Mbah Brambang, Pengampu Wayang Kertas

“Hidup itu seperti pergelaran wayang, dimana kamu menjadi dalang atas naskah semesta yang dituliskan oleh Tuhanmu” – Sujiwo Tejo

Lelaki tua berkacamata itu terlihat sibuk dengan alat kerjanya. Sesekali ia membenarkan letak kacamatanya. Ia kelihatan serius mengerjakan sesuatu. Tangan yang satu memegang besi kecil yang digunakan sebagai alat tatah, sementara tangan kanannya memegang palu kecil yang dipukulkan secara perlahan ke alat tatah.

Wagyo Mertowirejo, kerap disapa Mbah Brambang, adalah satu-satunya pengrajin wayang kertas yang masih berkarya dan melestarikan budaya wayang. Ia berasal dari Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Usianya tak lagi muda, 80 tahun. Namun semangatnya untuk tetap berkarya seolah tak pernah padam. Ia kutemui di rumahnya yang sekaligus berfungsi sebagai workshop.

Wayang kertas mbah Brambang
Mbah Brambang di rumahnya yang sekaligus berfungsi sebagai workshop wayang kertas.

“Kulonuwun, Mbah,” sapaku berbahasa Jawa. Kami serombongan berempat masuk ke rumah Mbah Brambang disambut ramah dan dipersilakan masuk oleh mbak Suparti, anak perempuan mbah Brambang yang menemaninya tinggal di rumah itu.

“Monggo, mas. Mang mlebet kemawon,” jawab mbak Parti dengan ramah. Sebentar ia segera membereskan meja kecil di ruang tamu. Kami segera duduk dan menyampaikan maksud dan tujuan kami datang, hendak mewawancarai dan mengambil video mbah Brambang untuk keperluan media cetak dan teaser video profile.

**Mari, mas. Silakan masuk,”

Baca juga: Mas Nur dan Omah Mbudur

Mbak Parti mempersilakan dengan senang hati serta menyampaikan maksud dan tujuan kami kepada mbah Brambang dengan berbahasa Jawa halus.

“Simbah punika tidak bisa berbahasa Indonesia, mas. Dia hanya dapat berbahasa Jawa,” mbak Parti menjelaskannya kepadaku dan Sinta, partner liputanku.

Matek kon!

Aku memang lahir dan bertumbuh di Jawa Tengah, namun sebagian besar waktuku dihabiskan hingga saat ini di Jakarta. Sementara Sinta, ia jelas tak dapat berbahasa Jawa. Claudio dan Fahmi, videographer kami, apalagi. Mereka anak metropolitan asli.

“Mas Yo kan orang Jawa, bisalah ngobrol sama Simbah. Nanti yang tulis liputannya Mas Yo juga ya,” Sinta memintaku sambal tertawa terkekeh. Aseem nian!

Wayang kertas
Proses menatah wayang kertas

Sejenak aku melihat deretan pertanyaan yang sudah kutulis pada secarik kertas sembari mulutku komat-kamit menggantinya dengan bahasa Jawa halus. Secepat kilat jaringan otakku berputar mengelilingi labirin-labirin dalam tempurung kepala, menjangkau kotak tersembunyi di bagian bawah gudang penyimpanan. Meramban dan memanggil segepok memori bahasa Jawa halus yang pernah aku pakai saat berbicara dengan ibu sewaktu kecil.

Dengan suara tegas nan perlahan aku mulai berbincang dengan Mbah Brambang. Sosok yang ramah dan menyenangkan… dan ternyata ia juga lucu.

Baca juga: Doa Dan Harapan Dalam Sehelai Kain

Kami berbincang riang, terkadang diselingi derai tawa. Akupun mulai merasa tak canggung lagi dan dekat dengannya. Walaupun ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang gagal aku ucapkan ke dalam bahasa Jawa halus, Mbah Brambang menjawab pertanyaan yang aku ajukan dengan penuh semangat seperti seorang kakek meladeni pertanyaan cucunya.

Mbak Parti sangat membantuku dengan menterjemahkan beberapa kata dalam bahasa Jawa. Ia tertawa ringan sembari berkata, “Nggih sampun lumrah menawi mas-nya sampun susah ngagem bahasa Jawa halus, lha wong sudah lama tinggal di Jakarta ya, mas.”

**Ya sudah lumrah kalau mas-nya sudah susah berbahasa Jawa halus, lha sudah lama tinggal di Jakarta kok ya, mas?”

Mbah Brambang berkisah saat ia memulai usaha wayang kertasnya sejak 55 tahun lalu, diawali dengan meniru desain wayang yang sudah jadi. Istilah yang dipakainya adalah menjiplak. Media awalnya adalah kertas kardus sisa bungkus obat nyamuk.

Seiring berjalannya waktu, mbah Brambang mengembangkan kepiawaiannya dalam pembuatan wayang dengan memperbarui bahan bakunya. Ia beralih menggunakan kertas perpak (kertas wondertek). Alasannya kertas ini lebih kuat, tebal, anti-air dan tidak mudah terlipat. Mbah Brambang juga mulai mencampur sebagian dari wayangnya dengan bahan kulit, biasanya pada bagian kedua tangan wayang.

“Supados mboten cepet rusak nalika digunakaken kagem adegan perang, mas,” jelas mbah Brambang.

Aku mengangguk mengiyakan penjelasannya.

Wayang kertas
Bahan baku wayang berasal dari kertas wondertek.

“Mbah, kapan persisnya Simbah wiwiti ndamel wayang kertas?” tanyaku dengan bahasa Jawa.

**Supaya tidak cepat rusak ketika digunakan saat adegan perang, mas,”

**Mbah, kapan persisnya anda mulai membuat wayang kertas?”

Dalam penjelasannya, mbah Brambang memulai pembuatan wayang kertas sejak tragedi banjir besar menenggelamkan hampir ¾ kota Solo. Ia tak ingat persisnya kapan, hanya menyebutkan peristiwa yang terjadi kala itu yang sangat diingatnya.

Saat aku mencari informasi kapan kejadian banjir besar di kota Solo, itu kira-kira terjadi tahun 1966. Peristiwa yang ditandai dengan hujan lebat tak kunjung reda, bahkan dari beberapa referensi yang aku temukan di internet, sempat diselingi hujan es. Tanggul di sekitar Bengawan Solo juga turut jebol sehingga airnya meluap dan membanjiri kota Solo.

Mbah Brambang melanjutkan penjelasannya, bahwa dalam pembuatannya wayang kertas melalui beberapa tahapan. Tahap awal adalah membuat pola yang disesuaikan dengan karakter tokoh wayang. Pola kemudian ditatah (dipahat) mengikuti alur gambar hingga terbentuk karakter wayangnya. Proses selanjutnya adalah menyungging wayang dengan media cat minyak.

“Kulo nyinaoni seni tatah sungging wonten ing Karanganyar,” kata mbah Brambang menjelaskan darimana ia belajar seni tatah sungging.

**Saya belajar seni tatah sungging di Karanganyar,”

Wayang kertas Mbah Brambang
Proses menyungging wayang kertas

Seni tatah sungging merupakan salah satu jenis kerajinan di bidang seni kriya yang identik dengan proses pembuatan wayang kulit. Seni tatah sungging terbentuk dari seni tatah yang berarti menatah/memahat dan menyungging yang artinya mewarnai.

Tahap terakhir yaitu tahapan pengeringan wayang, yang setelahnya akan dipasang penjepit dari bambu sebagai pegangan wayang. Dalam 1 pekan mbah Brambang dapat merampungkan kisaran 5 wayang kertas. Harga wayang kertas berkisar Rp85.000 – Rp150.000 tergantung dari besar kecil serta tingkat kerumitan pengerjaannya.

Meskipun terlihat sederhana, nyatanya pembuatan wayang membutuhkan proses yang cukup panjang ya.

Baca juga: Gunung Tidar, Antara Mati Dan Modar Serta Legenda Kyai Semar

“Kulo nggatekake sanget rincian menawi ndamel wayang kertas. Kulo mundhut pola wayang saking buku-buku wayang. Nalika kawulo kepengin ndamel karakter wayang, kulo tanglet marang tiyang ingkang nggambar babagan ndamel pola kasebut. Menawi sampun rampung, kulo ndamel cetakan, kagem ndamel wayang kertas sabanjure,” Mbah Wayang melanjutkan penuturannya.

** Saya sangat memperhatikan detail pembuatan wayang kertas ini. Pola wayang saya ambil dari buku-buku wayang. Ketika saya ingin membuat suatu karakter wayang, saya meminta kepada orang yang menggambar untuk membuatkan pola itu. Dan itu saya jadikan cetakan, untuk pembuatan wayang kertas selanjutnya.”

Wayang kertas Mbah Brambang
Proses mewarnai wayang kertas

Mbah Brambang awalnya menjual sendiri wayang kertas hasil usahanya dengan berkeliling saat usianya masih muda. Namun karena saat ini ia telah beranjak sepuh, putranya ganti menjajakan wayang kertas dengan berjualan di pasar Kliwonan, Bekonang, Sukoharjo.

“Sak meniko sampun kathah piyantun ingkang tindak mriki tumbas wayang kertas kulo, mas,” tambah mbah Brambang sambil meminum teh tubruk dari gelasnya.

** “Sekarang sudah banyak orang yang langsung datang ke rumah saya untuk membeli wayang kertas, mas.”

Di usia yang tak lagi muda, Mbah Brambang tetap mengekspresikan kecintaan dan konsistensinya kepada budaya Jawa khususnya budaya wayang. Ia mengabdikan seluruh hidupnya pada kesenian adi luhung tersebut dengan terus berkarya membuat wayang kertas. Beliau bukanlah seorang dalang kondang, namun ia tak lupa selalu mengisahkan cerita pewayangan kepada siapa saja yang datang ke rumahnya, walaupun saat ini kebudayaan wayang makin tergerus oleh arus modern.

“Saya akan terus berkarya membuat wayang kertas sampai saya mati. Saat ini anak saya Suparti yang membantu dalam pengerjaan wayang kertas. Harapan saya, wayang kertas akan menjadi karya yang dapat dinikmati anak cucu nanti.” Mbah Brambang menutup perbincangan denganku.

Mbah Brambang memainkan wayang kertas karyanya.

Tangan yang terbalut kulit keriput itu terlihat piawai memainkan wayang kertasnya. Ia mengisahkan cuplikan cerita perang Barata Yudha. Di tangan kanannya ia memegang tokoh Werkudoro atau Bima, tokoh wayang  idolanya, sambil mulutnya menyuarakan riuhnya peperangan. Mengasyikkan melihat tontonan dari Mbah Brambang. Kami berempat betah melihatnya sementara mulut kami terisi potongan singkong goreng dan secangkir teh tubruk yang disajikan mbak Parti di meja tami.

Mbah Brambang, sang perawat wayang kertas.

Sukoharjo, Februari 2018.

*Tulisan ini pernah ditayangkan di In-flight Magazine Citilink bulan Agustus 2018saat ini sudah mengalami penyuntingan untuk ditayangkan di blog pribadi.

9 Replies to “Mbah Brambang, Pengampu Wayang Kertas”

  1. Dulu waktu kecil, setiap nonton pertunjukan wayang kulit sering beli wayang kertas yg dijual di luaran panggung. Sampai punya seperangkat wayang yg sesekali aku mainkan walau gk bisa ndalang. 😁

    Liked by 1 person

      1. Kalau wayang kertas yg kukoleksi dulu harganya murah, karena lebih sebagai mainan anak2. Jadi bisa beli banyak. Tokoh punakawan lengkap, tokoh2 raksasa, bahkan limbuk, cangik, togok, mbilung jg ada. 😃

        Liked by 1 person

Leave a Reply to travelingpersecond Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s