Magelang dan Senandung Cinta Yang Pernah Hilang (2)

“Tak ada yang salah dengan sejenak menepi. Memberi jeda pada diri untuk perjalanan yang telah menanti. “– @burgerk3ju

Baca bagian sebelumnya

Perjalanan ke Ternate & Manado selama 2 minggu seakan menjadi jamu yang manjur sekaligus penawar kegalauan setelah kegagalanku berangkat ke Maldives. Sisa waktu 2 minggu yang tak akan aku sia-siakan hilang begitu saja.

Sebentar lagi aku bakal menjadi orang yang mengikatkan diri kembali dengan aturan-aturan korporasi yang terkadang terlihat tak adil. Terbayang aku akan bertemu kembali dengan atribut dan juga perangai rekan kerja yang seringkali bikin kita mengelus dada.

Pengalaman solo traveling ke Maluku Utara dan bumi Minahasa menjadi perjalanan pamungkas terjauh yang pernah aku lakukan. Menemukan kepingan cerita yang aku cari selama ini. Menatanya dengan rapi kemudian. Melengkapi kepingan-kepingan lain yang sudah tersusun sebelumnya.

Baca juga: 11 Jam Di Negeri Rempah 1 & 2

Kota Tinutuan, menjadi tempatku melempar sauh dan mengikat kapal kehidupan yang telah aku tumpangi sekian lama dengan segudang cerita di dalamnya. Kapal kehidupan yang aku cintai dengan penuh luka. Membakarnya hingga lebur menjadi abu. Membuatku tak lagi dapat mengarungi lautan dengan kapal yang telah hancur.

Kapal kehidupan yang baru sudah tersedia di tempat lain, di Magelang.

Professionalisme Vs Yes-man

Menjadi tenaga professional di tempat bekerja yang baru tentunya punya tantangan tersendiri. Di Kota Sejuta Bunga ini waktu seakan berjalan perlahan. Berbeda dengan ritme kerja di kota metropolitan yang serba terburu-buru. Aku harus menyesuaikannya. Belum lagi culture shock yang sangat berbeda juga memerlukan waktu untuk memahami.

3 bulan pertama menjadi ajang pertaruhan bagiku. Petaka pertama datang. Staff-ku satu-satunya memutuskan resign dengan alasan mendapatkan tawaran pekerjaan di tempat lain dengan bayaran – yang menurutnya – lebih besar.

Baca juga: Gunung Tidar, Antara Mati Dan Modar Serta Legenda Kyai Semar

Aku merenung dengan pertanyaan menggelayut. Apakah langkah yang telah aku ambil sepenuhnya benar atau sekedar bias. Apakah kapal yang baru ini sanggup bertahan mengarungi lautan dan bertahan melawan badai? Bayangan akan segudang keruwetan terkait pekerjaan muncul di otakku.

Bertahan seorang diri mengurusi 193 kamar hotel dengan area pekerjaan yang lumayan luas adalah pekerjaan yang tak mudah.

Magelang, Kota Sejuta Bunga di waktu malam. (Dok. pribadi)

“Jika kamu sudah tak mampu memberikan the best of you, buat apa bertahan. Lebih cepat mengundurkan diri, itu lebih baik. Daripada kerja dengan terpaksa, buat apa?” begitu yang aku katakan saat staff-ku berpamitan.

Aku tak mempersulit prosesnya untuk resign, karena setiap orang berhak mendapatkan hal yang lebih baik – sekali lagi, itu menurut ukuran dia.

Sederhana saja.

“Saatnya kerja cerdas,” begitu pikirku.

Aku menghubungi beberapa vendor yang telah bekerja sama dengan perusahaan. Mengkolaborasikan beberapa sistem yang ada untuk dapat bekerja secara otomatis dan terjadwal. Semua ini mempermudahkan pekerjaan dan aku dapat mengontrolnya lewat sebuah aplikasi dashboard baik dalam ruang kerja maupun kendali jarak jauh (remote).

Baca juga: Mencumbu Setumbu

Efektivitas kerja dengan jadwal yang teratur dan terstruktur menjadikan pekerjaan lebih ringan dan menyenangkan. Tak sia-sia aku sedikit belajar tentang time management yang benar-benar teraplikasikan untuk mengatasi resources terbatas.

Perlahan namun pasti, kendala kekurangan staff bukan lagi menjadi isu yang perlu saat itu juga dicari solusinya. Namun, diujung sana mulut-mulut sampah mulai mencibir karena aku jarang berkumpul bersama mereka. Lebih menikmati pressure pekerjaan daripada sekedar kongkow-kongkow tanpa arti.

Maaf, bro sis. Time is ticking. And surely, I don’t need your judgement thank you very much.

Barengan rekan-rekan kerja bagian operasional kitchen. (Dok. pribadi)

Penjelajahan tempat-tempat baru

Menjelajah ke banyak tempat yang menyajikan cerita untuk ditemui menjadi sesuatu yang harus diagendakan tiap akhir pekan jika tak ada hal mendesak yang perlu dikerjakan di kantor. Magelang menyimpan banyak sekali “hidden gems”.

Berbekal peta wisata yang aku temukan di hotel tempatku bekerja, tak sampai seumur jagung, deretan tempat itu telah aku sambangi. Bertualang hingga lereng gunung Sumbing, bercakap akrab dengan pengelola hutan tempat berkemah hingga dipaksa bermalam di rumahnya adalah pengalaman baru dan menyenangkan yang pernah aku temui.

Baca juga: Senandung Sunyi Mangli

Aku menemukan kembali denyut nadi kehidupanku. Aku diterima menjadi anggota keluarga di kota kecil yang terletak di tengah-tengah pulau Jawa ini.

Keramahtamahan yang pernah aku temukan di Manokwari, tanah Papua saat liputan 3 tahun lalu, aku rasakan pula saat bertamu di rumah seorang kawan yang pernah menampungku saat acara Festival Lima Gunung berlangsung di lereng gunung Merapi.

Para penari “Wanita Yang Dimuliakan Lewat Tarian” – Festival Lima Gunung, 2018 (Dok. pribadi)

Masih teringat di benakku wejangan dari seorang tetua Dayak di Pegunungan Meratus, Banjarmasin, ternyata juga aku dapatkan saat berbincang dengan Mas Nur, penggiat budaya dan pengrajin miniatur candi Borobudur.

Sikap lugu dan polosnya Sahrul, anak muda asal Ternate, juga aku temui kala singgah ke sebuah kedai kopi tua di dekat candi Borobudur.

Aku masih ingat benar, Sahrul yang tak sengaja aku temui di konter penjualan voucher kartu seluler, rela mengantarkanku berkeliling kotanya bahkan saat matahari tepat menyengat ubun-ubun. Di tengah hari bolong pula, ibu yang punya kedai kopi di Borobudur, mempersilakan aku duduk dan beristirahat sembari menghidangkan secangkir minuman dan sepiring kudapan walau warungnya tengah tutup.

Soto Lesah
Sepiring kenikmatan Soto Lesah (Dok. pribadi).

Saat aku menyantap nikmatnya Milu Siram di Gorontalo, akupun juga merasakan petualangan kuliner yang sedap kala menyendok Soto Lesah, kuliner khas kota Magelang berkuah kuning nan lezat.

Sedapnya ikan Cakalang Fufu yang aku temui di pantai Manado juga aku temukan saat mampir dan menyantap sepiring Mangut Iwak Beong, masakan yang beraroma kuat dan terasa pedas di bantaran Kali Progo.

Sup Brenebon dari Manado dan juga Sup Senerek dari Magelang, seakan saudara kembar yang membius dan membuat ketagihan indra pengecapku.

Hangatnya sapaan Saraba dari tanah Celebes juga aku nikmati saat berjumpa dengan kehangatan Wedang Kacang Kebon.

Mangut Iwak Beong dengan rasa pedas dan beraroma kuat. (Dok. pribadi)

Magelang benar-benar membiusku. Nikmatnya kuliner dan hawa yang dingin serta berkabut kala musim penghujan tiba ini mencuri perhatianku. Lekuk-lekuk pegunungan Menoreh, seksinya deretan pohon pinus yang terlihat di lereng Merbabu dan Sumbing bagaikan lekuk seksi seorang wanita. Betah lama-lama memandangnya dengan decak kagum.

Perlahan, aku mulai menemukan rasa cinta pada kota ini. Menyisihkan keinginan melihat kembali brosur Maladewa yang lama tersimpan di saku keril.

Baca juga: Perempuan Yang Dimuliakan Dalam Sebuah Tarian

Saat tekanan di kantor menumpuk dan mulai menindih pundak, aku hanya perlu waktu sepeminuman teh dan menemukan ketenangan di punthuk Setumbu. Menitipkan keluh kesah pada kabut pagi yang setia menutupi Borobudur, candi megah karya klan Syailendra.

Magelang akhirnya menjadi tempatku melambatkan langkah dan sejenak menepi. Menikmati setiap bunyi detak jantung dan detik waktu yang berputar. Berkesempatan melihat banyak hal yang aku lewatkan sekian lama saat berjalan tanpa kenal jeda. Melihat kembali ke belakang deretan jejak-jejak langkah yang perlahan mulai hilang tersapu angin. Aku melihat diri ini berproses untuk berani melepaskan masa lalu dan menerima kebaikan yang kini hangat tersaji.

Borobudur, Magelang
Candi Borobudur dari Punthuk Setumbu. (Dok. pribadi)

Aku tersadar, sepertinya keramahan dan ketenangan yang disuguhkan kota Magelang menjadi pembenaran akan ucapan ibuku. Masih lekat dalam ingatan sepotong kalimat yang pernah diucapkannya, “Prosesmu memang belum selesai.”

Ya, aku memang belum selesai berproses.

Tentangmu dan kembali pulang

Saat memperlambat langkah, pada sebuah titik temu, aku kembali menemukan kehangatan cinta. Pula segenggam asa. Kami, dua hati yang sama-sama tengah berjuang dengan jalan ceritanya masing-masing. Berdua melebur lara dan bersepakat mengubah arah cerita. Menuliskannya menjadi senandung cinta.

Magelang menjadi sebuah kisah baru bagiku yang tak pernah disangkakan sebelumnya. Kisahku di kota ini dibuka oleh rasa kecewa, namun tak berakhir menjadi abu.

Aku memang tak lama berada di Magelang. Genap satu tahun dan ceritaku di Kota Santri ini harus disudahi. Sebuah akhir yang sekaligus menjadi awal perjalanan selanjutnya. Kembali menuju ibukota Jakarta untuk menjawab tantangan yang baru.

Aku pulang.

Pangeran Diponegoro
Patung Pangeran Diponegoro, Magelang. (Dok. pribadi)

Aku berdiri mematung di depan patung Pangeran Diponegoro yang terletak di alun-alun kota Magelang. Setahun lalu sebelum tinggal menetap, hal yang sama pernah aku lakukan juga. Patung yang gagah dengan tulisan “Turonggo Tinitihan Sesekaring Bawono” pada bagian dinding penyangganya. Kalimat itu artinya Kuda yang dinaiki Putra Bangsa dan juga bermakna sengkala 1977. Mengagumi kegagahan pahlawan nasional yang ditangkap oleh Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock di kota ini.

Aku mengucap salam perpisahan pada kota Seribu Bunga untuk segala keramahannya. Untuk semua kebaikan dan kepingan cerita yang aku temukan. Segera aku akan menyusunnya dan melengkapi kepingan cerita lain.

Baca juga: Abrakadabra, Mantra Penyembuh

Kamu, senandung cinta yang kutemukan kembali, akan selalu berada dalam jiwa. Membentuk ketukan di detak jantung yang berirama. Mengalirkan darah pada nadi kehidupanku.

Perjalanan akan selalu memberikan banyak kejutan yang tak pernah kita duga. Terkadang, saat keadaan menjadi tak sesuai dengan apa yang kita mau justru itulah yang dipakai sebagai penghantar kebaikan.

Magelang
Aloon aloon kota Magelang. (Dok. pribadi)

Kepingan-kepingan cerita yang kita temui di sepanjang perjalanan pada akhirnya akan menjadi gambar yang utuh dan menjadi jalinan cerita terbaik yang kita punya.

Kembali lagi ke pangkuan ibukota bagaikan memutar ulang waktu ketika pertama kali aku menginjakkan kakiku di Jakarta 25 tahun lalu. Déjà vu. Rasanya seperti balikan sama mantan.

Seorang kawanku pernah berucap, “Cari pacar baru, jangan kembali ke mantan!”

Tak ada salahnya ucapan kawanku itu, namun aku memilih “kembali ke mantan” dalam perjalananku selanjutnya.

Kemacetan kota besar yang terjadi tiap hari, waktu yang berjalan cepat dan bunyi klakson mobil ngehek bakal menjadi suntikan energi dan suplemen bagi jiwa-jiwa perantauan. Termasuk aku salah satunya.

Jakarta, January 2020.

5 Replies to “Magelang dan Senandung Cinta Yang Pernah Hilang (2)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s