Surat Untuk Diriku

“Merasa beruntung itu ada dalam pikiran. Ia berasal dari semacam micro chip yang menempel dalam otak, memberi sinyal pada jiwa agar menyalakan lentera syukur dalam setiap peristiwa. Jadi merasa beruntung bukanlah soal berapa banyak uang yang kamu punya, seberapa jauh perjalanan yang sudah kamu tempuh maupun seberapa besar kamu dicintai” — @burgerk3ju

Bukit Ratapan Angin
Me, myself and I

Pernah nggak sih terbayangkan saat dimana kamu merasa diperlakukan tidak adil oleh semua yang terjadi disekelilingmu dan engkau merasa enough is eough? Engkau menghadapinya atau lari menghindar? Saat engkau memutuskan untuk menghadapinya, siapa pribadi terdekat yang berada di sampingmu? Sahabatmu, pacarmu, teman kantormu atau keluargamu? Atau justru dia yang berada lekat denganmu saat tekanan tiba, ternyata adalah dirimu sendiri. Sadar atau tidak?

Coba jujur deh… ketika tekanan datang, apa yang kamu lakukan? Bersujud mengucap syukur atau malah mengutuki dirimu? Kamu sadar siapa yang engkau hujani dengan sumpah serapah itu? Ia pribadi yang bisa merasakan segala sakitmu, semua kecewamu, semua pedihmu, semua seruan sumpah serapah dan  kutukanmu bahkan hingga jeritan lelahmu. Ia adalah dirimu sendiri.

Pernah nggak kamu bicara dengan dirimu sendiri? Pernahkah kamu meminta maaf padanya? Sekedar berkata “Thank you” atau “terima kasih” kepada dirimu sendiri? Well, jikalau belum pernah, sampaikan semua keluh dan kesahmu padanya saat ini. Dalam rangkaian kata maupun catatan kecil, jika engkau tak keberatan – dan sedang tidak sibuk dengan semua perkaramu.

Surat yang kamu kirimkan untuk dirimu sendiri.

Gue lelah
Aku lelah dan capek sama mulut nyinyir (Foto: stocksnap)

Dear myself,

Hai, apa kabarmu? Apakah kamu baik-baik saja? Aku baik-baik saja saat ini – well, I can say… aku capek kalau boleh jujur (hehehe). Aku capek dengan mulut nyinyir dan ngehek teman-teman di cubical tempat pekerjaan. Mereka selalu ingin tahu urusan orang, sementara aku, masa bodoh dengan urusan mereka. Urus diri sendiri saja ribet dan melelahkan kok masih dipusingkan dengan urusan orang. Tapi mungkin itulah bahagia mereka ya, bro. Kepo urusan orang dan akhirnya mengarang cerita drama untuk dinikmati dengan bumbu fantasi mereka sendiri… hingga orgasme (sigh).

Bro, aku mau jujur sama kamu. Sepanjang perjalanan kita hingga titik dan detik ini, dalam setiap jejak langkah, terasa sangat menyenangkan. Walaupun seringkali kita “tidak sejalan” dan sering beradu argumentasi dalam banyak hal. Ya, kita berjalan asyik dalam kesendirian masing-masing. Sama-sama egois. Sama-sama cuek dan bodoh amat. Well, that’s us by the way.

I’m sorry, bro. Kadangkala aku tak mengindahkan dirimu. Abai akan hadirmu. Jujur, aku harus mengakuinya. Melepasmu berjalan sendiri, sementara aku sibuk dengan pelbagai urusan di sekeliling yang aku alami. Padahal, kau selalu ada disampingku kala aku berada dalam perjalanan maha berat 6 tahun yang lalu.

My best friend
Me and myself (Foto: stocksnap)

Please forgive me, bro. Maafkan aku ya. Aku janji akan ngomong denganmu tentang segala hal yang aku alami. Segala hal. Aku janji. Pokoknya, jika aku lalai dan mulai cuekin kamu, tegur aku ya. Nggak usah sungkan. Ngomong saja, atau lewat WA. Pakai ngambek juga boleh kok. Kamu kan sahabat terbaikku.

Oh ya, bro. Saking dekatnya aku sama kamu, banyak orang bilang kita kayak orang sedang pacaran. Aku sayang dan cinta kamu. Sangat cinta. Kamu adalah cermin dari diriku. Padanan tanpa beda. Diriku sesungguhnya. Aku berdoa, semoga di langkah-langkah selanjutnya yang entah berapa milyar jejak yang akan ditempuh nanti, aku mau kita kembali pada komitmen. Kita jalan bareng, layaknya orang berkasih-kasihan. Saling jujur, saling support, saling mempunyai dan saling mengingatkan.

I accept myself, I forgive myself, I love myself and I am grateful for all my blessings. Love and light for you. You’re truly my partner in crime, buddy

Thank you untuk tutur dan sapa lembutmu, serta mau menjadi “tempat sampahku”. Terima kasih sudah menemani perjalananku sepanjang ini. I won’t forget you, pal!.

Magelang, 7 April 2019

Your partner in crime

Bodo amat deh
It’s definitely me

4 Replies to “Surat Untuk Diriku”

Leave a Reply to jelajahlangkah Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s