From Djogdja With Love – Part 2

Day 2: 10/3/2016The Seven Magnificent Beaches

Deringan telepon pintar gue membangunkan mata yang masih setengah nyawanya kumpul. Tepat jam 3.45 dini hari. Rencana tepat jam 4.00 kami jalan terpaksa molor hingga 30 menit karena beberapa kendala. Setelah mengambil early breakfast kami di hostel yang kami makan sembari jalan, motor melaju menembus dinginnya subuh kota Jogja. Setelah sempat berhenti sebentar di mini market membeli perlengkapan logistik, motor gue lajukan dengan cepat ke arah Wonosari – Gunung Kidul.

Ini pengalaman pertama gue naik motor subuh-subuh ke daerah sini, sebelumnya pernah ke sini hanya berbeda mode transportasi. Jalan yang berliuk-liuk naik turun ditambah gelap dan berkabut sedikit menghambat laju motor gue. Kaca helm sempat basah kena embun pagi yang memang cukup pekat itu. Lampu motor nggak sanggup menembus jauh kabut, terpaksa berjalan lebih hati-hati. 2 ½ jam gue tempuh jarak Jogja – Gunung Kidul, sementara niat kami nge hit sunrise di pantai hilang begitu kami melihat matahari sudah agak tinggi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sunrise pantai Drini

Masuk pintu gerbang area pantai, kami ditarik mahar IDR 10.000 / orang. Gue pikir tarif ini sangatlah murah, karena disini ada puluhan pantai yang bakal memanjakan mata dan jiwa kita. Suer!!

Motor gue belokkan ke arah pantai Drini sebagai tujuan pertama kami pagi itu. Deretan perahu yang tertambat di pantai, deburan ombak pantai Selatan yang cukup tinggi serta angin laut menyibak dan menerpa wajah gue. Aaaah… bau yang sangat gue rindukan!

Duduk sebentar di pasir pantai menikmati hangatnya sinar matahari pagi Drini. Dengan bertelanjang kaki menyusuri nikmatnya pasir putih pantai. Di sisi kanan ada tebing tinggi menjorok ke arah pantai dan bisa kita daki. Sengaja naik ke tebing ini untuk mengambil foto dari atas. Puas di atas tebing, kami berlanjut ke sisi kiri pantai, ada beberapa gazebo di pinggir pantai yang kita bisa istirahat disana.Kami hanya menyayangkan nggak bisa datang lebih pagi, bayangan kami pasti lebih indah menikmati pantai Drini kala matahari timbul.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pantai Krakal

Puas bermesraan dengan pantai Drini, perjalanan kami lanjutkan ke pantai Krakal – pantai yang cukup terkenal itu menyimpan berjuta pesona tersendiri. Pengelolaan di pantai ini lebih bagus dibandingkan pantai Drini, mungkin karena faktor pantai ini lebih nge-hits di mata turis. Gue hanya mengambil beberapa shot foto disini, dan berlanjut ke pantai Slili. Perjalanan dari Krakal ke Slili ini hanya 5 – 10 menit. Ternyata pantai Slili ini adalah terusan dari pantai Krakal. Buktinya gue masih bisa melihat tulisan “Welcome to Krakal” di salah satu tebing pantai Krakal.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pantai Sundak nggak kalah keren!

Berlanjut ke pantai Sundak. Buat gue personal, pantai Sundak lebih dapat gue nikmati keindahan – keangkuhan bahkan keagungannya. Pantai ini begitu menantang dan mempesona – ditambah gue naik ke tebing yang cukup tinggi, 30 meter diatas bibir pantai – dengan tracking yang cukup terjal. Badan basah kuyup keringat campur air laut, dehidrasi tetapi tetap happy. Mengoyak adrenalin…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pantai Slili membuat ku menepi

4 pantai belumlah memuaskan dahaga kami berdua akan perjalanan menguras adrenalin ini. Pantai selanjutnya adalah pantai Pulang Sawal atau yang lebih nge-hits dengan nama panggung pantai Indrayanti. Di kalangan netizen pantai ini cukup menghebohkan, dan demi memuaskan rasa penasaran kami berdua sengaja mendaratkan kaki di pantai ini. Ketika kami sampai di pantai ini sudah cukup siang, sekitar pukul 11.00. Setelah sempat kesasar salah arah… hahahaha. Cuaca cukup terik. Panas. Menghitam warna kulit. Air mineral yang kami bawa sudah menipis, dengan terpaksa kami menepi ke sebuah warung makan dan memesan nasi pecel komplit sebagai pengisi perut. Pecel ini berhasil menggelontor perut kami dengan sukses. Kenyang. Ditambah es teh manis sebagai pelepas dahaga. Aaaah… nikmat sekali. Berasa di surga.

Hiasan payung warna-warni pantai Indrayanti menjadi pesona tersendiri ditengah teriknya cuaca Gunung Kidul siang itu. Selesai di Indrayanti, kami mengarahkan motor kami ke arah tujuan kami selanjutnya pantai Pok Tunggal. Perjalanan ke Pok Tunggal cukup menguras tenaga, karena jalan ke arah pantai tidak semulus pantai-pantai sebelumnya. Di 5 pantai sebelumnya pantai hanya beberapa meter dari jalan besar, sementara Pok Tunggal masuk ke tekape sekitar 1 km dengan kondisi jalan sedikit terjal. Di beberapa bagian masih berbatu. Memang sih sudah bentuk semen cor mengikuti lebar ban mobil, hanya saja tidak mulus. What the heck, kami hanya mau menguras adrenalin kami. Perduli amat sama jalanan berbatu – kalau mau jalanan mulus mending piknik di tengah kota. Hahahaha…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pantai Pok Tunggal

Pantai Pok Tunggal nggak kalah pesonanya dibandingkan pantai lainnya. Hanya saja imajinasi kami tentang pantai ini berbanding terbalik dengan foto-foto yang bertebaran di dunia maya. Ciri khas pohon yang terkenal dengan sebutan “Pok Tunggal” itu tidak seindah yang kami bayangkan. Mengapa? Karena pohon itu sekarang meranggas, dan menyisakan sedikit dahan dan rantingnya – dan disampingnya sudah dibuat jalan yang membuat ruang pohon itu menjadi sedikit berkurang keindahannya. Kami lebih tertarik naik ke atas bukit di sebelah kanan area pantai. Naik ke bukit dengan jalanan lumayan terjal memaksa kami berjalan berhati-hati, ditambah terik matahari. Joss… komplit lah menguras adrenalin. Ada satu bukit batu yang cukup tinggi disini, sayangnya gue nggak boleh ke situ karena itu adalah tempat menaruh sesajen buat “Sang Mbaurekso” pantai Pok Tunggal. Takut dibilang kurang ajar dan kualat gue… Hehehehe

 

Kelar dan puas foto-foto di Pok Tunggal, kami berdua sepakat bergeser ke tujuan akhir kami pantai Timang.IMG-20160315-WA0014

Rute perjalanan kami ke pantai Timang ini adalah puncak dari “Adrenalin Rush” kami hari ini. Benar-benar menguras tenaga, pikiran dan teknik menguasai motor tingkat advance. Cukup menantang jalanan ke sini. Lepas dari jalan aspal berliuk-liuk, kami langsung disambut jalanan berbatu terjal sepanjang kurang lebih 1 km. Tanjakan dan turunan tajam berbatu terjal sungguh menguras tenaga gue yang pegang kemudi. Sempat beberapa kali hampir jatuh karena nggak bisa kuasai laju motor. Ada satu turunan/tanjakan yang gue namakan “Tanjakan Iblis” – karena saking susahnya menghandle motor disitu. Untungnya motor yang kita sewa ini walaupun bermesin matic, tetapi tongkrongannya macho seperti motor trail – sehingga agak nyaman melibas medan rumit begini. Gue nggak bisa bayangkan seandainya kesini pas hujan, pasti akan sangat licin dan berbahaya. Sisi jalan terjal berbatu ini adalah sedikit tebing dan tanah berketinggian 5-10 meter. Edaaaan… Hahahaha

Selesai di “siksa” di Tanjakan Iblis, jalanan turun dan curam kembali menghadang motor gue. Hanya saja bentuk jalanan sudah di-cor semen dan beton. Libas cyiiin… Kurang lebih jarak ke pantai 500 meter. Ooo ya, mobil tidak bisa masuk ke area sini, tapi jika naik mobil berpenggerak roda 4 sangat mungkin sampai ke pantai. Jangan harap naik mobil sedan ke tempat ini… dijamin rusak hancur. Hahahaha…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tebing pantai Timang, berlakang belakang gondola

Di pantai Timang ini laksana kami melakukan ujian EBTANAS dalam perjalanan “Adrenalin Rush” kali ini. Ujian kesabaran, tenaga, fisik dan teknik menyetir motor yang oke semuanya dipadu dengan adrenalin menggelegak menantang. That’s what we need to keep us ALIVE! Hahahaha…

Satu kata yang terbersit ketika gue memutuskan ke pantai Timang. GONDOLA. Hahahaha… icon paling nge-hits di pantai ini harus gue coba. Puncak dari “Adrenalin Rush” sepanjang hari itu. GONDOLA. Yak!! Tepat. Nggak rugi rasanya gue membayar mahar IDR 150.000 hanya untuk memacu adrenalin gue hingga puncaknya, setelah sebelumnya berdoa menyerahkan diri gue ke Big Boss. Bermasturbasi dengan alam liar – kali ini dengan pantai Timang. Energi yang terkuras habis sepanjang perjalanan, keringat bercucuran membasahi kaos ditambah kulit yang menghitam akan sempurna menggelegak puas ketika sensasi kengerian, teriakan dan lonjakan adrenalin bercampur di tubuh ini. Sempurna. Perfect. F**king awesome!!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gondola!!  F**king awesome!!

Perjalanan sepanjang 100 meter dengan ketinggian 9-12 meter, dipadu ombak menggelegar angkuh di bawah – menambah sensasi mempesona. Hilang sudah bahaya kengerian, hanya ada wajah terpancar puas. Terpuaskan oleh alam liar. Matur nuwun, Gusti Pangeran.

Informasi saja, gondola ini ditarik oleh 5 orang di satu sisi. Booking untuk naik bisa langsung on the spot. Ada guide di seberang sana yang berangkat sebelum kita naik. Tidak ada batasan berapa lama kita di seberang, mau seharian juga boleh.Ketika Via gue tawarkan naik gondola ini, dengan yakin dia menolaknya. Takut katanya. Dia cukup jadi cheerleader gue… hahahaha.

Tepat jam 3 sore kami memutuskan berjalan pulang ke Jogja. Petualangan belum berakhir. Ujian menghadang di “Tanjakan Iblis”, ketika beberapa kali motor yang kita tumpangi hampir saja nyusruk ke semak-semak… Hahahaha… Walaupun akhirnya bisa kami lewati. Jalanan basah sehabis hujan sedikit memaksa gue nggak bisa memacu motor dengan kencang, cukup licin. Hasrat berfoto di tulisan “GUNUNGKIDUL” terpaksa kami batalkan – banyak alay disana, cyiin. Malas.Sampai di Jogja kira-kira jam ½ 7, kami menepikan motor untuk sekedar mengunyah nasi kucing dan beristirahat sejenak. Kelaparan.

Balik ke hostel. Istirahat dan mandi, selanjutnya kami menuju “Angkringan Kopi Joss” menikmati malam terakhir di Jogja sambil mengurai cerita pengalaman kami hari itu. Petualangan yang menguras adrenalin. Pulang ke hostel. Tidur. Besok pagi kami bakalan nge-hit ke Punthuk Setumbu, bercengkerama dengan alam dan menikmati Sang Surya timbul di bukit sambil bermesraan dengan aura keagungan candi Borobudur.

Malam itu gue tidur dengan senyum di wajah, masih teringat cantiknya 7 bidadari… eeeh 7 pantai yang berhasil “bercinta” dengan gue… Ahahahaha

Selanjutnya… Punthuk Setumbu yang tertunda, Pasar Semawis ceriwis
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s