Jakarta, Balikan Sama Mantan

“Engkau di sana, aku di sini. Meski hatiku memilihmu. Yang t’lah kau buat sungguhlah indah. Buat diriku susah lupa.” Mantan Terindah – Raisa

Kisah sebelumnya yang wajib dibaca

Aku pulang.

Jakarta menjadi tempat perhentianku selanjutnya setelah masa “pengasingan” selama kurang lebih 1 tahun di kota Seribu Bunga, Magelang. Di kota tempat Pangeran Diponegoro ditangkap itulah aku melambatkan langkah dan menepi. Melepas lara, menggenggam asa dan pula menemukan kehangatan cinta.

Berita banjir yang melanda kawasan Jabodetabek menjadi alasan kepulanganku di awal tahun 2020. Itupun karena dapat kabar dari tetangga kalau sungai yang letaknya tak jauh dari rumah meluap dan airnya masuk sekitar 10 cm ke dalam rumah. Paniklah, secara pas saat itu aku sedang liburan akhir tahun di Salatiga hehehe.

Seminggu kemudian aku kembali ke Bekasi dan mendapati kondisi dalam rumah yang porak-poranda imbas dari banjir. Bau apek karena kasur yang menyerap air dan bertahan di sana selama seminggu. Juga baju, buku-buku, sofa dan perabotan lainnya.

Imbas banjir
Sisa-sisa banjir Jabodetabek (Dok. pribadi)

Lantai rumah penuh dengan lumpur sisa banjir. Sepatu yang terpisah satu dengan lainnya entah di mana. Bangkai kecoa, kelabang dan binatang insect lainnya terbaring kaku di lantai kotor. Bisa kalian bayangkan?

PR banget kan bersihinnya hihihi…

Pertengahan bulan Januari aku memasuki kantor baru. Sebuah perusahaan konsultan aplikasi perhotelan di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan.

Sebenarnya aku (nyaris) pernah diterima di perusahaan ini medio 2014. Namun karena saat itu terjadi akuisisi oleh perusahaan database berbasis di Amerika maka proses perekrutan karyawan yang telah dilakukan terpaksa ditunda. Jadinya ini seperti reuni karena dari beberapa karyawan yang ada, aku telah mengenal mereka dengan baik.

Mega Kuningan Jakarta
Kantor di Jakarta (Dok. pribadi)

Perjalanan setiap hari menggunakan alat transportasi kereta menjadi rutinitas baruku. Biasanya aku menaiki motor ke kantor namun mulai membiasakan diri menggunakan alat transportasi publik tak ada salahnya sih.

Maret 2020, Covid-19 strikes Indonesia! Kan bedebah banget ya! Pembatasan di public space-pun dimulai. Pengetatan di sana-sini. Tatanan baru dalam kehidupan pribadi dan juga komunal dimulai.

Baru juga masuk kantor baru eeh keputusan perusahaan mengharuskan para karyawannya bekerja dari rumah (WFH).

Jakarta yang biasanya hiruk pikuk seketika menjadi seperti kota yang tak bergairah. Namun ini terjadi tak hanya di Jakarta. Kota-kota lainnya di dunia mengalami hal yang sama. Pesakitan secara global.

Patung Ondel-ondel
Patung Ondel-ondel di Kemayoran (Dok. pribadi)

Kembali ke Jakarta itu bagai balikan sama mantan. Paling tidak itu menurut pendapatku. Kota ini telah berjasa memberi penghidupan sekian tahun buatku. Memberi kesenangan pula kenangan menyakitkan. Membawa kesuksesan namun juga jadi saksi nyungsepnya kehidupanku. Komplit.

Jakarta punya tempat khusus di kehidupanku. Meski sudah pernah disakiti namun masih tersimpan rasa sayang pada kota ini. Aku memang tak secepat itu bisa move on. Ciee ciee… Uhuk!

Sebelum aku memutuskan untuk balikan sama mantan (kota) ini, setidaknya ada beberapa pertimbangan sih. Namanya juga balikan sama mantan tentunya nggak mau gagal untuk kedua kalinya. Yee kan, hihihi…

Aku merindukan kebersamaan dalam kemacetan. Ini hal paling absurd yang menurut sebagian orang menyebutku sinting. Kemacetan menjadi momok namun buatku itu sebuah keasyikan dan itu tak aku temui saat berada di kota Magelang ataupun Yogyakarta, tempatku biasa minggat setiap akhir pekan.

Masjid di Jakarta
Masjid Ramli Moestofa di Sunter, Jakarta Utara (Dok. pribadi)

“Putus” dengan Jakarta, walaupun tak dalam waktu lama, membuatku merasa seperti kehilangan. Tahu nggak, tidak semua orang bisa beruntung balikan lagi sama mantan lho!

Aku belajar dari kesalahan masa lalu dan tentunya bertekad untuk tidak mengulang kesalahan yang sama kepada kota metropolitan ini.

Jika aku beralasan hanya rindu kepada Jakarta, itu bukanlah alasan yang terpenting untuk balikan. Jakarta pernah membahagiakanku di masa lalu dan aku telah mengenal betul karakter kota ini. Tentunya dengan balikan ke (kota) mantan ini, aku tak memerlukan waktu lagi untuk beradaptasi.

Alasan lainnya, hampir semua kolega di kerjaan dan teman-teman main semuanya berada di area Jabodetabek. Klop kan!

Jalanan Jakarta
Salah satu ruas jalanan di jantung kota Jakarta (Dok. pribadi)

Balikan sama mantan (kota) berarti memberikan ruang untuk memperbaiki diri. Kegundahan dan kekuatiran di masa lalu tentunya menjadi bahan permenungan juga. Ya mendebarkan gitu deh!

Jakarta tentu tetap dengan sikap pongahnya, tak bisa memberikan jaminan bahwa hubungannya denganku kali ini akan menjadi lebih baik. Atau bahkan bisa lebih buruk dari sebelumnya. Tak ada kepastian.

Namun  dibalik itu semua, aku tetap berharap yang terbaik dan tak akan melihat lagi apa yang telah lalu dan menjalani hubungan berdua dengan mantan (kota) ini dengan lebih bijak.

Jakarta, nyatanya masih menyimpan banyak misteri, sisi baik dan jahatnya serta sisi romantis yang belum sempat aku eksplorasi di perjalananku sebelumnya.

Baiklah, mari kita menjelajah kota ibukota, JAKARTA.

12 Replies to “Jakarta, Balikan Sama Mantan”

  1. jakarta tuh gimana ya. banyak yang benci karena katanya keras, macet, dan sebagainya, tapi mereka-mereka juga yang bilang kangen jakarta kalau udah balik ke kampung halaman masing-masing. hahaha.

    mungkin emang bener kalau diandaikan kayak mantan sih, ya. meskipun dibenci karena bikin sakit, tapi kadang suka ngangenin.

    Liked by 1 person

    1. Naah ya itu, Mas. Jakarta terkadang jadi antagonis plus bisa pula jadi protagonis; Menyebalkan namun bisa juga menyenangkan.

      Koes Plus saja sampai bikin lirik lagunya tentang Jakarta:
      “Ke Jakarta aku kan kembali/ walaupun apa yang kan terjadi”.

      Bingung ya memikirkannya, sama kayak mikirin mantan terindah 😀

      Like

    2. Jakarta.
      Saya suka dan tak suka.
      Tapi tak punya pilihan untuk pindah ke tempat yang saya ingin.
      Jakarta. Dan sekitarnya.
      Dengan itu semua saya harus berdamai dengan diri.

      BTW soal kebanjiran itu yang terbaik pertama atau bukan?
      Lingkungan cepat berubah.

      Liked by 2 people

  2. Hanya “orang gila” yang bisa bertahan di Jakarta……Wkwkwk. Aku juga menjadi salah satu dari golongan itu.
    Tapi kantormu keren ya, mas….gedung bertingkat begitu……
    Tapi segila-gilanya Jakarta, tetap saja nikmat mas segala isinya….Hahaha.

    Liked by 1 person

  3. Mas, menurutku, bagusnya balikan sama mantan tuh hemat energi. Sudah saling mengenal, tahu baik buruknya, jadi gak susah-susah amat menyesuaikan diri. Nah kelakuannya juga lebih mudah diantisipasi biar gak dilukai kedua kali wkwkwkwk..

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Evi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: