Perbincangan Di Dalam Bajaj

“Stop wishing. Start working.” — @kairahjames

“Mas! Bajaj? Mau diantar ke mana?”

Seorang lelaki paruh baya mengacungkan jari telunjuknya ke padaku, sementara aku berjalan pelan ke arahnya. Rupanya lelaki itu adalah seorang sopir Bajaj.

Jakarta sungguh macet parah pagi ini. Gilak. Barangkali karena semalaman diguyur air hujan yang deras, bagaikan tumpah dari langit. Ruas jalan terlihat menyisakan basah dan tergenang air di beberapa sudut.

Pak Alif, sopir moda angkutan beroda tiga asal negeri Hindustan ini tetap memacu tumpangannya; melindas aspal basah jalanan keras. Aku mengiyakan tawaran untuk menaiki Bajaj-nya setelah terjadi kesepakatan harga. Jarak dari Stasiun Senen menuju area Kota Tua lumayan jauh jika harus ditempuh dengan berjalan kaki. Bajaj menjadi salah satu moda angkutan alternatif untuk menembus kemacetan jalanan ibukota, apalagi setelah hujan yang bikin macet.

Pak Alif & Bajaj-nya (Dok. Pribadi)

Suara Chris Martin yang mendendangkan suaranya lewat lagu “Yellow” di kupingku serasa lenyap ditelan bisingnya suara knalpot kendaraan beroda tiga itu. Getaran mesinnya jika diukur mungkin setara 5,2 skala Richter. Menghempas tulang ekor tanpa ampun di jok penumpang yang nir empuk.

“Pak, sudah lama bawa Bajaj?” tanyaku membuka percakapan.

“Sudah cukup lama, mas. 12 tahunan lah saya bawa,” begitu jawab pak Alif kepadaku.

“Ramai nggak sih pak sekarang yang naik Bajaj?” tanyaku penasaran.

“Sudah nggak terlalu, mas. Sejak ada ojek online sepi. Berkurang banyak. Mas saja ini pelanggan pertama saya hari ini,” jawabnya sambil membelokkan arah stang Bajaj.

Baca juga: Cinta Berawal Dari Penggorengan

Pak Alif sangat piawai memainkan stang kemudi. Meliuk-liuk mengambil jalanan di celah antar mobil. Beberapa kali dengan sedikit bertenaga ia menggerakkan tuas gigi persneling di tangan kirinya. Ke atas untuk gigi rendah dan ke bawah untuk gigi tinggi. Bunyi gemeratak gigi persneling saat dioper menandakan gear box-nya sudah kepayahan, mungkin tak lama lagi akan rompal.

“Jago juga nih sopir,” pikirku.

It’s all about the money (tawar menawar) – (Dok. Pribadi)

Dengan maraknya alat transportasi yang mudah dipesan lewat aplikasi daring di gawai, sudah pasti menggerus pendapatan pengemudi angkutan semisal Bajaj, seperti yang dikeluhkan pak Alif. Hal ini jelas menjadi tantangan tersendiri bagi Pak Alif yang hanya tahu istilah “ngetem” dibandingkan notifikasi “take order” yang muncul dari aplikasi pesan alat transportasi.

Segelintir orang akan segera terlindas kemajuan zaman dengan perkembangan teknologinya, jika mereka tidak bersegera mengubah cara kerjanya. Tak terkecuali Pak Alif. Perkembangan teknologi memang harus diikuti dengan kemajuan cara berpikir dan tentu saja cara berkehidupan.

Saat ini kita semua hidup pada sebuah era dimana kekuatan jari dan jempol sanggup mengubah dunia dan itu tak dapat ditolak.

Baca juga: Keresahan Di Kedai Kopi

Namun siapakah yang dapat mengurangi atau bahkan menahan berkat dari Gusti Allah untuk “segelintir orang” yang tak kenal gawai pintar itu? Tak seorangpun dapat memecahkan rahasiaNya.

Pagi ini aku belajar tentang menatap hari depan dengan penuh asa. Menaruh harapan di ujung doa yang diunggah ke langit setiap hari. Tak tergantung pada alat ataupun medianya apa. Bukan pula diujung jari telunjuk maupun jempol yang memainkan gawai.

Kesetiaan untuk menjemput mimpi dan rezeki. Setiap hari.

Cockpit Bajaj (Dok. Pribadi)

“Pak Alif, nonton Twilight juga nggak pas hari Valentine?” tanyaku dengan santai.

“Nggak mas, saya nonton sinetron Hidayah,” jawabnya sambil menyedot rokoknya.

Aku segera membayar ongkos naik Bajaj. Sengaja aku lebihkan dari tarif yang sudah kita sepakati. Menepuk pundaknya pelan sambil mengucap terima kasih.

Aku melangkahkan kaki meninggalkan Pak Alif dengan kisah Bajaj oranye-nya.

Jakarta, Februari 2021

10 Replies to “Perbincangan Di Dalam Bajaj”

  1. Membaca ini, sambil melihat becak yang masih lalu lalang depan tempat kerja. Becak masih ada dan masih bertahan di kota Banjarmasin. Tapi, Bajaj, sudah tidak. Sepuluh tahun lalu, Bajaj masih menjadi icon, tapi skarang sudah tidak nampak lagi.

    Sedih juga melihat kenyataan bahwa jenis mode transportasi ini nampak kalah dengan fenomena ojek online. Jika saja, ojek online menambah layanan untuk bajaj dan becak sekaligus. Tapi apalah daya, mendapatkan penghasilan sehari-hari saja susah, apalagi membeli sebuah gawai ?

    Liked by 1 person

    1. Di Jakarta Bajaj sudah mulai terpinggirkan ke pinggiran dan tidak diperbolehkan melintas di jalan protokol; sementara sopirnya memohon ke pemda untuk diperbolehkan – masih menjadi perbincangan yang alot.

      Sementara untuk keberadaan Metromini yang juga mulai tergusur mode transportasi berbasis digital, mereka akan diintegrasikan dengan busway sama seperti saudaranya bis Kopaja yang sudah lebih dahulu.

      Intinya semuanya menuntut perubahan sih 🙂

      Liked by 1 person

      1. Setuju! Perubahan selalu ada dan pasti akan datang. Masalahnya sekarang, seberapa siapkah kita? Kalau pun kita siap, bagaimana dengan mereka yang masih berusaha mempertahankan keadaan mereka sebelumnya (Misalkan para tukang becak dan Bajaj tadi).

        Memikirkan ini, saya jadi merasa bahwa dunia ini nampak tidak adil dan kejam.

        Liked by 1 person

      2. Menurut saya sih sudah menjadi tugas dunia (alam) untuk menyeleksi manusia sebagai penghuninya. Hanya yang bisa menyesuaikan dengan keadaanlah yang akan sanggup bertahan. Terkesan tak adil dan kejam, iya; namun itu memang sudah tugasnya.

        Dalam hal yang saya tuliskan ini, bagaimana dengan nasib para tukang becak dan sopir Bajaj? Pada akhirnya mereka dihadapkan pada pilihan sanggup bertahan atau mati tergerus kemajuan zaman. Kembali lagi pertanyaan, adil dan kejam? Iya, seleksi alam telah menjawabnya.

        Solusinya gimana? Ikuti perkembangan zaman atau ganti usaha 🙂

        Panjang ya? Iya 😀

        Liked by 1 person

      3. Naah… Masalah timbul kemudian, apakah semudah itu ganti usaha sementara keahliannya hanya itu (yang sudah ada) 🙂

        Makanya saya tuliskan ini, mbak
        “Namun siapakah yang dapat mengurangi atau bahkan menahan berkat dari Gusti Allah untuk “segelintir orang” yang tak kenal gawai pintar itu? Tak seorangpun dapat memecahkan rahasiaNya.”

        Liked by 1 person

      4. Cakeeeppppp

        Tapi, saya sangat berharap, pemerintah dan juga kita-kita ini bisa bergerak untuk melakukan sesuatu. Bukan hanya memaksa mereka untuk mengganti saja usahanya, tapi juga menemani mereka sampai mereka dapat produktif dan menemukan mata pencaharian baru.

        Liked by 1 person

      5. Saya percaya manusia adalah makhluk dengan daya survival tertinggi dari semua makhluk hidup yang ada di muka bumi.

        Saat kesulitan mendera, mereka akan mencari jalan keluar. That’s why mereka akan berbuat sesuatu untuk itu (membuat atau menemukan cara mencari kehidupan).

        Dengan atau tanpa perhatian pemerintah mereka akan mencari jalan keluar; syukur kalau mendapat bantuan 🙂

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s