Tentang erotisme dan keagungan Candi Sukuh

Aku terkesiap ketika melihat sebuah arca dimana tangan kirinya memegang alat kelaminnya yang menegang ke atas. Masih ada beberapa relief lainnya di area candi yang dapat kita temukan, berupa obyek lingga dan yoni yang melambangkan sensualitas. Candi ini memang terkenal dengan kontroversinya. Banyak orang bahkan menyebutnya dengan nama “candi mesum”. Tunggu dulu, mungkin hanya otak kalian yang mesum!

Patung Sukuh
Salah satu patung “erotis” di candi Sukuh

Aura penuh kedamaian sontak aku rasakan begitu menginjak pelataran candi yang berupa 3 teras berundak. Bukan karena aku punya indra ke enam atau sebangsanya, tetapi memang itu yang aku rasakan. Mistis, dingin, damai dan merasa seperti “kembali ke rumah”.

Sore itu hawa dingin menusuk kulit, sementara kabut cukup tebal turun dari arah belakang candi yang berupa hutan dataran tinggi. Memasuki teras pertama di pintu masuk Candi Sukuh, sebuah pahatan phallus yang tengah ereksi dan vagina yang tengah bersentuhan menyambutku. Menyoal Candi Sukuh yang dianggap sebagai candi kamasutra ini sudah aku dengar, bahkan katanya candi ini pun dijuluki sebagai candi mesum. Namun ini pertama kalinya aku melihat sendiri apa yang diomongkan orang-orang itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pahatan lingga dan yoni di lantai gerbang masuk pelataran candi

Pak Gunawan seorang penjaga candi yang aku jumpai sore itu menjelaskan bahwa pahatan di lantai gapura pintu masuk itu merupakan gambaran bersatunya lingga (kelamin perempuan) dan yoni (kelamin laki-laki) yang merupakan lambang kesuburan. Ia yang awalnya merupakan seorang volunteer akhirnya diangkat sebagai petugas Dinas Pariwisata belum lama ini.

“Pahatan di lantai pintu masuk itu juga merupakan mantra yang dimaksudkan untuk “ruwatan” (menangkal atau menghilangkan) segala hal atau kekuatan buruk yang ada di hati, sehingga ketika orang masuk ke dalam tempat suci ini dan melangkahinya semua kekotoran di dalam hati dan tubuhnya akan sirna. Yang ada hanya pikiran dan tubuh yang suci,” begitu tandasnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pak Gunawan menjelaskan sejarah candi Sukuh kepada para pengunjung

Candi Sukuh menurutku berarsitektur sederhana, tidaklah serumit candi-candi besar macam Borobudur atau Prambanan. Bangunan induk yang berada pada teras paling atas mirip sebuah kuil peninggalan Suku Maya di Meksiko bernama Chichen Itza. Keduanya mempunyai bentuk arsitektur yang sama yaitu bentuk piramida yang terpotong pada bagian atasnya. Dari keterangan Dinas Pariwisata Karanganyar, candi Sukuh dibangun masyarakat Hindu Tantrayana tahun 1437 yang menjadikannya sebagai candi termuda usianya di bumi nusantara ini. Keterangan yang lain menunjukkan bahwa candi ini dibangun menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit seiring dengan masuknya pengaruh Islam dan memudarnya pengaruh Hinduisme di tanah Jawa.

Aku terpaku sejenak pada satu relief yang cukup besar yang kutemui di dekat bangunan induk candi. Dari penjelasan Pak Gunawan aku mendapatkan paparan cerita kehidupan yang mempunyai makna sangat mendalam.

“Pahatan ini terbuat dari batu andesit merah, mas. Betapa besarnya batu ini ya. Bisa bayangkan bagaimana orang waktu itu membawanya ke mari?” jelas Pak Gunawan memulai percakapan.

“Relief paling atas itu menggambarkan cerita Bima dan Dewa Ruci. Sebuah kisah sarat makna tentang perjalanan seorang Bima mencari air kehidupan (tirta perwita). Dimana dalam perjalanan mencari air kehidupan ini akhirnya ia mendapatkan pengertian tentang jati diri manusia dan mengenal asal-usul diri sebagai ciptaan Gusti Allah. Dimana pengenalan akan Sang Pencipta ini menimbulkan hasrat untuk bertindak selaras dengan kehendak bahkan menyatu dengan Sang Pencipta atau sering disebut Manunggaling Kawula Gusti. Sebuah pencapaian kesempurnaan hidup dari seorang Bima”.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Relief candi Sukuh

“Di bagian bawahnya yaitu relief rumah kosong dan seorang ibu yang bertalian dengan bayi menggambarkan rumah itu sebagai tempat atau rahim yang suci dari seorang ibu dimana bayi yang dikandung berasal dari sana. Sementara bayi atau anak mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ibunya. Ia akan memberikan makanan ataupun kebutuhan yang dibutuhkan oleh sang anak bahkan tak ayal mengorbankan dirinya untuk sang anak. Hendaknya sang anak tidak melupakan jasa besar ibunya”.

“Lalu bagian paling bawah bercerita tentang apa, pak?” tanyaku tidak sabar. Penjabaran ini sangat mengusik rasa ingin tahuku lebih jauh.

“Relief seorang bayi yang diperebutkan oleh dua orang dewasa itu merupakan penggambaran bahwa seorang anak yang telah dilahirkan ke dalam dunia akan menjadi sebuah perebutan bagi perbuatan baik dan perbuatan buruk. Kedua hal ini akan menjadi sebuah pertentangan bagi sang anak hingga ia beranjak dewasa, apakah lakunya cenderung baik atau malah sebaliknya menjadi buruk.” Pak Gunawan menyudahi penjabarannya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Relief pada sisi kanan candi

Aku tertegun akan penjelasan yang detail dan mencerahkan dari Pak Gunawan. Sungguh, sebuah nilai yang sangat tinggi dan luhur baru saja aku dapatkan. Aku selalu memberikan ruang untuk semua hal baru yang kutemui dalam setiap perjalanan.

Jika kita mau memahami dan merasakan keagungan serta nilai kearifan dari candi Sukuh seutuhnya, tidaklah cukup apabila kita melihat dari sisi luarnya saja. Seperti halnya menyusun sebuah puzzle, kita harus mencari dan menggabungkan keping demi keping cerita, hingga akhirnya menjadi sebuah gambaran yang utuh tentang candi Sukuh. Kita harus dapat mengosongkan diri, membersihkan semua hal-hal yang buruk (kotor) dalam hati dan pikiran kita, untuk dapat memasuki relung yang paling dalam agar dapat menyibak kesakralan candi kamasutra ini.

Kawasan candi Sukuh berlokasi tepatnya di dukuh Sukuh, desa Berjo, kecamatan Ngargoyoso kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tepat berada di kaki gunung Lawu dengan ketinggian 1186 mdpl, candi ini masih menyimpan banyak cerita yang tentunya menarik untuk ditelusuri. Suatu saat aku akan kembali ke sana. Untuk menjemput kepingan cerita lainnya.

Advertisements

14 Replies to “Tentang erotisme dan keagungan Candi Sukuh”

  1. Candi sukuh juga masih digunakan untuk ritual agama hindu mas. Arca-arca di candi sukuh bisa unik dan berbeda dengan arca yang ada di candi lainnya.

    Candi sukuh memang selalu menawarkan suasana tenang dan kabut. Serta hawa sejuk. Duuh, jadi kangen suasana karanganyar 😐

    Liked by 1 person

  2. Aku jadi penasaran dgn keindahan candi ini setelah baca cerita mas Yohan. Selama ini cuma dengar sebagian saja, termasuk ritual melangkahi Lingga Yoni. Semoga bisa segera ke sana..

    Liked by 1 person

  3. Jika kita mau memahami dan merasakan keagungan serta nilai kearifan dari candi Sukuh seutuhnya, tidaklah cukup apabila kita melihat dari sisi luarnya saja.

    aku setuju banget sama kalimat ini. makasih infonya kak

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s