Tentang Rindu Untuk Pulang

“Gunung itu seperti ibu, dia adalah tempat pelarian terbaik di saat diri kita sedang membutuhkan semangat baru” – Tanpa nama

Float dalam lagunya yang berjudul Pulang menuliskan sebuah lirik kerinduan. “Bicara tentang rasa/ Bawa aku pulang/ Segera/ Jelajahi waktu/ Ke tempat berteduh hati kala biru” – Dapat ditebak jika lagu ini berkisah tentang ke manapun kaki kita bergerak melangkah dan pergi, tetaplah akan ada kata untuk kembali pulang.

Pulang. Sebuah kata yang artinya pergi ke rumah atau kembali ke tempat asal. Bisa jadi ke rumah orang tua, rumah sendiri, rumah indekost, rumah kontrakan, maupun rumah tante-tante… Eeh abaikan yang terakhir hehehe.

Aku, tak ada bedanya dengan orang lain kebanyakan, seringkali merasakan rindu untuk pulang. Namun pulang yang aku maksud disini agaknya berbeda. Ya, pulang ke gunung. Sebuah kegiatan yang selalu aku jadwalkan setiap tahun layaknya sebuah ritual keagamaan.

Kerinduan menapaki gunung
#Rindu #Kerinduan #Pulang #Gunung (Dok. pribadi)

Gunung bukanlah sesuatu yang mengerikan ataupun menakutkan. Benar adanya jika beberapa dari mereka menyimpan kisah mistis. Namun gunung bisa jadi layaknya kediaman bagi sebagian orang. Tempat belajar, tempat mengadu dan berkontemplasi kala hati membiru seperti yang digambarkan oleh Float.

Float yang aku maksudkan disini bukanlah es krim yang mengambang di minuman bersoda ya; silakan meramban kanal video berbagi jika kalian belum tahu grup band Float.

Saat kaki membawa kembali pulang ke rumah yang sebenarnya, pelukan orang tua terasa menenangkan jiwa. Begitu pula gunung, layaknya ibu bumi, akan memelukmu dengan eratnya. Menghapus kegalauan hati yang penuh rasa kecewa serta kelelahan menahun dan kronis.

Sajian makanan kesukaan yang sengaja dimasak dan disajikan ibu di atas meja makan seperti candu penawar rindu. Demikian pula keindahan bentang alam yang dinikmati saat berada di titik kulminasi gunung bagaikan sagu hati ketika kita mengunjunginya dengan penuh rasa hormat.

Dan akhirnya, ciuman lembut orang tua sebagai tanda sayang dibarengi senyuman yang meneduhkan bak gunung dengan limpahan sinar matahari pagi dalam kehangatannya yang meremukkan kebekuan hati.

#rindu #kerinduan #pulang
Menapaki dan memijat ibu bumi (Dok. pribadi)

Setelah ribuan langkah terlalui, tanjakan dengan tingkat kemiringan yang terkadang membuat singit diri, tak terhitung lagi berapa kali lutut beradu dengan dada, merosot ratusan kali karena kontur tanah menanjak dan berpasir, melawan hawa dingin menusuk tulang dengan tekanan udara yang menipis, melawan emosi dan lelahnya fisik maka ritual itu menjadi sempurna.

Bagaikan akhir sebuah perjalanan suci, sujud syukur menjadi sebuah kenikmatan diri. Aku sudah sampai di rumah. Pulang.

#rindu #kerinduan #pulang
Selalu merindu untuk pulang (Dok. pribadi)

Kemanapun kaki ini melangkah, mimpi apapun yang ingin diraih, puncak manapun yang akan dituju dan seindah apapun pemandangan yang dijumpai. Tetap saja, hati akan selalu membisikkan mantra rindu dan membimbing kaki untuk kembali pulang.

Kembali ke rumah ataupun ke gunung. Dua pilihan yang sama-sama memproduksi sensasi rindu.

Jakarta, February 2022

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: