Mewangi Kampung Pelangi

Ketika menyebut nama kota Semarang, apa yang seketika terlintas di benak anda? Lunpia. Tepat. Kita sepaham, karena memang lunpia merupakan ikon makanan khas kota ini. Selain lunpia, Semarang terkenal akan Lawang Sewu, Tugu Muda, kawasan Simpang Lima, bandeng presto dan masih banyak lagi. You name it.

Tetapi ada satu tujuan wisata baru di kota kelahiran saya ini, namanya Kampung Pelangi. Ya benar, kampung ini memang sedang menjadi berita hangat di beberapa media online ataupun media sosial, bahkan sudah mendunia. Total saat ini rumah yang sudah berubah kelir seperti warna bianglala ini mencapai 240 dari total 390 rumah di kawasan ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kampung Pelangi, Semarang

Project I Kampung Pelangi ini sudah dimulai 3 bulan sebelum lebaran tahun 2017 lalu; saya percaya pekerjaan pengecatannya langsung tancap gas alias di-kebut. Kampung Pelangi berada di kawasan yang terkenal dengan sebutan Gunung Brintik – tepatnya di kampung Wonosari, kelurahan Randusari, kecamatan Semarang Selatan. Semasa saya masih bermukim di Semarang, kawasan ini dulunya terkenal dengan kawasan kumuh. Penduduknya mayoritas adalah pengangguran – banyak yang menjadi pengamen ataupun tukang palak. Kebetulan saya punya teman semasa sekolah yang tinggal di daerah tersebut, dan memang dia tukang ribut di sekolah… hehehehe.

Bulan Agustus ini menurut rencana tahap ke II akan segera dimulai, hanya saja sampai saat ini belum ada kabar tepatnya kapan akan kick off lagi. Pagi itu selepas saya jogging di kawasan Tugu Muda, menyempatkan diri mampir ke Kampung Pelangi. Saya bertemu dengan Pak Kaswadi, seorang pengrajin pot yang menemani saya sekedar menyesap secangkir kopi di sebuah warung. Bapak ini sudah tinggal di kampung ini sejak 1980an.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Seorang anak sekolah melintas di tembok ber-mural

“Menurut berita, pemerintah kota sudah mengucurkan dana hingga 3 milyar Rupiah untuk pembangunan kampung sini, mas. Itupun sampai saat ini masih belum rampung.” Pak Kaswadi menjelaskan sambil menghisap dalam rokok kreteknya.

“Waah, dana yang cukup fantastis pak, “ jawab saya.

“Benar, mas. Beberapa rumah malah rencananya akan dibedah dulu sebelum di-cat. Ada beberapa rumah yang masih kumuh, akan dirombak bagian atapnya. Baru kemudian dilanjutkan dengan pengecatan di bagian luar rumah. Sementara bagian dalam dibiarkan seperti apa adanya, otentik.” tambah Pak Kaswadi.

Saya pikir ini tentunya termasuk dalam strategi pemerintah kota untuk menyeragamkan penampilan kawasan ini. Cukup bagus.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalananpun tak luput dari mural

Beberapa fasilitas penunjang kawasan tujuan wisata mulai dibangun. Menyusul toilet yang sudah ada sebelumnya, saat ini sedang dikerjakan lahan parkir yang cukup luas, tempat istirahat untuk pengunjung dan juga pusat kuliner. Sepertinya pemerintah kota Semarang cukup serius menggarap kawasan ini sebagai ikon baru wisata.

“Masalahnya adalah sekarang ini jalan suka macet jika Kampung Pelangi sedang ramai pengunjung, pak,” kata saya menandaskan.

“Benar, mas. Makanya sekarang sedang dibangun itu dibagian sana,” tunjuk Pak Kaswadi. Jarinya menunjukkan kepada saya sebuah lahan yang sudah mulai dikeruk dan diratakan.

“Nanti sungai di bawah itu akan dikeruk juga. Dan ditempatkan perahu-perahu supaya pengunjung bisa menikmati wisata air.”

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Seorang warga yang sadar akan kebersihan, buang sampah pada tempatnya

Saya jelas paham apa yang dimaksud Pak Kaswadi dengan kali atau sungai itu. Kali yang terkenal dengan nama Kali Semarang itu memang mengalami pendangkalan yang hebat. Bahkan boleh dikatakan kali itu dalam tahap “sakit parah” dan berbau tidak sedap.

Konsep kampung pelangi ini bukanlah yang pertama kali ada di Indonesia. Sudah ada 9 daerah yang mengambil konsep kampung warna-warni atau pelangi. Sebut saja nama kp. warna warni Jodipan di Malang, desa wisata Bejalen – Ambarawa, kp. warna-warni Code – Yogyakarta, kp. Kelir di daerah Kroman – Gresik, kp. Penas di Cipinang Selatan, kp. Wisata Lubuk Linggau, kp. Wisata Teluk Seribu – Balikpapan, kp. Kali Lo – Banyuwangi serta kp. Bulak – Kenjeran di Surabaya. Segera menyusul kemudian yaitu sebuah kampung di lembah Tidar – Magelang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jika cuaca cerah, anda akan beruntung melihat gunung-gunung di batas horison

Pembangunan kawasan wisata seperti Kampung Pelangi di Semarang ini sudah barang tentu akan mengubah penampilan dari wajah kumuh menjadi lebih berseri. Lebih kekinian dan Instagramable. Ini  akan menjadi suatu perubahan yang lebih baik, dilihat dari sisi meningkatnya taraf hidup masyarakat yang ada di kawasan tersebut. Pendapatan meningkat  yang berujung pada naiknya tingkat kesejahteraan. Dari sisi bisnis pertanahan, jelas akan meningkatkan harga tanah atau rumah di kawasan ini. Padahal sebelumnya, siapa yang melirik kawasan kumuh ini.

Hingga saat ini untuk masuk ke dalam kawasan wisata ini masih belum dikenakan tarif, karena memang belum diresmikan oleh dinas pariwisata ataupun pemerintah kota Semarang. Nggak usah pusing dengan urusan logistik makan ataupun minum, beberapa rumah sudah ada warung yang siap menyediakan pesanan anda.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalan setapak di dalam kawasan kampung Pelangi

“Pemerintah kota memfasilitasi cat untuk bagian tembok dan atap rumah. Sementara untuk jalan kampung, pengecatan dilakukan atas partisipasi warga. Uangnya pun urunan warga setempat,” jelas Pak Kaswadi, kali ini sambil menyesap kopi hitam di gelasnya. Guratan kulit menua jelas terlihat di wajah dan tangannya.

“Kalau mural yang di dinding itu hasil karya para pelukis Semarang, mas. Mereka tidak dibayar lho. Sukarela,” imbuhnya lagi.

“O ya? Wow. Salut saya sama kerjasama orang-orang ini, pak,” jawab saya sambil mengambil beberapa gambar mural dengan kamera saya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tak lupa payung warna-warni ikut berpartisipasi 🙂

Saya mohon ijin meninggalkan Pak Kaswadi di warung dengan secangkir kopinya, demi melanjutkan menelusur jalan-jalan sempit di perkampungan ini. Jalur yang menanjak memaksa saya untuk mengeluarkan tenaga lebih. Beberapa warga tampak sedang larut dalam aktifitas paginya. Saya sendiri asyik menikmati torehan warna-warni mural di dinding ataupun jalan-jalan setapak. Sesekali pula mengambil foto.

Masih banyak pekerjaan rumah untuk pemerintah kota Semarang demi menggarap kawasan wisata ini. Beberapa diantaranya boleh saya catat:

  1. Tidak tersedianya homestay atau guest house di kawasan ini perlu diperhatikan. Mengapa? Biasanya orang dari luar negeri lebih suka dengan kondisi yang otentik – mereka sangat tertarik untuk berbaur dengan warga lokal ketimbang harus menginap di hotel.
  2. Perlu adanya peta kawasan Kampung Pelangi yang bisa menuntun pengunjung lengkap dengan titik-titik persinggahan, untuk sekedar istirahat atau ber-swa foto
  3. Dibuatkan kafe sederhana di titik-titik tertentu (di pelataran rumah warga misalnya), dengan rasa ontentik di kecap rasa – yang mana makanan ataupun minuman yang tersaji merupakan swadaya olahan dan subsidi warga. Dengan ini menjadi konsep sentra warung dan warga dapat makin guyub.
  4. Tidak adanya atraksi kesenian dari warga lokal. Mungkin bisa ditampilkan misalnya kesenian tari atau seni membatik di rumah warga atau balai pertemuan warga, sehingga pengunjung bisa menikmati kekayaan budaya lokal – ketimbang hanya menikmati Kampung Pelangi dengan berfoto-foto saja tetapi tidak ada kenangan suguhan budaya.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Seorang warna tampak melintas diantara mural

Tentunya untuk mewujudkan sebuah kawasan wisata yang mumpuni, dibutuhkan sebuah kerja keras dan kerjasama dari berbagai macam pihak. Saya sebagai warga kelahiran kota Lunpia, bangga dengan ide dan kreatifitas yang tercipta di sini. Semoga wangi harum Kampung Pelangi ini semakin semerbak,  hingga ke pelosok dunia lebih dari hari sekarang.

Semarang, teruslah berbenah dan bersolek. Aku bocahmu, nda…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalanan yang terjal dan kecil, harus ekstra hati-hati

Tips sebelum anda berkunjung ke Kampung Pelangi:

  • Kontur kawasan ini berbukit dan jalan menanjak, disarankan memakai pakaian dan alas kaki yang nyaman. Jangan memakai high heels untuk para wanita, anda terlihat keren memang – tapi anda juga salah kostum.
  • Siapkan stamina yang cukup, jalur menanjak cukup menguras tenaga dan perlu ekstra hati-hati.
  • Bawa logistik makanan atau minuman sendiri. Memang ada warung, hanya saja akan lebih irit (maklumlah, penulis seorang backpacker…)
  • Disarankan berkunjung waktu pagi atau sore hari, di siang hari udara akan sangat panas.
  • Beberapa mural yang terdapat disana dapat digunakan untuk swa foto. Hanya saja disarankan tidak berteriak-teriak ketika akan ber-swa foto. Tetap hormati warga lokal.
  • Tidak disarankan berkunjung di akhir pekan atau hari libur, kawasan ini akan sangat padat dengan pengunjung.
  • Lebih baik parkirkan kendaraan anda di seputar kawasan Tugu Muda, kemudian berjalan kaki menuju kawasan ini. Selain anda akan lebih sehat, juga mengurangi tingkat kepadatan di kawasan ini.
  • Setelah anda lelah berkunjung di sini, silahkan anda berbelanja bunga di kawasan pasar bunga yang letaknya di depan kampung ini.

 

Advertisements

9 Replies to “Mewangi Kampung Pelangi”

  1. Artikel yang “ngangeni”, saran dan ide perspektif serta kreatifnya semoga bisa sampai di mejanya pejabat terkait, spy bisa dijadikan pertimbangan.
    Untuk menu khas wilayah semarang, jangan lupa kudapan “sego kucing” dan “sate usus gelo-gelo”… Ditutup dgn wedang ronde… Naahh

    Good article, nda…
    Like it…!!

    Like

  2. Halo mas salam kenal.

    Ulasan yang lengkap sekali. Saya belum sempat mengunjunginya, tapi cukup mendapat gambaran jelas lewat artikel ini. Selama ini saya hanya mendengar dengungnya lewat media sosial hanya sebagai tempat berfoto saja. Tentu saja itu tidak cukup, demi sebua kawasan wisata, perlu adanya prpgram berkelanjutan. Dan hal ini sudah mas paparkan secara lengkap. 🙂

    Like

    1. Salam kenal juga mas, Johanes

      Monggo, mas. Silakan berkunjung nek pas ada waktu. Hanya sedikit sumbangsih ide lewat media tulisan, mas. Supaya kota ini makin gayeng 🙂

      Semoga nanti kalau pas pulang Semarang bisa ketemuan, mas… Gantian aku diajak muter menyusur pecinan Semarang.

      Aku bocahmu, nda… Hahahaha

      Like

      1. Sampun, mas… cuma lupa meninggalkan jejak hehehe

        Mas Johanes, boleh tinggalkan nomor yang bisa di kontak? WA atau telegram boleh

        Atau leave message di IG saya, mas … ID burgerk3ju

        Siapa tahu kita bisa garap project bareng. Maturnuwun

        Like

  3. Sekarang sedang ramai ya konsep kampung tematik, seperti kampung pelangi ini. Semoga saja perubahan bukan hanya pada fisik, tapi juga kepedulian terhadap lingkungan atau memiliki kemampuan kerajinan. Karena saya melihat sendiri seperti di kampung Jodipan, Malang, yang belum seluruhnya sadar soal perilaku membuang sampah di sungai.

    Like

    1. Naah, itu benar Mas. Kebersihan dan mengajak masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan itu yang mesti terus diingatkan.

      Lha masak nanti sudah ada wisata air, perahunya kesangkut bekas popok bayi atau kardus mie instan… Hahaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s