Watugupit, Senja Yang Dirindukan

“Meet me where the sky touches the sea — Jennifer Donnelly”

Mata masih malas untuk melek saat alarm digital dari gawai pintar berbunyi. Pukul 16.00, waktu yang tertera di jam tangan digitalku. Badan ini berasa berat, malas untuk bergeser dari tempat tidur penginapan. Tidur siang yang nanggung. Penginapan bertema hippies di bilangan Timuran, Mergangsan, Yogyakarta masih cukup sepi. Walaupun waktu menunjukkan 2 jam telah lewat dari waktu check in. 2 orang bule, tamu penginapan terdengar sedang asyik ngobrol di kursi depan penginapan. Orang Belanda, begitu pikirku saat mendengarkan logat mereka berbicara.

Dengan malas segera mengemas, memasukkan kamera digital ke dalam tas kecil yang biasa aku bawa. Tas kecil usang yang selalu menemani setiap perjalananku ini berisi kartu ATM, credit card beserta kartu pengenal penting lainnya. Itu memang kebiasaanku, menyimpan kartu ATM di dompet yang terpisah dengan satu dompet lainnya berisi KTP dan uang secukupnya. Sore ini aku berencana menikmati (baca: mengejar) senja.

Watugupit, tujuanku kali ini.

Senja
Senja di batas cakrawala. Memesona (Dok. pribadi)

Watugupit yang lebih dikenal dengan nama hits Bukit Paralayang berjarak kurang lebih 32 Km arah timur kota Yogyakarta. Secara letak geografis bukit ini berada di Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi DI Yogyakarta. Pada awalnya bukit ini hanyalah perbukitan kapur, namun di tahun 1991 diubah menjadi tempat olahraga paralayang hingga sekarang.

Bca juga: Candi Ijo, Senja Yang Berkelas

Motor yang aku tunggangi bergerak dengan kecepatan sedang, menggerus aspal mulus menuju Pantai Parangtritis. Ya, Watugupit berada tak jauh dari pantai Parangtritis. Kamu hanya tinggal menyetel lokasi yang akan kamu tuju di aplikasi peta digital di gawai pintar, maka ia akan segera menunjukkan jalur yang harus kamu tempuh.  Jika tidak muncul maka pulsa internetmu habis, beli dulu sana gih!

Sesampainya di pintu gerbang kawasan pantai Parangtritis, kamu diharuskan membayar tiket retribusi seharga Rp10.000 / orang. Setelah melewati pantai Parangtritis arahkan kendaraanmu menuju jalan ke arah Panggang, jalannya searah menuju ke Queen of The South Resort. Selanjutnya jalanan akan menanjak sangat terjal dengan beberapa lubang di aspalnya. Hati-hati yes, motor atau mobilmu mesti dalam kondisi prima disini. Salah-salah nggak kuat nanjak.

Kamu akan ditarik biaya tiket Rp5.000 untuk memasuki kawasan Bukit Paralayang. Parkir motor Rp3.000. Untuk mencapai puncak bukit kamu mesti meniti anak tangga kurang lebih 500 meter. Ternyata fasilitas di kawasan wisata ini cukup lengkap lho. Selain area parkir juga terdapat toilet, beberapa warung dan mushola. Ada juga kedai berkonsep ruang terbuka dimana kamu dapat memesan makanan ringan sembari ngopi sambil menunggu waktu matahari terbenam.

Baca juga: Catatan Tentang Senja di Istana Ratu Boko

Aku memilih bergegas ke puncak bukit untuk mencari tempat, logistik sudah aku bawa setelah mampir sebentar ke toko swalayan sebelum ke tempat ini. Lumayan, ngirit. Dasar backpacker. Hihihi.

Kembali ke peraduan
Menjelang ditelan samudera. (Dok. pribadi)

Ternyata di puncak bukit yang rapi ter-paving block itu sudah ramai dengan orang-orang berniat sama denganku. Menikmati matahari lingsir. Aku lupa, ternyata hari itu adalah akhir pekan. Pantas saja ramai mirip pasar.

Watugupit dengan ketinggian 900 mdpl menjadi salah satu spot terbaik menikmati keindahan deretan pantai Selatan. Berjajar dari Timur kamu akan menemui keelokan Pantai Parang Endog, Parangtritis, Parangkusumo hingga Pantai Depok di kejauhan.

Sayangnya, aku tidak menemukan para atlit paralayang yang tengah latihan. Jika beruntung, kamu dapat ikut menikmati paralayang bersama pemandu professional lho. Kamu dapat memacu adrenalin dengan menebus mahar senilai Rp300.000 – Rp400.000. Nilai yang sepadan lah yes!

Baca juga: Ambarawa, Senja Tak Terencana

Sore itu senja menampilkan orkestra yang memesona. Semua orang, termasuk aku, menikmati kala matahari berubah warna menjadi oranye berlatar langit yang masih berwarna biru. Sepanjang mata memandang ke bawah, terlihat garis pantai yang panjang seperti tak berujung berhias ombak berkejar-kejaran. Sang Rawi perlahan lingsir di cakrawala Barat, seolah ditelan Samudra Indonesia. Benar-benar mendamaikan. Hembusan angin senja di atas bukit seolah membelai raga. Menyegarkan.

Matahari lingsir
Sang Rawi lingsir di ufuk Barat. Sempurna (Dok. pribadi)

Kamu, wanita bermata sipit dan berambut sebahu, bergelayut manja dibahuku. Menyandarkan dagu di pundak sambil memandang lepas ke batas cakrawala. Aku dapat mendengar ritme teratur napasmu di leherku. Hmm we had  great time. Uhuuy!

“Sampai kapan kamu akan mengejar senja?” tanyaku.

Pandangan mataku tak lepas dari langit yang tampak jingga, pertanda senja yang sekejap itu mulai terlihat. Kamu, wanita bermata sipit dan berambut sebahu, hanya tersenyum. Tanganku kau genggam lebih erat.

Watugupit, senja yang sempurna… dan dirindukan.

Yogyakarta, Agustus 2019

7 Replies to “Watugupit, Senja Yang Dirindukan”

  1. Ternyata sekarang namanya Watugupit. Dulu senior-senior pemanjat tebing yang sering manjat di tebing Parangndog cuma nyebut ini Helipad atau Helipad Parangndog. Abis manjat, mereka pasti nyempetin buat lihat sunset di sini. 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Rifqy Faiza Rahman Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s