Ngabuburit Bareng Komunitas Penyandang Disabilitas

Bulan Ramadhan dipercaya oleh umat muslim sebagai bulan penuh limpahan berkah dan anugerah. Oleh karena itu mereka berbondong-bondong memperbanyak amalan dan kebaikan. Umat muslim menyambut bulan Ramadhan dengan antusias. Apalagi dipercaya bahwa semua ibadah dan amalan kebajikan yang dilakukan akan langsung mendapatkan ganjaran dari Tuhan. Bulan penuh rahmat dan ampunan ini juga dirasakan oleh para penyandang disabilitas. Tetapi terdapat banyak hambatan di luar sana yang membuat gerak para penyandang disabilitas ini menjadi sangat terbatas karena tertutupnya akses bagi mereka. Padahal mereka juga rindu untuk mendapatkan siraman rohani dan merasakan khusyuknya ibadah di bulan suci Ramadhan. Mereka juga mempunyai hak dan kesetaraan untuk merasakan dan menikmati Ramadhan.

Sebuah acara bertema “Highway to Heaven” digagas oleh Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah bekerjasama dengan JBFT (Jakarta Barrier Free Tourism), mereka mengenalkan pentingnya Ramadhan Ramah Disabilitas dengan gerakan #BringMeAccess. Acara ini diawali dengan kampanye jalan-jalan edukasi yang merupakan aksi JBFT ke-42, forum diskusi MRAD (Mudik Ramah Anak dan Disabilitas) dan diakhiri dengan shalat Tarawih Akses.

Berawal Dari Stasiun Kota
Barisan kursi roda para penyandang disabilitas yang tergabung dalam komunitas JBFT memulai perjalanan mereka dari Stasiun Kota, Jakarta. Sebelumnya mereka mengadakan penjelasan singkat tentang cara-cara menangani rekan-rekan penyandang disabilitas kepada partisipan. Dari komunitas JBFT yang ikut bergabung 7 orang pengguna kursi roda, 2 orang tuna netra serta 3 orang tuna rungu. Hadir sebagai partisipan beberapa diantaranya adalah Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) dan rekan-rekan media baik daring maupun televisi. Aku termasuk salah satu partisipan dan ini menjadi kesempatan pertamaku, setelah sebelumnya pada beberapa kesempatan sebelumnya belum pernah bisa bergabung karena berbagai kesibukan pekerjaan. Menyenangkan sekali akhirnya bisa berkesempatan bergabung dalam kegiatan komunitas JBFT.

Kokam-JBFT
Briefing sebelum memulai perjalanan. Dokumentasi

Ketika saatnya mencoba fasilitas di Stasiun Kota ternyata terdapat beberapa hambatan seperti gagalnya para penyandang disabilitas pengguna kursi roda ketika melewati RFID Tripod Turnstile Gate System (pintu masuk untuk men-tap kartu KAI); ini dikarenakan lebar jarak antar pintu sedikit kurang lebar. Sebagai solusinya kami memasuki peron kereta api menggunakan pintu manual, setelah semua kartu RFID di tap di pintu masuk otomatis. Tak hanya sampai di situ, hambatan selanjutnya adalah ketika para pengguna kursi roda memasuki gerbong kereta komuter. Terdapat jarak antara pintu masuk gerbong kereta dengan landasan di bawahnya, sehingga para pengguna kursi roda terpaksa digotong minimal oleh dua orang. Coba bayangkan ketika para pengguna kursi roda harus berpergian sendiri dan menghadapi kendala seperti ini. Sementara para pegawai peron ataupun petugas keamanan yang berada di dalam kereta komuter tidak mendapatkan pengalaman yang cukup untuk meng-handle mereka. Cukup merepotkan bukan?

00__P5880822
Jarak yang cukup tinggi terlihat sangat menyulitkan penyandang disabilitas. Dok: Pribadi

Stasiun Gondangdia yang “horor” dan mendebarkan
Dari 10 rangkaian gerbong kereta komuter jurusan Bogor yang kami tumpangi, hanya terdapat 1 gerbong yang mempunyai tempat khusus untuk pengguna kursi roda. Itupun tak seberapa luas. Tantangan para penderita disabilitas tak cuma sampai di situ saja. Ketika kami turun di Stasiun Gondangdia, ancaman menghadang. Di stasiun ini tidak terdapat lift ataupun tangga berjalan khusus yang landai seperti terdapat di retail pusat perbelanjaan besar, sementara stasiun ini berada di lantai 2. Hanya terdapat tangga berjalan biasa dan tangga beton yang curam. Para pengguna kursi roda harus bersusah payah dan terpaksa dibantu oleh minimal 2 orang, dan turun perlahan untuk mengurangi resiko kecelakaan. Hal yang sama dilakukan ketika menuruni deretan tangga selanjutnya untuk turun ke basement. O ya, RFID Tripod Turnstile Gate System di stasiun Gondangdia ternyata mempunyai pintu khusus untuk pemakai kursi roda lho walaupun pintunya juga manual.

00__P5880841
Salah seorang pemakai kursi roda berhati-hati diturunkan. Dok: Pribadi

Hasil penilaian untuk kedua stasiun kereta komuter yang kami lewati, belum sepenuhnya accessible. Masih harus banyak diperlukan pembenahan, terutama di bagian infrastruktur dan sarana pendukung. Toilet yang kurang ramah terhadap penyandang disabilitas juga perlu dibenahi. Sementara kereta komuter juga perlu mendapat perhatian khusus. Tidak adanya semua gerbong yang mempunyai running text sangat menyulitkan para tuna rungu. Instalasi ini sebaiknya ditempatkan di tempat-tempat yang mudah dibaca sehingga memudahkan mereka untuk mengetahui sudah sampai di stasiun mana; supaya tidak tersasar salah stasiun. Juga sebaiknya ada ruang khusus pada setiap gerbong komuter untuk para pemakai kursi roda, sehingga tidak menghalangi mobilitas para pengguna kereta lainnya apalagi di jam-jam sibuk.

Forum Diskusi Masjid At-Taqwa Muhammadiyah
Usai perjalanan menggunakan kereta dan berakhir di stasiun Gondangdia, perjalanan berlanjut menyusuri jalan Wahid Hasyim dan Menteng Raya menuju Masjid At-Taqwa Muhammadiyah yang berlokasi di jalan Menteng 62. Tampak beberapa penyandang disabilitas yang menggunakan motor modifikasi beroda tiga juga turut bergabung. Di sepanjang perjalanan kami menyaksikan ancaman dan berbagai kesulitan terutamanya adalah trotoar yang tidak ramah akses dan para pengguna motor yang bermanuver membahayakan.

Jalanan Jakarta sore itu memang cenderung padat, apalagi menjelang waktu berbuka puasa. Aksi selap selip penunggang sepeda motor dan mobil seringkali membahayakan pengguna jalan lainnya. Mereka tidak melihat adanya kami dan rombongan penyandang disabilitas yang sedang menyusuri jalan. Penyandang disablitas juga mempunyai hak dan kesetaraan dalam menggunakan fasilitas umum, dalam hal ini fasilitas di jalan raya. Komunitas JBFT diharapkan untuk tetap turut serta melakukan edukasi dengan aktivitas jalan-jalannya.

00__P5880886
Seorang penyandang disabilitas terlihat turun dari motor roda tiganya. Dok: Pribadi

Kami semua akhirnya berkumpul di ruang auditorium KH. Ahmad Dahlan gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta. Di situ sudah berkumpul dan bergabung beberapa komunitas penyandang disabilitas lainnya, juga Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Bpk. Rachmat Koesnadi (Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas), Ibu Sitty Hikmawati (Komisioner KPAI bidang Kesehatan dan Napza), Cucu Saidah (Inisiator Mudik Ramah Anak dan Disabilitas) dan Trian Airlangga (Koordinator Jakarta Bariers).

Dalam penjelasannya mengawali rangkaian acara tersebut, Cucu Saidah yang lebih akrab dipanggil Teh Cucu mengatakan bahwa terjadi perspektif yang salah di kalangan masyarakat terkait dengan para penyandang disabilitas. Beliau menambahkan bahwa miskinnya informasi berkaitan dengan hal ini menjadi salah satu penyebabnya.

“Asumsi atau prasangka yang berkembang di masayarakat memainkan sebagian pemikiran kita bahwa pemakai kursi roda selalu dianggap orang yang sakit. Ini dikarenakan sebagian besar orang-orang mereka tidak pernah bertemu, berinteraksi ataupun menjalin komunikasi dengan para penyandang disabilitas. Cobalah berinteraksi dengan para penyandang disabilitas, maka akan didapatkan informasi yang benar tentang kebutuhan mereka”, Teh Cucu mengawali penjelasannya.

00__P5880898
Pengambilan air wudhu. Dok: Pribadi

Dikarenakan asumsi yang keliru inilah maka timbul stigma yang menempel pada penyandang disabilitas bahwa mereka ini lemah, cacat, kekurangan, tidak mampu dan berkebutuhan khusus. Teh Cucu menyampaikan bahwa saat ini isu keberagaman hanya menyorot masalah perbedaan agama, padahal disabilitas termasuk juga keberagaman. Disabilitas mewarnai semua kelompok baik agama, jenis kelamin, usia, golongan, suku dll.

“Dari stigma yang menempel inilah maka terjadi stereotype (pengelompokan) di dalam masyarakat. Kenyataan yang seringkali ada pengelompokan ini berkaitan dengan pekerjaan yang di “pandang” pantas untuk penyandang disabilitas. Tuna netra sudah pasti profesinya tukang pijat. Pemakai kursi roda cukuplah menjadi operator. Akhirnya setelah pengelompokan ini terjadilah yang dinamakan diskriminasi.” lanjut Teh Cucu menandaskan.

Perbedaan perlakuan kepada penyandang disabilitas ini berkaitan dengan fasilitas publik. Misalnya bagaimana dengan mudah penyandang disabilitas mengakses toilet di tempat umum seperti kereta api jarak jauh. Ketika didapati toilet yang tidak ramah akses, maka penyandang disabilitas dalam hal ini pemakai kursi roda akan mengalami kesulitan dan ketidak nyamanan lagi. Bayangkan mereka harus menahan untuk buang air kecil sepanjang perjalanan jauh? Jika solusinya adalah tidak banyak minum air selama perjalanan jauh tersebut, apakah mereka tidak mengalami dehidrasi? Masih banyak contoh lainnya untuk menunjukkan betapa fasilitas umum masih harus dibenahi untuk mendapatkan ramah akses.

00__P5880915
Memasuki pelataran masjid yang belum ramah akses. Dok: Pribadi

“Akses untuk mendapatkan informasi yang benar di bidang keagamaan juga menjadi perhatian kami penyandang disabilitas. Misalnya ketika ceramah di masjid, apakah tersedia penerjemah bahasa isyarat atau running text bagi penderita tuna rungu? Ketika menikah dan ijab khobul, apakah imam yang menikahkan didampingi oleh penerjemah bahasa isyarat? Jika terjadi kekeliruan, siapakah nanti yang akan dipersalahkan?” ujar Teh Cucu lebih lanjut.

Pemaparan ditutup dengan sebuah ajakan bahwa masih adanya hambatan kebutuhan akses kiranya tak menghalangi penyandang disabilitas untuk terus berjuang dan bergerak.

Tarawih Akses
Acara ditutup dengan shalat Tarawih Akses di masjid yang berlokasi tak jauh dari auditorium, setelah sebelumnya kami berbuka puasa bersama. Tempat ibadah juga menjadi perhatian bagi penyandang disabilitas, terutama pemakai kursi roda. Mereka tampak mengalami hambatan ketika masuk melewati pintu pembatas tempat shalat dengan adanya tangga dan posisi lantai masjid lebih rendah daripada jalan serta adanya tembok pembatas setinggi kurang lebih 25 centimeter.

Tempat mengambil air wudhu juga menjadi hambatan tersendiri. Padahal para penyandang disabilitas juga rindu untuk dapat melakukan ibadah mereka setara dengan non-disabilitas. Adanya anggapan bahwa kursi roda yang dipakai penyandang disabilitas adalah kotor atau najis sehingga tak layak memasuki tempat shalat adalah keliru. Sementara pemakai kursi roda mengatakan bahwa kursi roda merupakan bagian dari tubuh mereka. Hal-hal inilah yang seringkali menyebabkan hak penyandang disabilitas menjadi tidak tersedia. Tarawih Akses kali ini menyediakan penerjelah bahasa isyarat bagi para penyandang tuna rungu.

Penutup
Ketika semua orang berpotensi menjadi disabilitas, sudah selayaknya akses untuk penyandang disabilitas menjadi penting untuk diberlakukan. Diterbitkannya UU No 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas dapat dijadikan payung hukum untuk tersedianya fasilitas publik yang ramah disabilitas. Akses untuk mendapatkan kesetaraan informasi dan layanan publik masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemangku jabatan di tatanan negeri ini.

Muhammadiyah menjadi pelopor ketika mereka mengumumkan akan merenovasi masjid At-Taqwa menjadi ramah disabilitas, dan kemudian akan dilanjutkan dengan 10 masjid Muhammadiyah lainnya di pelosok negeri. Ini akan menjadi pilot project bagi pihak Muhammadiyah untuk dapat memberikan hak kesetaraan dan angin sejuk bagi penyandang disabilitas. Hal ini kita harapkan bersama dapat segera terwujud dan untuk selanjutnya fasilitas publik lainnya juga menerapkan hal yang sama.

Jika semua fasilitas publik ramah bagi penyandang disabilitas, tentunya seluruh lapisan masyarakat akan menikmati kenyamanan yang maksimal.

Advertisements

13 Replies to “Ngabuburit Bareng Komunitas Penyandang Disabilitas”

    1. Betul, Mbak. Di bandara memang sudah banyak plang atau signage yang ramah akses. Tetapi justru prosedur naik pesawat bagi para penyandang disabilitas masih perlu dibenahi.

      Seringkali teman-teman kita ini masih ada diskriminasi. Masih ingat pengguna kursi roda yang ditolak Etihad Airways beberapa waktu lalu?

      Kasus ini masih terjadi di maskapai nasional. Intinya masih diperlukan edukasi berkesinambungan bagi masyarakat.

      Liked by 1 person

    1. Itu harapan dan doa teman-teman kita penyandang disabilitas, Mbak.

      Tetapi permasalahannya adalah ketika merenovasi bangunan masjid dan tempat ibadah lainnya, diperlukan dana yang tak sedikit. Kita doakan agar lekas terwujud.

      Liked by 1 person

  1. Transportasi umum Jakarta memang belum ramah penyandang disabilitas, mas. Seperti yang mas ceritakan di atas, keberadaan entry / exit gate khusus, elevator (lift), dan running text (pada peron dan di dalam kereta) memang masih minim. Platform gap (jarak antara kereta dengan peron) juga menjadi hambatan. Jangankan OBK, orang-orang biasa yang lansia atau anak kecil saja memerlukan pengawasan khusus.

    Semoga bisa segera seperti kota-kota di negeri sebelah 🙂

    Liked by 1 person

    1. Kita doakan dan edukasi masyarakat dan pemerintah terkait supaya segera menyelenggarakan fasilitas yang akses, Mas.

      Komunitas ini akan tetap bergerak untuk mewujudkan keinginan dan kesetaraan bagi mereka. Kita jaga bersama supaya tidak hanya wacana atau untuk ditunggangi kepentingan politik, tetapi benar-benar diwujudkan.

      Salam

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s