Menggempur Guntur

Malam belumlah larut ketika sebuah pesan pendek mampir ke gawai saya; sembari menyesap segelas kopi yang sedikit lagi habis di cangkir, saya membuka pesan itu. Ternyata sebuah pesan dari chat grup yang bersepakat kami akan mengadakan pendakian gunung di liburan Lebaran kali ini.

“Camping semalam di Guntur, turun ke Cipanas, berendam air panas disana. Hari berikutnya jenguk teman kita yang sakit.”

Begitu bunyi pesan singkat itu. Sayapun mengiyakan tanpa ragu dan segera membalasnya; walau ada sedikit rasa penasaran dari perubahan rencana awal. Buat saya tidak jadi masalah, namanya juga berpergian – apalagi dalam rombongan – pasti akan ada perubahan rencana. Sudah biasa. Saya sendiri, termasuk seorang yang terbiasa dengan solo traveling. Tidak perlu ribet.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalur pendakian G. Putri

Sesuai dengan kesepakatan kami berempat bertemu di terminal bis, Garut dan Gunung Guntur tujuan kami. Dalam perjalanan, saya memutuskan untuk tidur karena tidak ada hal yang cukup menarik untuk saya explore. Disamping itu, saya juga lelah badani setelah semalam sebelumnya baru pulang dari 3 hari berpergian ke pantai.

Dari informasi yang saya dapatkan, gunung Guntur terletak di desa Sirnajaya, Tarogong Kaler, Kabupaten Garut – Jawa Barat. Berketinggian 2249 mdpl dan masih tergolong gunung yang aktif. Jalur pendakian bisa lewat Curug Citiis atau Cikahuripan. Kami belum memutuskan akan lewat jalur pendakian yang mana, hingga kami sampai di kota Garut. Beberapa teman kami sudah menunggu dan menjemput kami begitu kami tiba disana. Mereka ini penduduk ASGAR (Asli Garut). Malam itu kami menginap disalah satu rumah teman kami, cukup nyaman – setelah sebelumnya makan malam yang dahsyat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Terbaik memang!

Rayuan Gunung Putri

Pagi beringsut pergi, sementara kami mempersiapkan barang bawaan dalam carrier kami. Perjalanan yang kami putuskan sebelumnya lewat jalur Cipanas seketika berubah demi sekelebat usulan untuk menempuh jalur pendakian yang lebih pendek, lewat jalur gunung Putri. Menurut Kang Ma’ad, lewat jalur ini bisa menghemat waktu 2 -3 jam. Hmm… berarti kita bisa lebih cepat sampai doong, begitu pemikiran kami.

“Lewat jalur gunung Putri kita bisa melihat pemandangan yang cantik, mas,” begitu kata Ma’ad, penduduk ASGAR yang kami tahu setelahnya adalah seorang pemburu babi hutan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalur menuju puncak G. Putri

Kami berlima (satu teman kami bergabung) tanpa ragu mengikuti saran Ma’ad, pertimbangannya adalah dia penduduk asli dan sudah seringkali turun naik gunung dan sangat mengenal medannya. Pendakian dimulai dengan menyusuri jalan setapak dalam perkampungan, ladang, hutan bambu dan kemudian mulai jalur tanjakan. Masuk kemudian ke dalam hutan yang tidak mudah kami lewati karena tingkat kemiringannya. Cukup menguras tenaga hingga kami mencapai puncak bayangan, sementara kita masih harus turun lembah dan naik lagi dimana tumbuhan dengan ranting dan akar yang bersliweran – ditambah jalur ini jarang sekali pendaki lewat sini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Rumput Vetiver (Vetiveria zizanioides) / Tumbuhan akar wangi

Kita juga melewati ladang tembakau, ladang kopi dan akar wangi. Tumbuhan akar wangi dikenal dengan nama lain rumput Vetiver (Vetiveria zizanioides), dari akarnya akan dihasilkan minyak Atsiri atau Vetiver Essential Oil. Salah satu kegunaan akar wangi ini cukup ampuh mengusir nyamuk. Tak lama kami sampai di puncak gunung Putri yang berketinggian 1450 mdpl, ditandai dengan adanya menara bambu berbentuk kerucut dengan tinggi 45 meter; dari informasi yang saya dapatkan di internet menara bambu ini sebelumnya dipakai untuk mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih berukuran raksasa (8m x 17m) pada hari kemerdekaan tahun 2016.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Downlight TERBAIK!

Tak lama kami beristirahat di atas, sekedar mengisi perut dan membasahi kerongkongan yang kering haus terkuras. Dengan menuruni jalur penuh ilalang, berkontur tanah pasir serta berkemiringan hingga 60 derajat kami sampai di peternakan sapi; dan seterusnya kami melintasi perladangan tembakau, cabai dan kopi milik warga. Tak lama kami sampai di pos komando gunung Guntur, atau lebih terkenal dengan nama Cikahuripan. Disini kami bersepakat mendirikan tenda, membuka logistik dan beristirahat hingga malam sebelum paginya kami menuju puncak.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Malaikat juga tahu siapa yang paling ganteng…

“Disini ada mata air yang airnya dingin jika siang hari, mas. Tapi ada kepercayaan yang bilang bahwa jika kita mandi tepat jam 12 malam airnya menjadi hangat. Disertai dengan doa atau permintaan, niscaya akan terkabul.” Ma’ad menjelaskan dengan semangat.

 “O ya? Wah boleh juga tuh,” rasa penasaran saya muncul.

 Tetapi, saya memutuskan untuk tidur lebih cepat daripada mengiyakan pembicaraan dengan Ma’ad tadi. Lelah badani. Sepakat kami berlima beristirahat setelah makan malam, demi menggempur puncak Guntur esok hari. Sementara Ma’ad minta ijin balik turun sekedar mengambil anjing-anjingnya, dan berburu babi hutan sekembalinya dari bawah. Ini orang ASGAR tidak ada capek-capeknya, mungkin dia masih saudara jauh THOR. Hahahaha…

Pasir, ilalang, gersang

Jam setengah empat pagi kami berlima bergegas mengemasi barang atau logistik yang akan kami bawa, sementara Ma’ad sudah siap dengan 3 anjingnya – Acil, Kapuk dan Pitung. Ma’ad dan ketiga anjingnya ini semalam baru selesai berburu babi hutan di gunung, hanya saja sepertinya mereka kurang beruntung. Perjalanan menuju puncak kami mulai dengan melewati ladang tembakau milik warga, kontur tanah gembur dan menanjak membuat perjalanan agak sedikit berat. Jalur seperti ini kami temui hingga menjelang pos I (Panyawangan, 1721 mdpl). Sementara menuju pos II (Panyileukan, 1854 mdpl) lebih didominasi rumput ilalang dan tanah berkontur keras. Dari pos II menuju lereng sebelum puncak jalur didominasi pasir dan bebatuan kerikil khas gunung berapi, disertai tumbuhan dengan tingkat vegetasi yang cukup rapat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saya yang cukup lelah memilih naik dengan membawa Pitung dan kadang berganti Kapuk; yang ternyata cukup ampuh menghemat tenaga. 40% tenaga saya seperti disedot oleh mereka, dan mempermudah saya untuk meneruskan perjalanan mencapai puncak. Kurang lebih 4 jam kami tempuh hingga sampai puncak – disertai istirahat beberapa kali. Well, we are slow walker.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Saya dan Kapuk… Makhluk Alien berwujud anjing 🙂

Dari puncak Gunung Guntur saya bisa melihat bahwa gunung ini memiliki karakteristik berpasir dan tampak gersang. Sebagian besar ditumbuhi ilalang membentuk padang savanna, sehingga berwarna coklat pirang ketika musim kemarau tiba. Dengan tingkat kemiringan hingga 75 derajat, mendaki gunung ini perlu cukup stamina dan persiapan fisik yang mumpuni. Puncak gunung Guntur sendiri ada 7, dimana hanya puncak 1 – 4 saja yang boleh kita daki; sementara puncak 5 – 7 merupakan pusat konservasi alam yang tidak boleh sembarang orang bisa masuk. Di sana masih merupakan habitat babi hutan, ular dan macan kumbang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah saya tahu, ternyata kami naik di puncak yang ketiga. Sementara puncak kedua yang terdapat kaldera cukup luas ada di depan kami. Mendaki gunung Guntur itu cukup menguras tenaga, batin dan perasaan – macam kamu gitu deh. Iya, kamu… Hahaha

Gunung Guntur memang tidak terlalu tinggi, hanya saja cukup menyiksa. Menyiksa dengan kenangan dan pemandangan yang indah. Puas menikmati keindahan gunung Guntur, kami segera bergegas turun. Dengan kontur tanah berpasir mempermudah dan mempercepat kami turun, hanya perlu lebih berhati-hati. Lelah badani, lelah hayati – tetapi gunung Guntur memberikan pelajaran tersendiri; jangan lupakan gunung Putri dengan rayuan “nakal”nya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Nikmat mana lagi yang kau dustakan?!?

Terima kasih alam liar, terima kasih penduduk ASGAR, terima kasih Acil, Kapuk, Pitung… Terima kasih.

“Dalam setiap perjalanan di alam bebas, seseorang akan menerima jauh lebih banyak dari apa yang ia cari.” – John Muir

Kalau naik gunung jangan lupa sampahnya dibawa turun ya… NYAMPAH ITU NGGAK KEREN!

This slideshow requires JavaScript.

 

Advertisements

One Reply to “Menggempur Guntur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s