Gue capek!

Matius 11: 28 – 30

Gue rasa ayat-ayat diatas sudah nggak asing lagi di telinga atau ingatan ketika kita mendengar atau membacanya. Itu adalah ayat-ayat favorit yang sering digunakan untuk memberikan kekuatan kepada saudara seiman ketika mereka sedang dalam masa-masa sulit dan berat.

Dan gue pun setuju dengan statement di atas.

Tetapi beberapa waktu belakangan ini gue diberikan pengertian dan pencerahan yang baru tentang ayat-ayat diatas.

Bahwa setiap orang punya masalah. Setiap orang punya beban. Setiap orang punya masa sukar. Yes, itu tidak bisa dipungkiri. Besar – kecil, susah – mudah itu tergantung kadar atau kekuatan setiap kita dalam menghadapi masalah atau beban tersebut. Kita sendiri yang bisa memutuskan perkara yang sedang kita hadapi itu besar atau kecil, berat atau ringan. Beda orang akan berbeda pula cara pandangnya dalam menghadapi setiap perkara.

Gue pernah berada di posisi yang sangat menyesakkan. Perkara berat bertubi-tubi sepertinya nggak ada habisnya. Badai dan angin puting beliung seakan menjadi teman akrab gue. Dada yang sesak seperti nggak bernapas, pikiran yang penuh dan seperti mau meledak, hati penuh marah membuncah, kondisi fisik yang super duper capek, jiwa yang kalut, tingkat psikologis yang mencapai titik nadir dan air mata yang entah berapa banyak tertumpah. Orang bilang “Lo nggak edan saja sudah untung” itu seperti kalimat yang cukup menghibur gue.

physically-mentally-emotionally-tired-quote-1
I’m DONE

Tapi tetiba gue ingat akan 2 ayat andalan tersebut. Judul dari ayat-ayat itu adalah “Ajakan Juruselamat”. Kalau gue terjemahin bebas, ajakan = tawaran. Gusti Allah mengajak / menawarkan sesuatu. Apa sesuatu itu? Kelegaan. Opo iku kelegaan? Ketenangan. Terbebas dari masalah kah? Nanti dulu… itu penjelasan berikutnya.

Gue punya hak untuk menolak atau menerima ajakan/tawaran dari Gusti Allah itu. Doi nggak bisa paksa gue buat langsung terima ajakan/tawaran begitu saja. Doi memberi gue kebebasan dan begitu menghormati hak gue.

Gue merasa bahwa sudah nggak ada siapapun yang bisa tolong gue. No one can give me the solution anyway. Akhirnya, gue memutuskan untuk MENERIMA (tanpa paksaan) tawaran Gusti Allah. Sambil tetap berhitung dan berpikir apakah sanggup Gusti Allah menolong gue…

(11:28) Kelegaan bicara suatu kondisi yang nyaman dan enak setelah berjalan menempuh suatu jarak dengan membawa beban yang cukup menguras tenaga. Gusti Allah bilang “Marilah (datang) kepadaKu” artinya gue yang membawa beban berat BOLEH (dipersilahkan) datang ke Dia. Gue terima ajakan Dia untuk datang kepadaNYA.

santai
Istirahat

Biasanya ketika kita datang ke teman, saudara ataupun sahabat kita dengan membawa beban/masalah (hidup) yang berat mereka akan sedikit “menutup” diri, mereka takutakan ketularan beban kita. Tapi Gusti Allah nggak gitu – justru dia menawarkan kita untuk datang kepadaNya. Keren ya…

Datang ke Dia untuk apa? Doi bilang lagi “Aku akan berikan kelegaan” . Lhaaa… ini kontradiktif dengan yang ada di sekitar kita. Ketika sekitar kita memberikan beban, justru Dia janji berikan kelegaan. Di Alkitab versi King James malah dibilang “I will give you rest”.

Rest = istirahat dari melakukan apa yang sedang kita lakukan (pikirkan) sekarang. Artinya Gusti Allah memberikan time-out buat kita. Terus ketika “rest” itu kita harus apa?

Time-out/rest = duduk diam dan tenang dalam menunggu janji Gusti Allah (janjiNya memberikan kelegaan); renungkan dan fokus HANYA pada kebaikan Gusti Allah – bukan pada masalah/beban kita.

Ketika kita fokus kepada kebaikan dan kebaikan Gusti Allah, maka janji kelegaan itu akan kita dapat. PASTI.

(11:29 KJV) Take my yoke upon you

Gue lebih suka dengan KJV untuk ayat yang satu ini; bukan karena gue anti dengan bahasa Indonesia ya… Bukan. Gue tetap cinta NKRI… halaaah.

Okay, kita coba lihat “perbedaan”nya – dilihat dari sisi terjemahan bahasa.

Pikullah kuk yang Kupasang == menurut gue kok kurang tepat ya

Okay, begini pencerahan yang gue dapat – dari ayat diatas sepertinya Gusti Allah sudah mengajak kita (28) untuk datang ke Doi dan Doi berikan kelegaan/ketenangan/rest/time-out. Naah di ayat ini (29) setelah kita rest/time-out, kok malah kita diminta memikul kuk yang “DIPASANG” oleh Gusti Allah lagi? Berat lagi dooong, cyiiin…

Ingat, Gusti Allah tidak pernah memaksakan kehendakNYA lho. That’s why gue merasa kalau ayat di KJV lebih pas dari sisi terjemahan bahasanya.

Take my yoke upon you == Ambillah Kuk KU, dan pasanglah

Gusti Allah kembali memberikan penawaran/ajakan. AMBILLAH… Kita diberikan kebebasan memilih. Kalau gue nggak mau gimana? Ya ora opo-opo. BEBAS.

Setelah gue mengambil Kuk NYA, lalu kata selanjutnya adalah “PASANGLAH” – siapa yang pasang? Gusti Allah?? BUKAN… Gue sendiri yang memasangnya. Kalau gue nggak mau? Ya ora opo-opo. BEBAS.

Selalu ingat!! Gusti Allah tidak pernah memaksa.

Ambil dan pasang. Tanpa paksaan Gusti Allah. Dia tidak pernah intervensi keputusan kita, walaupun Dia dapat melakukannya. Mengikut Gusti Allah itu bicara kerelaan.

yoke
Memikul kuk dan berjalan bersama DIA

Gusti Allah bukanlah seorang pribadi yang ketika Dia sudah memasang Kuk-NYA terus Dia tinggalkan sambil teriak teriak “Rasain… Rasain… Rasain”. Nop. He’s not like that.

Apakah selanjutnya beban kita hilang begitu saja? Ya nggak lah. Beban itu tetap ada. Harus kita hadapi. Tetap harus kita pikul. Lhaa terus buat apa setelah kita DATANG, dijanjikan KELEGAAN – terus disuruh PIKUL lagi. What kind of a joke is this?

Gusti Allah bukanlah tim Avengers yang ketika ada masalah kita panggil dan tiba-tiba eng… ing… eng… kelar masalah lo. Bukan begitu.

Nah perkara selanjutnya adalah mulai gue belajar kepada-Nya. 2 ekor sapi akan membajak sawah beriringan dan terkoordinasi dengan baik ketika sama-sama sehati dan selaras mengikuti kemauan tuannya.

Disini artinya Gusti Allah dan gue sama-sama memikul kuk yang tadi sudah gue ambil dan pasang; gue harus belajar untuk lemah lembut dan rendah hati – supaya gue bisa berjalan selaras memikul kuk (beban) yang berat. Sekarang menjadi lebih ringan karena Gusti Allah ada di samping gue memikul beban itu bersama-sama.

Disinilah proses terberat itu terjadi. Ciyus. Segala ego tingkat dewa dan kesombongan tingkat setan secara perlahan dikikis. Menjadi selaras dengan Gusti Allah itulah proses; bukanlah sebuah proses yang singkat.

besi-tempa
Proses penempaan

Ketika gue merasakan sakit, berat, terantuk batu, capek, kesal, air mata – Gusti Allah pun merasakan hal yang sama. Dan ketika gue bisa selaras, sehati dan sejalan dengan Gusti Allah jiwa gue pun mendapatkan ketenangan. Alamaaaak… keren sekali ini!!

—- Sebentar ya, gue nangis sebentar habis nulis paragraph di atas —-

(11:30) For my yoke is easy and my burden is light

Kuk-Nya Gusti Allah itu menjadi ringan karena kita pikul bersama Dia; ikut maunya Gusti Allah. Jangan sak karepe dhewe.

Ikut maunya Gusti Allah itu kita dilatih untuk dapat menanggung beban yang berat; selama itu dilakukan bersama dengan Gusti Allah, beban seberat apapun akan dapat kita tanggung / pikul.

Hingga akhirnya ketika gue bisa melewati/memikul beban yang berat itu bareng Gusti Allah, di penghujung jalan dan gue menengok ke belakang gue hanya bisa bilang “Oooo gitu ta…” tetapi untuk sampai tahap gue bilang “Oooo gitu ta…” bukanlah perkara mudah; diperlukan pengorbanan yang benar-benar rrggggggghhhh (nggak bisa ditulis dengan kata-kata).

Ketaatan bukanlah masalah menyelesaikan sebuah perkara ataupun pekerjaan – tetapi lebih kepada kerelaan (mengikuti proses) ketika kita berjalan pada maunya Gusti Allah.

Siapkanlah dirimu untuk di proses dan selamat menikmati perjalanan bersama Gusti Allah tahun ini. Immanuel. Tuhan Yesus memberkati.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s