Review: Istana Griya Hotel, Tempatnya Para Backpacker di Solo

Traveling backpack ke Solo? Kenapa tidak? Banyak destinasi wisata yang bagus di kota Solo. Kota yang terkenal dengan batiknya itu menyimpan banyak cerita, baik budaya maupun sejarahnya. Tak terhitung sudah berapa kali aku traveling ke kota ini, sekedar liburan atau urusan pekerjaan. Nah kali ini karena ada acara dadakan sampai kelupaan untuk booking penginapan. Go show saja pikirku nanti, toh ada beberapa teman baikku di kota itu. Kali ini aku dijemput Mas Katon, teman baikku di Solo.

Mobil melaju melindas jalanan yang masih basah sehabis diguyur hujan. Kota Solo menyambutku dengan senyuman ramahnya. Hmm… Solo menggeliat pelan, tak banyak berubah. Tetap anggun dan cantik. Di beberapa tempat sepanjang perjalanan dari bandara ke dalam kota tampak berderet hotel berbintang dan warung kaki limanya. SHE JACK, warung angkringan dengan menu andalan susu Boyolali itu masih tampak menghiasi beberapa sudut jalanan. Apa kabarnya sang mantan di kota ini ya?

Setelah menyelesaikan urusan kampung tengah di warung Gudeg Mbok Kedul di bilangan Purwosari, kami melanjutkan pencarian penginapan. Oh ya, sedikit catatan untuk hidangan gudegnya Mbok Kedul hanya ada 2 kata. Enak dan enak banget. Serius lho. Lain kali aku bakal mampir lagi.

Kami melipir ke arah Keprabon, dimana menurut informasi dari teman-teman mas Katon terdapat banyak hotel dengan harganya yang cukup murah. Aku melihat plang hotel yang kecil terpampang “nyempil” di gang kecil dengan nama “Istana Griya Hotel”; aku masuk melewati lorong yang ternyata itu adalah koridor hotel dengan deretan kamar disebelah kiri. Di sebelah kanan terdapat deretan bangku dan beberapa meja kayu. Tampak seorang sedang bekerja di salah satu meja kayu tersebut. Ia menjelaskan untuk mengikuti saja lorong ini, dan nanti akan ketemu meja resepsionis di ujung koridor.

Aku sedikit kaget menemukan seorang sosok wanita berdiri di meja resepsionis dengan wajahnya yang  menunduk. Ia berambut ikal nan panjang terurai dengan kaos lengan panjang warna hitam dan juga rok batik panjang yang hampir menutup hingga tumit. Serem kan! Sh*t. Aku langsung teringat film “Pengabdi Setan”. Sosok wanita yang akhirnya aku kenal bernama mbak Darmi ini sangatlah ramah. Ia menawarkan kamar dari harga paling murah hingga yang termahal. Aku memilih kamar yang murah dengan alasan sudah malam, bakalan rugi karena tidak bisa menikmati fasilitasnya selama sehari penuh. Hehehe… Otak backpacker, Braay.

Kamar Deluxe seharga Rp125.000 ini cukup nyaman, walau tak ada fasilitas pendingin ruangan. Terletak di ujung dekat belokan menuju lorong yang sebelumnya aku lewati. Berukuran sedang dengan kamar mandi kecil di dalamnya, satu meja kecil dan bangku. Interior ruangan sederhana dengan televisi usang berukuran 14”. Sepertinya ini merupakan bangunan lama melihat beberapa cat tembok yang tampak mengelupas. Malam itu aku habiskan dengan bekerja di lobby penginapan sebelum memutuskan untuk berpindah ke dalam kamar untuk beristirahat.

00 Kamar
Bagian dalam kamar

Pagi hari kurang lebih jam 7-an terdengar pintu diketok oleh pegawai penginapan yang mengatakan bahwa sarapan buatku sudah siap di meja makan. Bah, lagi enak-enaknya tidur pula… Hahaha.

Dengan segan dan malas beranjak ke meja makan setelah sebelumnya berkumur, aku menikmati sarapan yang sudah disiapkan. Sepiring nasi goreng dibungkus telur dadar dengan kerupuk ala kadarnya. Rasa nasi gorengnya ternyata enak lho. Jadi semua tamu di penginapan ini akan mendapatkan menu sarapan yang sama, baik itu kamar yang berharga murah hingga termahal. It’s fair enough.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sarapan nasi goreng yang enak

Pak Rudi pemilik hotel yang ramah bercerita bahwa hotel ini sebelumnya adalah sebuah homestay, dan kebanyakan tamunya adalah para pelancong dari luar negeri. Dekorasi dan interiornya unik, perpaduan budaya Jawa dan Bali. Terlihat dari pajangan patung dengan tutup kain kotak-kotak khas Bali dan ada gebyok kayu jati ukiran khas Jawa Tengah juga. Tebakanku ketika melihat kamar yang disewakan seperti kamar-kamar untuk backpacker ternyata benar. Banyak pelancong bule yang menginap di homestay ini memang para backpacker.

Penginapan ini sangat homey, dan aku betah berada di sini. Terlepas dari kekurangan pada bangunan fisiknya, keramahan Pak Rudi dan mbak Darmi patutlah diacungi jempol. Mereka sangat membantu dan melayani kami para tamu hotel. Dan ternyata banyak para tamu yang punya pengalaman berkesan ketika menginap di sini. Kalian bisa booking sebelumnya via travel agent atau bisa juga go show.

Pro:

  1. Letaknya strategis di tengah kota, dekat dengan jalan protokol; sangat memudahkan jika hendak berpergian ke Kraton Solo atau Pasar Klewer.
  2. Kamarnya cukup nyaman, homey, pegawainya ramah dan baik hati.
  3. Harga terjangkau. Tarif kamar termurah Rp80.000, termahal Rp250.000.
  4. Sarapan nasi gorengnya enak; juga free flow menyeduh teh dan kopi.
  5. Ada buku-buku di resepsionis yang bisa kita pinjam baca.
  6. Free koneksi internet nirkabel yang cukup kencang.

Kontra:

  1. Bangunan cukup tua, perlu renovasi di sana-sini; pada beberapa koridor penerangan remang-remang, perlu ditambahkan lampu.
  2. Koneksi internet hanya di lobby hotel, signal tidak sampai kamar.
  3. Di kamar mandi tidak tersedia air panas.
  4. Kebersihan perlu ditingkatkan.

Jika kalian para backpacker perlu penginapan di kota Solo, silahkan melipir ke:

Istana Griya 1 Homestay

Jl. KH. Dahlan No. 22

SOLO – INDONESIA

Telp. +62 271 632667

Advertisements

One Reply to “Review: Istana Griya Hotel, Tempatnya Para Backpacker di Solo”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s