya untuk tidak “rewel” apalagi terlibat insiden di lintasan balap. Tetap tangguh walaupun mesin terus menerus digeber dengan kecepatan tinggi. Jumlah putaran yang harus ditempuh para pembalap terhitung cukup banyak, dalam balapan go kart sendiri biasanya akan menempuh 10 – 15 putaran. Untuk itulah pembalap harus manunggal dengan tunggangannya.

“Di dunia balap, bahkan kelas internasional-pun masih terdapat “praktek” klenik. Itu wajar. Setiap pembalap berkeinginan untuk memenangkan race. Naaah praktek klenik bermain di sini terlepas dari ketangguhan tunggangan dan juga skill pembalap”.

“Kalau boleh dikatakan mereka (pembalap) ini kafir yang sesungguhnya. Hahahahaha… ” kata seorang temanku dengan derai tawanya. Ia seorang mantan pembalap jalanan yang saat ini menekuni dunia kepelatihan bagi para pembalap yunior.

Dalam hal per-klenik-an di lintasan balap, tentunya tak semua pembalap melakukannya. Raira salah satunya. Ia seorang pembalap yang mumpuni dari ketrampilan mengemudikan tunggangan balapnya. Kerasnya kompetisi balap go kart menjadikan ia bermental balap yang terlatih. Rasa penasaran dan tak kenal menyerah menjadi bekal kemampuannya memacu mesin tunggangan dalam melaju di lintasan balap.

Hanya keberuntungan saja yang tampaknya enggan menclok kepadanya saat itu.

Ready, steady… Go! (Dok. pribari).

Dalam sisa seri di musim balapan Eshark Rok Cup 2017 & Asia Rok Cup 2017 ia gagal memenangi kelas gearbox universitas.

Mesin mobil cikal bakal Formula 1 itu mengeluarkan raungan suaranya. Memekakkan telinga namun terdengar bak alunan musik cadas di telinga para pembalap. Bau pelumas mesin balap menguar memenuhi rongga paddock balap saat pedal gas ditekan. Puluhan mekanik terlihat sibuk menyetel mesin-mesin balap. Mereka juga bagian dari keriuhan balapan.

Aku yang berada di tengah kerumunan para pembalap dan mekanik menikmati semua riuh rendah ini. Mengingatkanku akan masa-masa ikut balap liar saat berseragam putih abu-abu.

Para penunggang mesin berkecepatan tinggi terlihat mondar-mandir, membetulkan racing wear pack, balaclava dan helmnya. Tak lupa mengenakan sarung tangan balapnya. Bersegera duduk diatas single seater tunggangannya. Berwajah tegang menunggu kibasan bendera kotak-kotak hitam putih di garis START.

Barangkali Raira butuh jalur “klenik” untuk menang di kompetisi go kart tahun-tahun mendatang? Hahaha…

4 Replies to “Kamu Jangan Rewel Ya, Beib”

Leave a Reply to travelingpersecond Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: