Pada Sebuah Kedai Kopi Selepas Hujan

“A bad day with coffee is better than a good day without it”

Hujan barulah reda setelah puas mengguyur kota Jakarta dengan lebatnya menjelang sore hari ini. Waktu menunjukkan kurang 5 menit menjelang setengah enam. Saatnya untuk pulang dari hiruk pikuk kerjaan kantor yang kali ini cukup slow. Beberapa materi dari assessment produk Property Management System berbasis cloud baru aku tengok setelah sekian hari pemberitahuan terkininya lewat surat elektronik masuk ke inbox-ku.

Jalanan masih basah dengan sisa air yang menggenang di beberapa petak aspal jalan. Sedikit air masih jatuh dari langit walaupun tak begitu deras.

“Sebentar lagi pasti reda, “ pikirku sambil melajukan motor keluar dari area parkir motor.

Mendung

Motor aku lajukan menuju kedai kopi langganan yang letaknya tak jauh dari kantor. Telah beberapa kali aku ngopi di sini. Kedai yang tak begitu besar dengan auranya yang nyaman. Tempat ini bersebelahan dengan penginapan dan juga sebuah restoran makanan Jepang.

Aku mengambil tempat duduk di pojokan bersebelahan dengan jendela kaca berbingkai kayu bercat hijau. Titik-titik air sisa hujan terlihat masih menempel di kaca.  Sepertinya air hujan yang tadi mengguyur tempyas di jendela itu.

3 orang dengan masing-masing membuka komputer jinjingnya terlihat khusyuk. Bertiga mereka duduk mengelilingi sebuah meja bundar. Sepertinya mereka tengah berdiskusi dan ada yang dikerjakan sembari berembug. 2 gelas kaca terlihat berisi setengah cairan berwarna coklat dengan 1 cangkir kecil berada di atas mereka.

Entah apa yang dipesan mereka, aku tak mau tahu.

Draft & concept

Sementara pesanan es kopi Japanesse-ku baru diantar mas barista ke mejaku. Aroma kecut segar segera menguar memenuhi indra penciumanku saat gelas server kopi aku guncangkan memutar. Mengecapnya dengan indra perasa dan meneguknya memenuhi rongga mulut.

Nyaman sekali.

Mataku menerawang menembus jendela kaca kedai kopi yang berembun. Cuaca di luar sedang merayap menuju gelap. Lampu-lampu gedung pencakar langit mulai menghiasi langit mendung. Jalanan kecil di depan kedai kopi masih menyisakan basah. Tukang parkir memberi aba-aba pada 2 mobil yang akan keluar hampir berbarengan dari area parkir.

Menyenangkan saat melihat aktifitas beberapa orang dengan kesibukannya masing-masing. Sementara aku secara sengaja memelankan langkah dan mengambil jeda barang sejenak.

Ice Japanese, French fries & sausage

Pintu kedai terbuka setengah lebar dan ujung mataku menangkap seorang melangkah memasuki kedai. Ternyata kamu, kekasihku yang dengan senyum merekah menghampiri. Duduk bersebelahan denganku dan meneguk satu dua sesapan kopi dari gelasku. Enak kopinya katamu.

Hujan tak lagi turun. Berdua kami melangkah keluar kedai. Pulang. Menuju rumah. Berdua di atas motor.

Tanganmu melingkari pinggangku. Berpeluk mesra. Menembus kemacetan ibukota yang tak beradab.

Kopiku sore ini rasa-rasanya tak butuh gula. Hadirmu di sampingku telah membuatnya menjadi manis… Eeeaaaa.

Meanwhile Coffee, Jakarta – Juni 2022

2 Replies to “Pada Sebuah Kedai Kopi Selepas Hujan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: