Java Jazz 2016: Jazz nggak nge-jazz

Sekilas napas dan langkah di Pagelaran International Java Jazz Festival 2016

Ireng Maulana
Tibute to Eugene Lodewijk Willem Maulana (Ireng Maulana) — 1944 – 2016

Sengaja tulisan ini gue buka dengan ucapan bela sungkawa atas berpulangnya Oom Ireng Maulana, sang maestro Jazz Indonesia di hari Minggu 6 Maret 2016. Mainkan musikmu di surga, Oom… Until we meet again.

 

Tahun ini tahun ke 7 gue nonton pagelaran musik bertajuk International Java Jazz Festival. Tahun ini para artis yang tampil sepertinya banyak perbedaan.

Kenapa beda? Secara kualitas artis performance nggak beda jauh dengan pagelaran tahun lalu. Tetap ciamik, apalagi dengar-dengar (waktu itu) STING salah satu artis favorit gue dikonfirmasi bakal mentas… Ditambah David Foster dan tentu saja LEVEL 42. Kurang gagah apa coba?

Perbedaan yang mencolok adalah karena tahun ini menurut gue adalah pagelaran JJF yang nggak jazz sama sekali. Not 100% jazz. Lha gimana mau dilabelin pagelaran jazz kalau yang naik panggung model RAISA, RAN, Isyana Saraswati, Dikta, Afgan, 5 Romeo, RSD? What happen aya naon kiye??

Tahun ini juga harga tiketnya naik dibanding tahun lalu – sepertinya emang tiap tahun naik sih… Hehehe

Mungkin panitia juga nggak mau rugi kalau mentasin semua musisi jazz yang memang setiap komposisi musik jazz nggak ada liriknya. Sepertinya penonton Indonesia belum siap untuk itu. Penonton sini memang butuh dengerin komposisi musik yang lengkap dengan suara musik plus penyanyi dan lirik lagunya… Hahahaha

Kembali ke masa lalu

Okay, gue datang di hari kedua pertunjukan – dengan berbekal tiket murah yang dikasih sama teman baik gue Mbak Tika Rinaldi. Janjian ketemuan di tekape dengan Oom Bayu Agus Susanto dan Riko Wibowomy fellow photographer. Panggung yang kami tuju setelah masuk dari gate dengan pemeriksaan adalah panggung Glenn Fredly, Isyana Saraswati dan Ello – yang tergabung dalam Yamaha Musik Project. Karena kami datang telat, panggung di BNI Hall tersebut sudah penuh sesak bahkan hingga tribun. Edyaaan… fans ketiga artis itu ternyata banyak juga. Belum kelar 1 lagu, gue bergeser ke Java Jazz Hall D2. Disana bakalan mentas Oom Dian Pramana Putra & Elfa’s Singer feat. Fariz RM

DPP_ES_FRM
Dian Pramana Putra & Elfa’s Singer feat. Fariz RM

Performance Oom Dian PP boleh dibilang belum habis – kepiawaian mencipta lagu dan memainkan alat musik serta menyanyinya patut diacungi jempol. Elfa’s Singer juga nggak kalah oke performance-nya. Walaupun nggak bisa dibilang muda lagi, tetapi kualitas vocal mereka tetap di level atas. Hanya saja gerakan ala “boy or girl band” mereka nggak maksimal. Factor U kali ya. Grup vocal bentukan Oom Elfa Secioria ini beranggotakan Oom Agus Wisman, Oom Yana Yulio, Tante Lita Zein dan Tante Uci. Gue sendiri suka sama penampilan Tante Uci – yang malam itu tampil cantik. Aiish… Matek!

Satu lagi performance yang tak kalah oke adalah Oom Fariz RM. Belum habis, walaupun beberapa waktu lalu habis mendekam di hotel prodeo gegara kasus narkoba. Musikalitas Oom Fariz tetap terjaga, walaupun nggak full dia mainkan alat musik.

Dian PP
Dian PP & Elfa’s Singer

Penonton berasa kembali ke dekade 90’an. Koor berjamaah tidak luput ketika masing-masing artis menyanyikan lagu-lagu hits mereka. Di lagu terakhir yang paling nge-hits – Masih Ada – lagu ciptaan Oom Dian PP penonton seakan dihipnotis dan kembali koor berjamaah. Aaah,sungguh sedap dan nikmat ketika ingatan gue kembali ke lagu itu.

Ada bayanganmu dimataku
Dan senyummu membuatku rindu
Bagaimana caranya oh kasihku
Ku ingin jumpa dengan kamu
Bagaimana caranya…

Lagu rayuan maut di jaman seragam putih abu-abu ke pacar gue kala itu. Sempat ketemu kawan lama gue yang sudah pensiun total dari dunia basket, Oom Ashobru Dhia. Abege 90’an yang datang bersama mantan pacarnya. Dari panggung sini gue bergeser ke panggung Barry Likumahuwa. Si pembetot bass yang energik ini memang magnet buat para die-hard fans-nya, terbukti dari jumlah penonton yang menikmati cukup banyak –rela berdiri demi melihat performance dia. Salah satu lagu yang dibawakan bertajuk BONGKAR. Lagu milik grup SWAMI ini dibawakan dengan versi full jazz – tentu saja dengan betotan bass Barry yang bertenaga. Menjadi beda merasakan dan menikmati lagu ini dengan aransemen jazz. Asyik aja.

Mengunyah permen rasa campur-campur

Kaki gue arahkan ke arah Stage Bus Jazz dimana Endah N’ Rhesa bakalan manggung. Gue sendiri sudah beberapa kali nonton mereka mentas, dan nggak pernah merasa bosan. Endah N’ Rhesa memang artis dengan cita rasa tersendiri. Seumpama makan permen, Endah N’ Rhesa ini termasuk permen dengan rasa beragam. Ada manisnya, pedasnya, asamnya, lembutnya dan semuanya itu terkunyah dan menyatu cita rasa hingga akhirnya meletup pecah nikmat di lidah. Begitu sedap dinikmati. Ya, hanya kata itu yang tepat buat menggambarkan duo performance artis ini. Secara mereka mengusung alat musik yang berbeda marga, tetapi berhasil mengawinkan bunyi bunyian yang timbul menjadi sebuah soul dan karakter dari musik mereka. Endah N’ Rhesa memang kawin secara alat musik dan secara fisik. Hahahaha…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Endah N’ Rhesa

Ada adegan ketika mereka melakukan “hubungan” suami istri ketika mentas malam itu. Yak, jangan ngeres dulu yeee, mereka memainkan gitar di tangan Endah secara bersamaan. Sungguh suatu permainan yang ciamik. Gue nggak habis pikir gimana kalau mereka sedang berantem terus ada jadwal mentas malamnya. Apakah mereka bakal sekompak itu ya?

Orgasme yang tanggung di tingkat 42

Kelar menikmati musik nikmat Endah N’ Rhesa, gue bergeser ke panggungnya Patti Austin yang penuh sesak – sekedar mencari udara segar ber-AC. Di luaran agak gerah, cyiiin. Mendung malam itu. Gue memutuskan untuk duduk di selasar Hall D secara LEVEL 42 bakalan mentas kelar Patti Austin. Sembari selonjoran kaki melepas lelah, gue sempat ketemu beberapa teman lama gue yang kebetulan juga nonton malam itu

Setlist_Level42

Tepat jam setengah 10 antrean LEVEL 42 sudah mulai tampak. Gue dan ketiga teman gue – Dewi Hermayanti ikutan gabung – juga antre. Padahal pertunjukan mulai jam setengah 11. Sembari ngobrol ngalor-ngidul tak terasa pintu gedung pertunjukan akhirnya dibuka jam 10.15. Gue langsung berhambur dengan penonton lainnya, mencari posisi yang paling enak buat nonton dan tentu saja… motret! Dapat posisi di front row dengan Oom Bayu Agus Susanto di sebelah gue, sementara Dewi Hermayanti kebagian di deretan bangku kedua dari depan. Padahal sebelumnya kita sepakat untuk mencarikan tempat duduk buat Dewi, tapi nggak dapat gegara kalah cepat sama yang lain. Riko Wibowo? Entah dimana dia duduk, mungkin di sampingnya abegeh wangi.

L42__02
Mark King – Mike Lindup

Fans LEVEL 42 yang kebanyakan berusia mapan ini dengan cepat mengisi deretan bangku-bangku di belakang tempat duduk gue. Yak, penuh. Die-hard fans LEVEL 42 memang gilak. Panggung nan megah dan besar ini dibuka dengan frontman LEVEL 42 mencabik bass nya yang glow in the dark itu. Anjriiit… penonton langsung bersorak begitu tirai dibuka. Mark King dengan langkah sengaknya, menenteng bass dan mulai mencabiknya. Betotan bass yang bertenaga menggulung memecah malam. Heaven In My Hands menjadi lagu pembuka konser mereka. Yes, Mark. We are in heaven. Kalian para malaikat yang bakalan memainkan alat musik menghibur dan memuaskan dahaga kami para fans.

Tanpa panjang basa-basi, kelar lagu pertama To Be With You Again melantun mulus. Mark King sebagai frontman dan magnet utama grup ini memang piawai dengan alat musiknya. Ditambah dengan kualitas vocal dia, tentulah dibutuhkan kondisi dan kualitas extra prima. Padahal usianya bukan muda lagi – menjelang 60.

Mark_King
Mark King – cabikan bass-nya bertenaga kuda

Berturut-turut Running In The Family, Kansas City Milkman dan dilanjut solo bass digeber berbarengan dengan drum performance. Walaupun nggak lama, tetapi kualitas mereka menunjukkan kualitas dunia mereka. Kampreeet memang. Patut diacungin jempol.

The Sun Goes Down (Living It Up), Sirens – dari album terakhir mereka – dan Starchild berhasil mereka bawakan dan membikin para penonton paling tidak bergoyang kepala dan kaki.

Something About You dan salah satu hits mereka di tahun 1986 Lessons In Love menghentak panggung, berlanjut Build My Self A Rocket – dan ditutup dengan lagu Hot Water. Biasalah, ini cuma akal-akalan mereka. Teriakan “We want more… we want more” dari penonton memaksa Mark King, Mike Lindup, Nathan King, Sean Freeman, Pete Ray Biggin balik lagi ke panggung.

Mark menantang penonton lagu apa yang ingin mereka mainkan, dan tentu saja Love Games lah. Lagu yang ngetop di tahun 1981 ini memang lagu fenomenal – salah satu lagu yang pengin gue tonton secara live. Dentuman drum Pete menyatu cabikan bass Mark memang bertenaga kuda. Barry Likumahuwa mah lewat… Hahahaha

Sebagai encore malam itu ditutup dengan lagu The Chinese Way. Buat gue pribadi agak kentang encore malam itu. Kena tanggung. Aaah, sudahlah. Yang terpenting adalah penonton terpuaskan – termasuk gue penikmat musik.

Menikmati LEVEL 42 seumpama bercinta di gedung bertingkat 42 – degup jantung berderak kencang, goyangan mematikan, emosi menjulang dan sensasi menguras adrenalin. Aaaah… nikmat benar!!

L42__01
Level 42 – The Formation

Thank you, Mark… Ketemu lagi kapan-kapan ya! Gue capcus dulu, cyiiin

Sungguh Ku Sayang Kamu

Bergeser ke panggung C2 setelah sebelumnya mampir ke toilet sembari sayup-sayup komposisi musik SKA dari panggungnya Tokyo SKA Paradise. Enak juga didengar di kuping gue. Mungkin tahun depan, kalau mereka manggung lagi bakal gue tonton.

Di C2 bakal mentas REPLAY feat. Coboy – Lingua – ME… Boyband generasi awal 90’an. Kami bertiga sepakat kesini karena rasa kangen akan baju seragam putih abu-abu. Penampil pertama boyband Coboy. Gilbert – Ali – Ponco – Ferry bukanlah terbilang muda lagi. Nggak tahu memang cuma modal tampang saja atau sound yang payah, mereka terlihat kepayahan ketika manggung. Nggak kompak ketika mereka harus nge-dance. Kakek moyang grup SM*SH ini mungkin lebih baik duduk manis dengan keluarga di rumah, karena memang mereka mentas di jam orang beranjak tidur – jam setengah 1 cyiiin… Gilak!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Coboy yang kedodoran

Hanya di lagu “Katakanlah” kita sempat koor berjamaah. Penonton yang rata-rata berusia mapan pun juga seperti larut dalam nostalgia masing-masing.

Performance berganti ke Lingua. Trio vocal bentukan Yovie Widianto ini sudah lama vakum, dan kembali perform malam itu. Frans – Amara – Ari, ketiganya ber-reuni dengan kami semua. Amara masih tetap cantik, walau sudah berkepala 4 dan berbuntut 3… Halaaaah

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Trio Lingua

Beda dengan Coboy, vokalitas trio Lingua masih terjaga apik walaupun tante Amara sedikit keteteran di nada-nada tinggi. Cukup awet mereka menjaga eksistensi mereka di panggung gemerlap artis, buktinya mereka sudah membuat album baru tahun lalu menurut Wikipedia. Lagu “Bila Ku Ingat” menjadi obat kangen tingkat 7 kami malam itu

Bila ku ingat, senyum manismu

Tak kan habis waktu melamun…

Aaah, senyum tante Amara memang manis – enak buat dilamunkan… Jiaaaah.

Penampil terakhir panggung itu adalah M.E (bukan Male Emporium ya). Boy band keluaran 1997 itu menghentak panggung dengan beat lumayan kencang. Sayangnya tidak didukung performance anggotanya yang habis napas. Maklum mereka juga termasuk angkatan Oom-oom senang. Tak bisa dipungkiri kesibukan lain cukup menghapus eksistensi mereka di panggung musik. Setali tiga uang dengan Coboy sebelumnya, mereka terlihat canggung dan nggak kompak. Beberapa nada terdengar fals ketika dinyanyikan. Padahal Denny Saba sudah bergaya rapper ala Kris-Kros

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
M.E – rapper dan performance yang kehabisan napas

Beberapa lagu dari grup ini cukup menghibur – bahkan sempat menyanyikan lagu cover Close To Heaven dari Color Me Badd. Sebagai lagu terakhir tentu saja Inikah Cinta. Well, cukup menghibur para 90’ers malam itu.

Gue beringsut pulang karena sudah jam bergeser ke angka 2 pagi, lanjut ke ketan susu Kemayoran bersama Oom Bayu dan Riko sekedar mengisi perut yang keroncongan. Setelah itu pulang, tidur.

Sampai ketemu di Java Jazz Festival tahun depan… Semoga lebih nge-jazz!!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Amara – Lingua.. Bener kan gue nggak bo’ong; masih cantik dia 🙂
Review singkat:
  • Kualitas artis penampil perlu diperhatikan, karena ini event jazz yaaa perbanyak lah porsi artis jazz. Dan tempatkan panggung mereka lebih manusiawi, bukan di deretan bagian paling belakang. Gantian band-band abegeh di belakang
  • Sound system lebih nendang tahun ini, tata panggung dan lighting kualitas ciamik endess bingo
  • Penampilan Dian PP masih greget, ditambah Elfa’s Singer yang tetap kompak dan kualitas vocal yang tetap terjaga apik. Tante Uci tetap cantik… I love you full!!!
  • Oom Fariz RM, jangan kepeleset lagi di hotel prodeo ya, Oom… Main musik saja lah! Bikin lagu Barcelona jilid II dooong…
  • Barry Likumahuwa… You’re rock, dude!! Makin mengharu biru!
  • Endah N’ Rhesa… Aaah, kalian memang menawan!
  • Level 42… Mau ngomong apa lagi gue!!!
  • Coboy… Hmmm, well – kursus vocal dan nge-dance lagi deh kalau mau saingan sama boyband sekarang… Hahahaha
  • Lingua… Aaah nggak ada komentar lain selain… tante Amara cantik!!
  • M.E… Uuuhuuk!! Inikah namanya cinta, ooh inikah cinta…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s