Selamat Malam, Lawang Sewu

“Adalah lebih baik jika kamu mengunjungi sebuah tempat dan belajar tentang kisah sejarahnya. Ingat, dunia ini bukan hanya perihal kenangan tentang mantan sahaja!” – @burgerk3ju

Pukul 15.30. Bangunan tua dan besar dengan karakter Eropa berdiri kokoh dihadapanku. Dinding tebalnya sudah tak lagi kusam seperti kala pertama kali aku berkunjung ke sini. Sudah bercat putih bersih. Puncak gedung dengan bendera Indonesia di bagian depan menjulang tinggi, berlatar langit biru kota Semarang. Arsitek gedung Lawang Sewu, Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, merancang gedung megah ini dengan menekankan banyak bidang lengkung yang mendominasi hampir keseluruhan fasad bangunan. Desain jumlah jendela dan pintu yang tak sedikit dimaksudkan sebagai sistem sirkulasi udaranya. Walaupun telah berusia lebih dari seabad, gedung ini masih terlihat kokoh berdiri.

Menara Gedung
Menara gedung Lawang Sewu terlihat dari luar pagar. (Dok. pribadi)

Waktu bergeser cepat saat kakiku melangkah menyusuri seputaran gedung berdesain seperti huruf L ini. “Tak lama lagi waktunya senja,” pikirku. Aku menandai beberapa titik di area gedung dengan maksud nanti akan kembali lagi untuk mengambil gambar dengan kamera. Aku melangkah menyusuri lorong di bagian belakang gedung tambahan. Menaiki tangga kayu memutar menuju lantai 3 berupa loteng. Menurut penuturan penjaga gedung, saat Indonesia jatuh ke tangan Jepang tempat ini menjadi penjara bagi para tahanan Belanda dan Bumi Putera. Para tawanan mengalami mimpi buruk terparah disiksa di sini. Bagaimana tidak? Bangunan lantai 3 yang berbentuk seperti kapal terbalik itu difungsikan sebagai ruangan penyerap panas. Hawa panas masih terasa saat aku memasuki loteng padahal matahari sudah condong ke arah barat.  Bisa kamu bayangkan saat tengah hari bolong panasnya kan? Setelah pemugaran besar-besaran selesai tahun 2011, loteng ini menjadi salah satu tempat tujuan building tour.

Loteng di Lawang Sewu
Lantai 3 berupa loteng. Panas banget hawanya di sini. (Dok. pribadi)

Pukul 17.30. Sebentar lagi memasuki waktu maghrib. Aku menuju tanah lapang, tempat yang sudah aku tandai sebelumnya. Duduk di bangku kayu di bawah pohon besar yang terletak tepat di bagian tengah gedung. Pohon besar ini tepat berada diantara gedung utama, gedung tambahan dan gedung percetakan. Ratusan lampu gedung mulai dinyalakan sebagai penanda hari sudah menjelang gelap. Cahaya lampu-lampu yang dipasang di sekeliling gedung membuat Lawang Sewu terlihat megah dan anggun. Padahal bangunan ini pernah dinobatkan sebagai bangunan angker nomor 2 se-Asia setelah Tak Tak School di Hongkong lho.

Lawang Sewu at Night
Lawang Sewu terlihat saat malam. Megah dan anggun. (Dok. pribadi)

Beberapa pengunjung masih terlihat hilir mudik di serambi atau lorong-lorong gedung. Tak seramai sebelumnya, sebagian mungkin sudah pulang. Sengaja aku menikmati waktu ini dengan membekukan waktu dan mengambil gambar lewat kamera digital. Bermain dengan cahaya yang berpendar menyinari sosok kokoh tembok dan dinding dingin bernama Lawang Sewu ini. Ditambah saat itu blue hour-nya cakep banget. Oo ya, blue hour adalah waktu dimana matahari telah terbenam dan posisinya berada jauh di batas cakrawala. Saat itulah panjang gelombang biru sinar matahari mendominasi langit, sehingga mengapa setelah lewat senja langit akan tampak berwarna biru.

Lawang Sewu at Night
Lawang Sewu saat malam dilihat dari Wilhelminaplein. (Dok. pribadi)

Pukul 18.30. Aku bergeser ke bagian depan Lawang Sewu dan kembali menjelajah lorong-lorongnya. Penerangan lampu yang terang menjadi pengalaman yang menyenangkan saat mengeksplorasi setiap sudut gedung. Tak ada rasa takut atau seram seperti waktu sebelum dilakukan pemugaran, walaupun aura mistisnya masih kentara. Lokomotif yang terparkir di bagian depan gedung tak terlewatkan menjadi obyek foto kali ini. Seri lokomotif uap C 2301 buatan pabrik Hartmann, Jerman ini mulai berdinas sejak 1908 hingga tugas paripurnanya tahun 1980. Walaupun letaknya bisa dibilang nyempil di depan pintu masuk, namun loko ini sejatinya adalah ikon Lawang Sewu yang memang sejak awal dibangun adalah kantor perusahaan kereta api swasta pemerintah Belanda.

Melintas menyeberang jalan, Wilhelminaplein atau bundaran Tugu Muda menjadi tujuanku selanjutnya untuk membingkai kemegahan Lawang Sewu. Dengan sudut pandang yang berbeda gedung ini terlihat elegan. “Ini gedung memang cantik,” pikirku sambil memencet shutter kamera. Waktu bergeser menunjukkan pukul 20.30 saat aku melihat jam tangan.

Lokomotif Uap
Lokomotif uap C 2301, mentransformasi alat angkut sejak tahun 1908 – 1980. (Dok. pribadi)

“Mas, sebentar lagi tutup lho. Pintu gerbang akan ditutup,” kata penjaga Lawang Sewu, memintaku untuk mengakhiri petualangan hari ini.

Kini Lawang Sewu telah berbenah. Tak lagi intim dengan deretan kisah horor, menyeramkan dan kehidupan makhluk astralnya. Ia “malih rupa”. Bagaikan seorang noni Belanda yang bersolek dan mempercantik diri, Lawang Sewu sekarang terlihat elegan dengan balutan lampu-lampu sorot yang menyinari panggungnya. Tak menafikan bahwa bangunan yang mempunyai total 928 daun pintu ini menyimpan keindahan arsitektur klasik dan filosofi yang berharga untuk ditelusuri para pelancong. Semoga keberuntungan Dewi Fortuna dan kemakmuran Dewi Sri senantiasa menaungimu. Seperti harapan dua arsitek yang mengunggahnya lewat tampilan kaca patri, tergantung melintasi zaman di langit-langit gedung.

Selamat malam, Lawang Sewu. Kita bermain lain waktu.

Kaca Patri, didatangkan langsung dari Belanda.
Kaca patri dengan mozaik Dewi Fortuna (kiri, merah) dan Dewi Sri (kanan, biru). (Dok. pribadi)

16 Replies to “Selamat Malam, Lawang Sewu”

  1. Tapi tetep mas….Kenangan ama mantan itu adalah yang terindah….Wadaow.

    Itu motone kok koyo ngumpet ning pager, mas….moto nang njero ra mbayar iki mas….Haks haks haks.

    Sampeyan pernah ikut uji nyali di lorong bawah ga mas?

    Liked by 1 person

    1. Move on, Oom. Jangan melihat terus kenangan bareng mantan… Dia hanyalah kisah masa lalu 😀

      Hissh, aku mlebu ya. Bayar dong aah; bisa keluar masuk karena koneksi ke petugas pos jaga hahaha

      Nggak lah, Oom. Ngapain ikut uji nyali lorong bawah tanah; itu kan untuk tempat sirkulasi air. Pendek kok iku tinggi lorongnya, gawe sengsoro wae Oom 😀 😀

      Like

      1. Yang jelas kalau tempat bernilai sejarah patut dipelajari supaya kita nggak melupakan sejarah, mbak; naah kalau mantan cukup menjadi kisah masa lalu (sejarah)… nggak perlu diingat terus 😀 😀

        Liked by 1 person

  2. bagian lantai tiga itu katanya sama ngerinya dengan yg di bawah tanah. gara-gara aku nonton di channel youtube-nya jurnalrisa yang pernah bahas lawang sewu.
    aku sendiri cuma pernah ke bagian ruangan dengan pintu yg buanyak itu. mau turun ke bawah, ternyata pas lagi ada banjir jadi nggak boleh. pas mau naik, ternyata masih direnovasi.

    Liked by 1 person

    1. Iyaa, benar mas. Lantai tiga dan bawah tanah itu kan tempat tahanan tentara Belanda oleh Jepang. Termasuk juga tempat penyiksaan.

      Sempit sekali di bawah tanah itu, mas. Nggak bisa berdiri, kita mesti membungkuk kalau mau masuk. Dan juga karena fungsinya sebagai pendingin gedung yaa memang seharusnya dialiri air.

      Sebenarnya lebih menarik pohon mangga di tengah itu, mas. Konon usianya juga sepuh, 100 tahunan lebih. Nama pohon itu Lali Jiwo 😁

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s