Prambanan Dalam Diam

“Listen to the silence. It has so much to say.” – Rumi

Pagi masih sepi, jarum jam menunjuk pukul 06.10 WIBB. Matahari masih condong di ufuk timur; cahayanya menyelusup di sela-sela rimbun pepohonan di tengah taman, membias jatuh ke bumi membentuk garis-garis lurus. Biasanya orang menyebutnya ray of lights, sinar yang selalu diburu fotografer untuk mendapatkan efek memukau pada hasil foto mereka. Aku berjalan berkeliling pelataran taman. Sepelemparan batu jauhnya, terlihat 2 orang anak kecil asyik menendang bola. Salah satu anak yang memakai kaos jersey Barcelona FC bernomor 10, ia tampak sedang mengambil ancang-ancang. Kira-kira 2 depa jaraknya ia berlari dan menendang bola itu dengan keras. Gool!! Teriaknya senang setelah melihat temannya tak mampu menangkap bola dengan baik. Menyenangkan.

Morning Vibes
Ray of Lights

Sengaja aku mengunjungi candi Prambanan kala hari masih pagi. Melangkah ke dalam pelatarannya yang masih sepi dan menikmatinya sementara belum banyak pengunjung. Tak nampak banyak aktifitas kecuali beberapa petugas kebersihan yang sedang menyapu guguran daun. Reruntuhan batu ada di sekeliling candi, membentuk tumpukan batu. Sepertinya sengaja dibiarkan terserak karena beberapa area sedang tahap restorasi.

Sembari duduk di atas batu reruntuhan candi Perwara atau candi-candi pengawal, aku menikmati bangunan candi Siwa dari sepelemparan jarak, bangunan candi utama yang menjulang tinggi hingga 47 meter. Bagaikan seorang raksasa yang berdiri megah diantara gugusan candi-candi kecil disekelilingnya. Ornamen dan kecantikan candi Hindu ini sangat mengagumkan tak tertandingi. Padahal kompleks candi Prambanan sempat terbengkalai karena tertimbun material letusan gunung Merapi di abad ke-10 dan menjadi kawasan hutan lebat selama ratusan tahun. Sejak reruntuhan candi ditemukan kembali dan mulai serius dilakukan upaya pemugaran yang dimulai sekitar tahun 1930-an, Prambanan saat ini merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia dan juga salah satu candi terindah di kawasan Asia Tenggara.

Aku membayangkan seandainya ada mesin waktu, aku ingin melintas jaman, kembali ke pertengahan abad ke-9, di kala orang-orang bekerja membangun candi tersebut. Tentunya mengagumkan melihat kehebatan dan brilliannya pemikiran Rakai Pikatan, seorang raja dari Wangsa Sanjaya yang kemudian diterjemahkannya dalam blue print candi Prambanan. Dengan teknologi yang dipunyainya saat itu, bangunan batu megah dengan segala detail ornamen dan tatahan pada permukaan batu dapat digarap dengan sempurna tanpa cela. Can you imagine that?

Candi Prambanan dibangun sebagai penyembahan kepada dewa Trimurti, 3 dewa tertinggi dalam ajaran Hindu, yaitu Brahma (Sang Pencipta), Wishnu (Sang Pemelihara) dan Siwa (Sang Pemusnah).

Baca juga: Perempuan Yang Dimuliakan Dalam Sebuah Tarian

Aku melanjutkan bergeser menelusuri pelataran candi Siwa, menaiki anak tangga dari sisi timur menuju ke selasar dan berjalan mengelilingi lorong dinding galerinya. Hiasan timbul yang terukir pada dinding batu candi atau relief, menyapaku dengan jalinan kisah Rama dan Shinta. Melakukan pradakshina atau berputar berkeliling candi sesuai arah jarum jam untuk lebih mengetahui alur dan jalinan cerita Ramayana yang berjumlah 42 adegan, sementara 30 adegan sambungannya berada terpisah pada dinding galeri candi Brahma.

Memasuki garbagriha, sebuah ruangan terbesar dimana itu adalah ruangan utama tempat bersemayamnya arca Siwa Mahadewa. Arca Siwa berdiri menjulang setinggi 3 meter di atas lambar bunga Padma (Rafflesia Patma), sementara dibawahnya adalah landasan kotak persegi berbentuk yoni. Agung, penuh wibawa dan perkasa, begitu pikirku saat melihatnya. Batu itu berasa dingin ketika aku pegang. Ruangan gelap tanpa penerangan – hanya pendar sinar masuk dari pintu utama tersebut sebagai penerang. Sementara aroma pengap menguar ke penjuru rongga ruangan besar ini. Siwa, berdiri megah di tengah keheningan dan kesunyian.

Arca Siwa
Siwa, Sang Pemusnah – Agung dalam diam

Menelusuri ruangan di sisi sebelah utara candi Siwa, bersemayam arca Durga Mahisasuramardini, belahan jiwa Siwa. Arca ini seringkali dikaitkan dengan legenda dari Jawa Tengah yaitu Gadis Langsing atau yang lebih masyhur dengan nama Rara Jonggrang. Tak berbeda dengan Siwa, arca Durga ini juga berdiri dalam kesenyapan.

Durga, belahan jiwa Siwa
Arca Durga Mahisasuramardini atau lebih terkenal dengan patung Roro Jonggrang

Beringsut perlahan ke bangunan candi sebelah barat yang tepat berhadapan dengan candi Siwa terdapat arca Nandi, wahana atau tunggangan Siwa digambarkan sebagai lembu yang setia. Lembu Nandi atau juga dikenal sebagai Nandini mempunyai sifat tak kenal takut. Ia juga melambangkan lembu kekayaan dan kemakmuran. Ia dipercaya muncul ketika samudra diaduk saat proses penciptaan alam semesta.

Lembu Nandi
Arca Nandi (Nandini), wahana dewa Siwa

Siwa, Durga, Nandi serta dewa-dewa lainnya yang ditinggikan dalam kepercayaan umat Hindu dan digambarkan dalam wujud arca berdiam dalam keheningan. Dalam kesunyian mereka bersuara. Kadangkala kita memang harus menepi sejenak dari hiruk pikuknya suara-suara un-faedah dunia ini yang memekakkan rongga kepala; berteman dan bertegur sapa dengan kesendirian.

Baca juga: Mencumbu Setumbu

Sekejap melupakan gawai pintar, membisukan suara musik, menjauh dari keramaian dan lebih memilih diam serta memejamkan mata. Pikiran ini perlu dibebaskan berpesiar dalam keheningan untuk kembali dijernihkan. Hening sejatinya selalu ingin bertutur lembut kepada kita, hanya saja kita yang “ndableg” tak mau mendengarkan.

Arca Ganesha
Ganesha, simbol kebijaksanaan, kecerdasan dan kemakmuran. Dewa Ganesha mewakili kekuatan dari Yang Mahatinggi yang menyingkirkan rintangan dan menjamin kemenangan dalam pencapaian manusia.

Keheningan diyakini sangat efektif membantu mengembalikan kemampuan berpikir, meningkatkan daya imaji juga kreatifitas, regenerasi sel-sel otak serta menekan emosi yang berlebih… Supaya kamu nggak ambyar… Hahaha.

Prambanan dalam diam menyampaikan sebuah pelajaran. Tentang bagaimana berperilaku hidup yang seimbang serta bersanding dan memperlakukan manusia lainnya di alam semesta. Sebuah keseimbangan dalam diam.

Trimurti
Trimurti – Mencipta, memelihara dan melebur

Yogyakarta, Januari 2019

3 Replies to “Prambanan Dalam Diam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s