July Boy, Pejantan Tangguh

Pagi itu matahari belumlah tinggi di ufuk timur. Dia masih malu menampakkan dirinya menyapa bumi. Tetapi saya sudah beranjak dari tempat tidur bale-bale di penginapan, berjalan menyusur koridor hotel yang cukup besar. Hingga akhirnya berada di bibir pantai berpasir yang sudah cukup ramai dengan orang berhilir mudik dengan aktifitasnya masing-masing.

Saya membiarkan kaki saya bertelanjang tanpa alas. Pasir pantai Ayer yang berwarna kuning kecoklatan itu saya biarkan menyapa telapak kaki. Setelah sedikit merasakan hempasan ombak, saya beringsut pergi menyusur pantai hingga sepeminuman teh. Cukup jauh. Mungkin kisaran 1 km. Sesekali saya berjalan cepat hingga berlari kecil. Keringat mulai membasahi tubuh, hingga saya harus berhenti sebentar demi satu dua teguk air mineral.

Sesosok lelaki berkulit sedikit legam tampak menghampiri saya, ketika saya beristirahat duduk diatas pasir pagi itu. Berperawakan cukup tinggi kurus dan berkacamata hitam serta bercelana pantai, dia menawarkan saya jasa persewaan alat permainan di pantai. Memang di sekitar pantai Anyer terdapat banyak permainan air seperti banana boat, motor ATV, jet ski ataupun para-layang.

“Mari, mas. Naik banana boat. Atau mau paralayang juga boleh,” dia menawarkan jasanya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bukan penjaga pantai

Sembari tersenyum saya menggelengkan kepala. Saya tak menghiraukannya. Mata saya masih menikmati batas horizon lautan di depan saya. Lelaki itu tampak bergeming di samping saya. Kali ini sambil berjongkok di samping saya.

“Ayuk, mas. Naik jet ski juga boleh kok. Mumpung masih sepi, nih. Buat penglaris saya,” tawarnya sekali lagi ke saya.

Sayapun terpaksa sekali lagi menolak jasanya. Kali ini saya menatap wajahnya. Matanya masih tertutup kacamata hitam.

“Nggak, mas. Saya mau menikmati pantai dan deburan ombaknya. Mumpung masih belum ramai,” balas saya.

Rupanya lelaki ini belum menyerah. Dia mengeluarkan sebuah map yang berisi foto-foto dan brosur jasa layanan persewaan kapal dan permainan pantai lainnya. Demi melihat foto-foto yang berisi orang sedang menyelam di kedalaman laut, sayapun tertarik untuk berbincang lebih dengannya. Diapun akhirnya duduk di samping saya. Lelaki ini tampak antusias menceritakan dengan detil setiap foto-foto yang ada di dalam map. Lelaki yang akhirnya saya kenal bernama July Boy. Entah itu nama asli atau hanya nama panggilan.

“Saya dan teman-teman disini membuka jasa persewaan ini sekitar 2 tahun lalu, mas. Jadi semua jet ski, banana boat, parasut untuk para-layang itu punya bos yang disewakan. Kami bergantian menjaga dan mengelolanya. Ada sejumlah setoran yang harus kami bayarkan ke empunya,” katanya membuka pembicaraan.

Matahari pagi tampak menyembul dari balik awan. Memang pagi itu cuaca agak sedikit berawan, sesuai dengan perkiraan cuaca yang dibacakan reporter yang cantik di warta berita semalam (apalah ini… nggak penting banget. Hahaha)

“Saya juga bisa melayani sewa kapal dan snorkeling di pulau Sangiang. Kalau ke sana lebih baik serombongan karena sewa kapalnya jadi lebih murah. Panorama di sana bagus lho, mas,” katanya menambahkan sembari menunjukkan beberapa foto panorama pulau dan bawah lautnya.

Pulau Sangiang sendiri terletak di Selat Sunda berjarak kurang lebih 10 km dari pantai Anyer. Butuh waktu kurang lebih 45 menit menuju ke sini, dengan menunggang kapal atau perahu bermotor. Kekayaan alamnya berupa pantai yang cukup eksotis dan terumbu karangnya. Foto-foto yang ditunjukkan July cukup membuktikannya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
July Boy

Perjumpaan dengan July pagi itu berubah menjadi perbincangan yang hangat. Cerita berkisar dari pengalamannya menjadi tukang sewa peralatan di pantai hingga masa lalunya yang ternyata cukup menarik buat saya. Bahkan boleh dikatakan cukup kelam.

“Pantai Anyer ramai hanya waktu akhir pekan saja, mas. Juga seperti sekarang, musim liburan juga ramai. Penghasilan saya sendiri tidak menentu tiap minggu. Kadang dapat banyak, kadang sedikit. Tergantung dari pengunjung saja. Juga tips dari wisatawan. Lumayan buat menyambung hidup,” jelasnya sambil tersenyum.

Jelas sekali saya melihat senyuman yang getir. Lebih getir dari secangkir kopi sachet murahan yang membasahi tenggorokan saya pagi itu.

July Boy, ternyata mempunyai pengalaman yang getir dalam perjalanan hidupnya. Dia ternyata tidak pernah lulus sekolah dasar. Hanya sebentar mengecap bangku sekolah, begitu tuturnya. Sedari kecil sudah akrab dengan yang namanya laut dan semasa remaja sudah harus menjadi tulang punggung keluarganya dengan bekerja di pinggir pantai. Ayahnya, sudah lama meninggalkan keluarganya demi menikahi wanita lain. Itulah yang memaksa dia untuk bekerja semasa kecilnya.

“Saya pernah menikah, mas. Hanya saja sudah pisah dengan istri saya,” katanya dengan suara parau tertahan. Kacamatanya dinaikkan ke atas dahinya. Saya dapat melihat tatapan matanya kali ini. Tatapan mata yang menerawang jauh. Tatapan mata penuh kekecewaan.

beach

“Kenapa mas July pisah dengan istrinya? Meninggal?” selidik saya sambil mengaktifkan mode rekaman di gawai saya. Saya takut memori di otak saya tidak mampu merekam setiap omongannya, yang sudah pasti ini akan memakan waktu pembicaraan yang cukup lama.

“Waktu itu saya menikahi seorang gadis, mas. Saya yakin sekali bahwa gadis yang saya nikahi waktu itu adalah seorang yang baik. Dia tinggal di pesantren dan orang tuanya juga baik. Kamipun menikah direstui kedua orang tua kami. Waktu berjalan hingga 40 hari, saya belum pernah bersetubuh dengan istri saya. Setiap kali saya mengajak berhubungan badan, dia selalu menolak dengan macam alasan,” jelasnya sambil sesekali menyeka dahinya berkeringat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Saya dan July, si pejantan tangguh

“Baiklah, mungkin dia memang sedang tidak enak badan atau sedang datang bulan. Tapi anehnya kok sepertinya lama sekali. Hingga akhirnya dia mengeluh kalau perutnya sakit. Saya bawa ke dokter, dan ketika hasilnya keluar saya diberikan ucapan selamat oleh dokter. Katanya istri saya hamil.”

Suaranya seperti tercekat di kerongkongan. Tampak sebulir air di ujung kelopak matanya yang sebentar lagi akan jatuh. Sayapun maklum melihat dia diam. Sayapun menghela napas panjang, bisa merasakan betapa kecewanya mas July. Menurut penuturannya sang istri ternyata sempat berhubungan badan dengan mantan pacarnya, sebelum menikah dengan July. Dan ternyata anak didalam kandungan istrinya itu adalah anak hasil hubungan mereka. Mas July sangat hancur hati. Tak dinyana istrinya berkelakuan sekejam itu kepadanya.

Mendengar penuturan mas July, dengan detilnya dia menceritakan kisahnya. Kisah memilukan sekaligus menjadi pelajaran berharga di hidupnya. Saya sempat bertanya dalam hati, apakah tidak ada setitik keadilan di hidupnya? Menilik kisah perjalanan hidupnya yang cukup keras diterpa segala macam masalah – apakah tidak ada ruang bagi angkara, untuk sekedar berteriak mengadu kepada Sang Alam yang mengatur semuanya. Tidakkah ada sedikit ruang untuk kebahagiaan dirinya, walau cuma sebentar?

“Mas July, pernah complain nggak ke Gusti Allah tentang hidup mas. Kok sepertinya sejak kecil selalu nggak pernah hidup senang?” tanya saya menegaskan.

July menimpali saya dengan pernyataan yang mengejutkan.

“Orang hidup itu sudah ada garisnya, mas. Mungkin buat saya sekarang yang ada harus saya jalani. Pahit ataupun manis menjadi pelajaran buat saya. Saya nggak pernah complain ke Yang Punya Hidup. Saya tetap ikhtiar, berusaha ikhlas dengan yang terjadi. Semesta tahu akan waktunya. Saya pasti akan bahagia, entah kapan itu,” jawabnya sambil tersenyum lepas.

Makjleeb. Saya seakan tertempelak dengan keras di kepala saya. Jelas terngiang apa yang dikatakan July kepada saya. Seakan merasa hebat, tetapi sepertinya saya harus kembali menunduk. Tunduk kepada semesta yang mengatur waktu terbaik bagi umatnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Nomor kontak mas July – silahkan hubungi kalau main ke Anyer ya

“Sekarang ini saya hanya berbuat yang baik, mas. Yang terbaik buat saya, buat keluarga saya, buat teman-teman saya di sini. Cari rejeki yang ikhlas, tidak ngoyo cari duit. Karena rejeki itu tidak pernah salah.” imbuh July dengan senyumnya merekah. Kali ini tidak saya temukan lagi butiran air di pelupuk matanya. Suaranya tegas dan mantap, seakan masa depan sudah ada di genggaman tangannya.

Kembali saya merasa seperti ditempeleng kedua kalinya, kali ini lebih keras. Saya menepuk pundaknya dan mengucap terima kasih atas ceritanya. Cerita yang sudah dipendamnya sekian lama, dan saya percaya tidak semua orang pernah mendengar kisah tegarnya ini. Dan saat ini, lewat ketikan jari saya di keyboard laptop – lewat koneksi internet yang stabil, saya bisa membagikan kisah ini. Kisah yang saya harap bisa menjadikan inspirasi bahwa ada orang “gila” di sana, yang bertahan dalam hidupnya. Mengukir cerita untuk bisa dibagikan dan menjadi semacam perenungan buat semuanya. Perenungan untuk menjadi makhluk yang lebih baik dari hari kemarin.

Mengucap terima kasih atas kesempatan yang diberikan Gusti Allah, masih bisa belajar dari seorang pejantan tangguh bernama July Boy.

Saya beringsut pergi menjauh, meninggalkan tapak-tapak kaki saya di pasir pantai Anyer.

Matur nuwun, mas July. Matur nuwun Gusti…

*Ketika cerita ini saya tulis, mas July Boy saat ini sudah punya pacar lagi dan bersiap untuk meminang sang wanita. Semoga lancar jaya, mas July…

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s