Transformasi Dusun Pentingsari Menjadi Desa Wisata Yang Mendunia

“Sebuah proses belajar ketika kita tahu cara mengemas dan memasarkannya, dapat menghasilkan pundi-pundi uang yang nantinya dapat menggerakkan perekonomian masyarakat desa”

Aplikasi peta di gawai pintar menunjuk jarak 20 Km arah utara dari pusat kota Yogyakarta. Siang itu cuaca lumayan panas, ketika akhirnya motor yang saya tumpangi mengantarkan kaki menjejak dusun Pentingsari. Jalan yang menanjak dan berkelok serta pencarian dusun Pentingsari melalui aplikasi GPS digital membuat perjalanan menjadi sangat mengasyikkan, apalagi ini kali pertama penjelajahan saya ke dusun ini.

Dusun Pentingsari secara letak geografis terletak di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam perjalanan kali ini bukannya tanpa alasan saya “menyasarkan diri” ke Pentingsari, namun adanya embel-embel desa wisata andalan DIY inilah yang akhirnya menjadikan saya tertarik untuk mengunjunginya.

Latar Belakang

Beberapa informasi yang saya dapatkan sebelumnya dari beberapa laman internet, disebutkan bahwa awalnya dusun Pentingsari adalah salah satu dari sekian jumlah desa terpencil dan miskin yang berada di lereng gunung Merapi. Berjarak kurang lebih 14 Km dari radius aman gunung Merapi, dusun ini dahulu mempunyai tingkat kesulitan ekonomi yang cukup tinggi dengan tingkat pendapatan masyarakatnya yang tergolong rendah.

Hari ini ternyata adalah hari keberuntungan saya. Bagaimana tidak? Saat saya mencari seorang narasumber yang namanya saya temukan secara tak sengaja pada salah satu tulisan di laman internet, saat itu pula saya telah berada di depan rumah orang tersebut. Seorang lelaki yang terlihat sepuh namun masih terlihat trengginas menyapa saya dengan ramah. Tangannya yang terlihat keriput menjabat tangan saya dengan erat. Sumardi, beliau menyebutkan namanya.

Pak Sumardi
Pak Sumardi (Mbah Mardi) – Dok. Pribadi

Proses transformasi dusun Pentingsari menjadi desa wisata tak dapat dipungkiri sebagai buah pikiran dari Pak Sumardi. Lelaki berusia 89 tahun ini menjadi panutan sekaligus yang dituakan dalam urusan desa wisata. Sebuah gagasan hanyalah akan menjadi sebuah wacana saja jika tidak diwujudkan. Berangkat dari gagasan sederhana untuk membuat warga dusunnya guyub dan rukun, hal inilah tampaknya yang menjadi alasan Mbah Mardi, begitu saya memanggilnya, untuk kemudian menuangkan ide awalnya menjadikan dusunnya sebagai paran wisata.

Ia mengajak warga dusunnya untuk membuka diri dan membangun interaksi dengan masyarakat diluar kampungnya. Misi mewujudkan mimpi dan asa kebaikan ini dimulai pada tahun 2008 dengan segala keterbatasan, namun itu tak menyurutkan warga dusun. Berbekal kekayaan tradisi, hasil budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat, konsep desa wisata ini diusung dan dibangun bersama-sama. Sektor pariwisata mulai dibuka oleh masyarakat dusun Pentingsari. Usaha homestay atau rumah menginap untuk para wisatawan yang datang berkunjung menjadi back bone atau tulang punggung desa wisata.

“Wisatawan yang berkunjung ke Pentingsari dapat menginap dan tinggal di rumah bergabung dengan anggota warga. Mereka dapat langsung berinteraksi dan mempunyai pengalaman tinggal di dusun. Tentunya ini akan menjadi pengalaman baru bagi tamu yang berasal dari kota besar. Atmosfer-nya tentu akan berbeda,” papar Mbah Mardi membuka percakapan.

Homestay
Salah satu rumah inap (homestay) di Pentingsari – Dok. Pribadi

Berbagai kegiatan wisata pengalaman dan pembelajaran mulai dicoba ditawarkan. Interaksi dengan alam dan lingkungan secara langsung dikemas dalam bentuk paket wisata bagi para wisatawan.

“Bagaimana cara menanam padi, memeras susu sapi, memberi makan hewan ternak, bermain sepak bola lumpur, menjelajah alam bebas, dan kegiatan lainnya menjadi agenda tambahan bagi para tamu. Rupanya kegiatan-kegiatan semacam ini banyak menarik wisatawan. Mereka tertarik untuk dapat bersinggungan secara langsung. Kami menyediakannya berdasarkan permintaan tamu-tamu rumah menginap,” Mbah Mardi melanjutkan penjelasannya.

Homestay
Konsep ‘live in’ membuat tamu merasa lebih dekat dengan lingkungan, contohnya memberi makan ternak. – Dok. Pribadi

Asa untuk memajukan dusun Pentingsari berbuah hasil. Dalam waktu kurang lebih 2 tahun, efek dari konsep desa wisata ini sudah dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dusun. Taraf pendapatan masyarakat merambat naik dan roda ekonomi mulai bergerak. Kehidupan sosial warga dusun terlihat sumringah dari hari ke hari. Pengunjung maupun jumlah wisatawan melonjak naik ke dusun Pentingsari. Menurut catatan statistik, desa wisata Pentingsari menghasilkan omzet senilai 30 juta Rupiah per tahun. Tahun berikutnya melonjak menjadi 250 juta Rupiah per tahun. Hal ini terjadi setelah dilakukan pengembangan dan pelatihan terkait kepariwisataan.

Berkat Dibalik Musibah Merapi

Saat terjadi peristiwa erupsi gunung Merapi tahun 2010, dusun Pentingsari juga terkena imbasnya. Praktis kegiatan desa wisatapun jumud ketika para warga diharuskan mengungsi oleh pemerintah karena peristiwa erupsi. Banyak paket wisata yang sudah terjadwal dibatalkan dan tak sedikit kerugian yang ditimbulkan oleh karena pembatalan tersebut.  Seperti lirik lagu “Korban Janji” yang berkata ‘Kowe lungo pas aku sayang sayange, tanpo pamit kowe ngadoh ngono wae’, kecintaan dan keteguhan warga dusun Pentingsari akan desa wisatanya diuji. Setelah kurang lebih 6 bulan vakum, mereka menggeliat bangkit dan tak mau kalah oleh keadaan. Warga dusun kembali menata hidup dan desa wisatanya, tak ubahnya seperti komputer yang di-rebooting.

Mbah Mardi menuturkan bahwa pembenahan desa wisata dilakukan dengan menitik beratkan pada standard dan kualitas homestay yang diperuntukkan bagi para tamu asing, lokal maupun rombongan. Kamar-kamar rumah menginap mulai diatur tata letaknya. Tak lupa standar kamar mandi dan kebersihannya menjadi perhatian. Gelontoran dana, bantuan pembinaan dan pelatihan dari sebuah bank swasta terbesar di ibukota turut membantu dan mempercepat proses recovery desa wisata ini. Training teknik pemasaran dan juga tata cara melayani para tamu (hospitality) menjadi sentuhan terakhir pelatihan. Hasilnya, di tahun 2017 omzet desa wisata mencapai 200 juta Rupiah per bulan. Desa wisata Pentingsari saat ini berhasil menjadi percontohan bagi pengembangan desa wisata – desa wisata lain di sekitarnya. Ia telah menjelma menjadi desa wisata mandiri dan sembada. Pentingsari, mampu menghidupi penduduknya dengan tingkat penghidupan yang layak.

Homestay
Tingkat kebersihan yang selalu dijaga – Dok. Pribadi

 

Homestay
Penataan ruang istirahat yang mengedepankan kenyamanan dan kebersihan – Dok. Pribadi

Saat desa-desa lain berlomba-lomba membuat atraksi maupun paket wisata untuk menarik wisatawan datang, Pentingsari telah berada didepan sebagai pionir desa wisata. Berbekal keaneka ragaman hasil perkebunan seperti kopi dan pisang, kisah-kisah sejarah, kegiatan di luar rumah (outdoor activities) maupun cerita legenda yang dimiliki dusun Pentingsari, menjadikannya mempunyai nilai jual tersendiri. Pengelola organisasi desa wisata Pentingsari dengan jeli mampu mengolah dan mengemas kekayaan ini dengan ciamik menjadi paket-paket wisata yang bernilai jual. Misalnya, cara pengolahan biji kopi hingga menjadi minuman kopi siap saji. Dari proses pemetikan biji kopi, pemilihan dan pengeringannya, proses roasting atau  memasak biji kopi (sangrai), menggiling hingga menyeduh kopi, semua proses ini dikemas menjadi paket pembelajaran bagi para tamu.

Pengurus desa wisata dapat dengan mudahnya menggandeng para warga untuk saling membantu menyukseskan program desa wisata di kampung mereka. Terlebih saat para penduduk dusun tak hanya menjadi penonton saja namun turut terlibat bahkan menjadi pelaku desa wisata. Pak Sugeng, salah satu pemilik rumah menginap dan juga pelaku desa wisata menuturkan bahwa tingkat keberhasilan program desa wisata ini tak lepas dari kerja keras seluruh elemen warga dusun Pentingsari. Sistem kerja dan pemberdayaan masyarakat dusun dapat bersinergi dengan baik. Hal ini tak lepas dari peran serta dan kerja keras Mbah Mardi saat memulai konsep desa wisata pertama kali.

Homestay
Sentra pengolahan kopi di dusun Pentingsari – Dok. Pribadi

“Saat warga guyub dan rukun, maka ketika ada pekerjaan berat sekalipun mereka akan dengan sangat senang membantu kami pengurus desa wisata. Rezeki itu berkat dari Tuhan dan tamu yang datang dipakaiNya menjadi pembawa berkat,” Mbah Mardi melanjutkan perbincangan.

Ikon & Penghargaan Desa Wisata

Malam itu, saya sengaja menginap di Pentingsari dengan maksud ingin merasakan apakah benar keramahan dan kehangatan dari tuan rumah pemilik homestay sangat menyenangkan. Konsep yang mengedepankan tidak adanya sekat pemisah antara tamu yang menginap dengan warga pemilik penginapan, membuat kami bebas untuk saling berinteraksi layaknya satu keluarga. Suguhan makanan yang sama dengan pemilik penginapan bahkan kebaikan dan keramahtamahan terus menerus saya terima selama menginap. Ini menjadi salah satu bukti bahwa program desa wisata yang dicanangkan berhasil.

Homestay_6
Sajian makanan yang sederhana namun menyehatkan – Dok. Pribadi

Desa wisata Pentingsari telah menjadi ikon keberhasilan pengembangan konsep desa wisata di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai macam piagam penghargaan maupun piala kejuaraan lomba desa wisata tingkat daerah maupun nasional telah berhasil direngkuhnya. Bahkan pada tahun 2011, desa wisata Pentingsari menerima penghargaan tingkat dunia atas kesuksesannya mengelola kepariwisataan berdasarkan Kode Etik Kepariwisataan Dunia (World Committee on Tourism Ethics – WCTE). Terjaganya kearifan budaya lokal dalam hal ini mencakup masalah lingkungan, sosial budaya maupun alamnya yang dikelola untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi tanpa melakukan pengrusakan menjadi poin tambah desa wisata Pentingsari. Wisatawan yang berkunjung pun tak hanya sekedar menghabiskan waktu liburan mereka, namun mendapatkan pengalaman dan pembelajaran secara langsung yang sangat mengesankan. Masyarakat dusunpun menjadi lebih peduli dan berusaha untuk mempertahankan keaslian alam dan juga budayanya.

Piagam penghargaan
Piagam Penghargaan dari PBB – Dok. Pribadi

“Tamu-tamu yang datang ke sini padahal saya ‘siksa’ untuk belajar proses membuat ini dan itu. Sudah di’siksa’ disuruh bayar pula, tapi kok mereka mau ya, heran saya,” Pak Sugeng bergurau sambil tertawa dengan saya.

Pengembangan Diri Desa Wisata

Seperti pepatah yang mengatakan “Ada gula, ada semut”, konsep desa wisatapun juga demikian. Dimana ada perputaran nilai Rupiah tentunya akan dibarengi dengan makin ramainya pemain di sana. Namun jika hal-hal yang berkaitan dengan keuntungan financial semata menjadi titik fokus pengembangan, hal ini perlu diimbangi juga oleh perilaku arif masyarakat pendukungnya. Bahwa desa wisata haruslah berubah sesuai dengan perkembangan masa adalah benar, namun pengelola dan pelaku di dalamnya diminta untuk tetap mempertahankan nilai sosial budaya yang positif dan meminimalkan dampak negatif pada lingkungan pariwisata.

Piala Penghargan
Deretan piala kejuaraan yang telah dimenangkan – Dok. Pribadi

Desa wisata Pentingsari saat ini membutuhkan pemikiran dan ide-ide segar untuk terus mengembangkan dirinya supaya tetap menjadi yang terdepan. Sebagai seorang pelaku perjalanan (traveler), salah satu fasilitas yang masih kurang adalah tiadanya koneksi internet nirkabel (Wi-Fi) di rumah penginapan. Di jaman pertukaran informasi yang serba cepat dan digital ini, jaringan internet seharusnya menjadi perhatian pengelola desa wisata, terlebih jika melihat kualitas jaringan perangkat telepon selular juga tiarap.

Selanjutnya adalah keasrian dan hijaunya tetumbuhan di Pentingsari tak perlu ditampilkan dengan membangun tulisan atau signage berukuran besar sebagai identitas visual kawasan wisata. Dusun ini sudah berhasil memperkenalkan dan menyuarakan dirinya dengan deretan prestasi sebagai desa wisata mandiri. Keberadaan signage jika tepat diaplikasikan dengan melihat nilai estetika tentunya akan makin mempercantik kawasan wisata, hanya saja tak sedikit yang malah membuatnya terlihat norak.

Terakhir, proses regenerasi dari golongan sepuh yang telah mengawal sejak awal berdirinya desa wisata Pentingsari diharapkan tidak putus di tengah jalan. Tongkat estafet akan dilanjutkan oleh generasi muda agar keberlangsungan desa wisata  tetap berjalan. Generasi muda diharapkan tidak meninggalkan dusunnya dan hidup sebagai kaum urban di kota besar, tetapi kembali ke kampung untuk bersama-sama membangun wilayahnya.

Penutup

Desa wisata Pentingsari sudah memberikan saya pengalaman dan pembelajaran yang membekas. Pengalaman akan keramahtamahan dan kerelaan warga dusun dalam menerima tamu yang datang dan menginap. Pembelajaran tentang sikap toleransi yang tinggi, kemandirian dan rasa tanggung jawab serta memiliki.

“Semua makhluk akan kembali kepada bumi. Bumi menjadi perantara yang akan mengantarkan jiwa kembali kepada Sang Pencipta. Semua laku kebaikan yang kita sudah buat semuanya akan dihitung dan dipertanggung jawabkan. Saya sudah memulai pekerjaan yang baik dengan masyarakat dusun sini dengan desa wisatanya, hal baik itulah yang akan menjadi bekal saya kelak,” Mbah Mardi menutup perbincangannya dengan saya.

“Amin, Mbah,” jawab saya seraya menjabat tangannya dan pamit undur diri.

Sehat terus, Mbah Mardi.

Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Desa Wisata Sleman dengan tema “Sembada – Beragam – Terkemuka” @wisatasleman

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s