Jejak Kolonial Belanda Dalam Semangkuk Sup

Magelang, secara geografis kota ini berada tepat di tengah-tengah pulau Jawa. Di sini juga terdapat Gunung Tidar yang dikenal sebagai jantungnya tanah Jawa dimana berfungsi sebagai hutan dan paru-paru kota Magelang. Kota Magelang punya posisi yang strategis, karena berada di jalur utama transportasi kota Semarang menuju Yogyakarta.

Pada masa penjajahan Belanda kedudukan Magelang dijadikan pusat lalu lintas perekonomian wilayah Jawa Tengah bagian selatan, sehingga menjadikan wilayah Magelang semakin berkembang. Selain letaknya sangat strategis, udara kota ini juga tergolong nyaman dan mempunyai pemandangan yang indah. Pemerintah kolonial Belanda berinisiatif memperlengkapi sarana dan prasarana perkotaan. Mereka membangun menara air di pusat kota pada tahun 1918 serta memperkeras jalan-jalan arteri yang kemudian diaspal. Sebagai jalur lalu lintas dan perekonomian, menjadikan cukup banyak warga Belanda yang tinggal di kota Magelang. Hal ini mengakibatkan banyaknya proses akulturasi budaya, termasuk di bidang kuliner dengan masyarakat lokal. Dengan demikian tentu saja keuntungannya adalah kekayaan kuliner khas suatu daerah akan lebih diperkaya. Nah salah satu makanan khas kota Magelang yang terkenal yaitu Sup Senerek. Apa itu?

00__P5870752
Sup Senerek dengan kuah mengepul. Dok: Pribadi

Sup Senerek tak berbeda jauh dengan kebanyakan olahan sayur sup lainnya. Racikan dalam semangkuk sup berisi bahan utama yaitu kacang merah yang ditambahkan irisan wortel, daun bayam serta potongan daging sapi. Sebagai pemanis masakan ditambahkan cacahan daun bawang dan bawang merah goreng. Penambahan daun bayam sendiri merupakan ciri khas sup ini, menjadikan rasanya menjadi nikmat dan kaya akan nutrisi.

Baca juga: Keliling Borobudur Naik VW Yuuk!

Pengolahan bahan dasar kacang merahnya dilakukan dengan teliti dan tak memakan waktu lama. Hal ini dimaksudkan agar ketika disantap, kita masih dapat merasakan tekstur kacang merahnya yang padat. Kuahnya yang bening terasa gurih ketika menyentuh lidah, berkaldu tetapi tidak berlemak. Sementara bumbu rempahnya menghangatkan badan ketika kita menyantapnya kala pagi hari atau saat hari sedang hujan.

00__P5870760
Warung Sop Senerek “Pak Parto” kala pagi hari. Dok: Pribadi

Sup berkuah bening yang mendapat pengaruh dari tradisi kuliner kolonial Belanda ini memang pantas sebagai pengganjal perut kala pagi. Kata “Senerek” adalah pengucapan lidah Jawa dari bahasa Belanda untuk kata “snert soup” yang berarti sup kacang polong (ercis). Bahasa Belanda untuk kacang polong adalah erwten. Sekilas terdengar lucu dan aneh ya?

Sajian sup berbahan dasar kacang merah dapat ditemui pula di daerah Minahasa yang lebih terkenal dengan nama sup Brenebon (Belanda, Bruine bonen), hanya saja daging yang digunakannya adalah daging babi. Sup ini juga hasil akulturasi kuliner jaman Belanda.

“Saya adalah gerenasi kedua dari Pak Parto, ayah saya. Bapak sudah berjualan sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Kami dulu berdagang keliling dengan cara dipikul. Dan sejak tahun 2008 kami mulai menetap menempati kios yang sekarang ini,” jelas Pak Ragil, pengelola warung makan ini.

 

Penyajian Sup Senerek sendiri dapat dicampur langsung dengan nasi, seperti kebanyakan penyajian makanan soto di Jawa Tengah. Namun kita dapat juga memesannya secara terpisah, sehingga kita dapat merasakan gurih dan segarnya rasa sup. Sebagai pendamping sup, ada banyak pilihan camilan yang dapat dinikmati seperti perkedel kentang, perkedel daging, tempe goreng, bakwan udang, telur mata sapi, dll. Aku merekomendasikan potongan paru yang rasanya juara untuk mendampingi menyantap Sup Senerek. Di warung Pak Parto selain menyajikan Sup Senerek, terdapat menu lainnya yang tak kalah nyamleng (enak) seperti sayur asem-asem cingur dan nasi pecel.

Baca juga: Mau Petualangan Pacu Adrenalin di Magelang Juga Ada!

“Ketika badan berasa kurang fit, silahkan menikmati Sup Senerek. Selain kuliner ini mengandung nutrisi yang cukup, sup ini juga tergolong kuliner sehat. Sudah kenyang, sehat pula,” tutup Pak Ragil mengakhiri perbincangannya dibarengi senyumnya yang lebar.

00__P5870757
Lekker, mas dab! Dok: Pribadi

Saat semangkuk sup disajikan diatas meja, aroma bawang putihnya langsung menguar kuat. Bagi yang belum pernah mencicipinya, rasanya mungkin agak aneh ketika pertama kali menyentuh lidah. Akan tetapi pada suapan berikutnya, lidah kalian akan dengan cepat beradaptasi.

Harga satu porsi Sup Senerek campur dibandrol Rp11.000, sementara dengan nasi terpisah Rp13.000. Cukup murah bukan?

Lokasi warung Sup Senerek yang berada tepat di lembah gunung Tidar cocok bagi kalian yang masih betah menikmati waktu pagi dan ingin berjalan sehat. Terdapat anak tangga yang dibangun hingga puncak gunung Tidar dengan ketinggian total 503 meter diatas permukaan laut. Tak ada salahnya jika kalian untuk menyusuri keindahannya sambil berolah raga. Monggo.

Sup Senerek Pak Parto
Jl. Ikhlas C No. 12 Pertokoan Rejo Mulyo
Kawasan Terminal Lama – Magelang

00__P5870762
Warung sup Senerek, tampak depan. Dok: Pribadi
Advertisements

9 Replies to “Jejak Kolonial Belanda Dalam Semangkuk Sup”

  1. Ini kata Bapak Saya adalah Supnya kaum Bangsawan pada masanya….Karena sering disajikan untuk para perwira AD di magelang. keluarga tahu sup ini karena latar belakang bapak yang tentara dan pernah makan sup ini saat pendidikan di Magelang……lebaran kemarin pun ibu masak sup senerek ini…..#ngusapiler…enaknya😀

    Liked by 1 person

    1. Betul, mas. Ini memang sup kaum ningrat atau tuan tanah Londo di jamannya. Sekarang kaum proletar macam saya bisa juga menikmatinya… Hehehe

      Waah sama-sama anak kolong, mas. Bapak saya juga tentara.

      Enak dan menyegarkan sup Senerek ini memang.

      Liked by 1 person

    1. Dengar-dengar sekarang ada wisata militer, mas. Tamu diperbolehkan masuk ke instalasi Akademi Militer, tapi entah sebatas mana.

      Tempo hari pas waktu liputan untuk media ditawari wisata ini, cuma karena nggak ada di list liputan ya nggak kita ambil.

      Seru juga wisata militer ya, macam wisata rumah sakit di Penang juga banyak peminatnya… hehehe

      Like

      1. Entah itu hanya masih sebatas wacana atau sudah dilakukan, mas. Tempo hari orang dispar yang bilang begitu. Atau mungkin karena kita dari media, jadi dapat akses nggak tahu juga 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s