Enthog Gobyos, Gawe Gembrobyos!

Begitu kuah menyentuh ujung lidah, rasa pedasnya menjalar dengan seketika memenuhi rongga mulut yang berasa seperti terbakar. Benar-benar hard core.

Wonosobo tidak hanya berbicara perihal bentang panorama yang memukau mata, tetapi juga wisata kuliner yang memanjakan lidah penikmatnya. Selain Mie Ongklok sebagai makanan khas kota berhawa dingin ini, masih ada kuliner yang tak kalah lezat yaitu olahan gulai Entok Gobyos. Jika kalian berkesempatan mengunjungi Wonosobo, jangan lupa singgah dan mencicipi kuliner dengan sensasi rasa super pedas ini.

“Bahan dasar masakannya adalah entok (itik manila), diracik dengan bumbu rempah komplit yang kemudian ditambahkan santan. Memasaknya dengan menggunakan kayu bakar dan dibutuhkan waktu yang cukup lama. Inilah yang menjadikan daging entok menjadi lembut dan menjadikan bumbu racikannya meresap ke serat daging hingga ke tulangnya akan terasa gurih,” Pak Eko Pujianto, sang empunya warung makan menjelaskan kepadaku.

Masakan gulai atau opor entok sendiri adalah masakan khas Wonosobo, dimana pada setiap hari raya Iedul Fitri santapan ini menjadi menu wajib bagi masyarakat di sini. Awal mulanya Pak Eko melihat bahwa olahan gulai entok di daerahnya cenderung seperti masakan opor biasa. Ia dan istrinya mencoba-coba resep baru, hingga akhirnya mendapatkan olahan masakan yang berbeda. Entok bercita rasa super pedas hanya dapat kalian temukan di warung makan ini.

00__P5870467
Pedasnya level hard-core

“Entok setelah dibersihkan bulunya kita brubusi (rebus) selama kurang lebih 45 menit, hingga keluar minyaknya yang kita buang karena tidak terpakai. Tahap kedua adalah dilakukan perebusan lagi dan setelah itu bumbu rempah komplit dimasukkan,” Pak Eko melanjutkan pembicaraannya.

Terakhir sebelum masakan diangkat baru dimasukkan irisan cabai setan untuk menambahkan sensasi pedas dan juga daun jeruk sebagai penambah aroma kuah gulainya.

Penampilan masakan Entok Gobyos sendiri terbilang jauh dari menggugah selera menurutku. Kuahnya terlihat butek menyisakan sedikit minyak yang mengambang diatas santan. Satu-satunya yang membuatnya sedikit menarik adalah irisan cabai merah diatas daging entok. Yang menjadi juara menurutku justru ada pada aroma masakan tersebut. Wangi rempah, pedas dan harumnya daun jeruk sontak menguar ketika ujung hidungku berjarak 3 cm dari loyang beling tempat sajian makanan ini. Sangat menggugah selera.

00__P5870458
Ini sudah pedas lho, malah disediakan lagi sambel ijo… Edyaan!

Aku yang kurang suka masakan pedas mencoba mencicipi sedikit kuah dari masakan ini. Sompret!! Begitu kuah menyentuh ujung lidah, ternyata berasa pedasnya cetar membahana. Urat syaraf di kepala tiba-tiba tertarik seperti terkena aliran listrik. Rongga mulut berasa terbakar. Bersegera aku mengurungkan niat untuk melanjutkan mencicipi masakan “hard core” ini. Beberapa teguk es jeruk mencoba mengusir rasa pedas di rongga mulut dan lidahku. Lambaikan tangan ke kamera tanda menyerah. Enough is enough!

“Entok jika diolah sebagai masakan akan mengeluarkan minyak. Memang ini akan menambahkan rasa gurih pada masakan, tetapi efeknya kolesterol akan meningkat. Makanya kami melakukan proses perebusan daging entok hingga 2 tahap, dengan tujuan minyaknya akan jauh berkurang. Masih ada sedikit sih, tapi kami jamin masakan kami aman untuk dikonsumsi,” lanjut Pak Eko menjelaskan.

Ia menambahkan ketika awal-awal melakukan eksperimen masakan ini, tingkat kolesterol didalam darahnya meningkat hingga ambang batas.

“Syukurlah saya nggak kenapa-kenapa, mas. Masih waras sampai sekarang.” Pak Eko menimpali sambil tertawa renyah.

Harmoni Entok
RM. Harmoni, Wonosobo

Mengenai nama warung makan Pak Eko yang bernama “Enthog Gobyos” memang ada ceritanya. Ia menjelaskan bahwa ketika pelanggan menikmati masakan entok yang super pedas ini mereka akan gembrobyos (bahasa Jawa, berkeringat) saking pedasnya, padahal disini berhawa dingin lho. Cucok meong! Teman-teman saya semuanya terlihat gembroyos dengan mulut monyong disertai paduan suara jamaah “hu-hah” terdengar saling bersautan.

Harga masakan ini tidaklah terlalu mahal. Kalian dapat menikmati seporsi masakan ini dengan menebus mahar Rp25.000 saja. Tersedia juga aneka masakan lainnya bagi kalian yang kurang suka masakan pedas.

Berani mencoba tantangan makan bersensasi super pedas?

“Enthog Gobyos”
RM. Harmoni
Jl. Raya Wonosobo – Kertek KM 5.5
Siyono, Kertek, Wonosobo

Advertisements

16 Replies to “Enthog Gobyos, Gawe Gembrobyos!”

  1. Berani coba? Yaa berani dong..secara aku ini mafia cabe mas hahaa. Apalagi potongan cabe rawitnya dimasukin pas terakhir, emmhh..aroma cabenya seger banget nusuk hidung ampe bersin. Bahaya kalo sampe ketagihan,, mengingat lumayan berkolesterol. Tapi sekali-kali sih ora popohh. Asem…jadi penasaran!! Di Bali nggak ada beginian mas. Disini entok paling diolah jadi betutu..membosankan

    Liked by 1 person

      1. Waah… Selain berhawa dingin Wonosobo banyak tempat wisata menarik plus kuliner yang oke, Mbak.

        Event paling dekat dan bagus Dieng Culture Festival, diselenggarakan tiap awal bulan Agustus.

        Monggo dolan ke Dieng / Wonosobo, Mbak

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s