Gunung Prau, Perjalanan Menembus Sunyi (2)

“Jika belum bisa berbagi harta, berbagilah sukacita.” – Amadya

Baca bagian sebelumnya…

TRUST YOUR HOPE, NOT YOUR FEAR

Kami berempat akhirnya sampai di Dieng. Jam tangan menunjukkan pukul 02.00 pagi. Udara dingin menusuk hingga ke tulang sementara desiran angin malam terdengar cukup kencang. Puncak gunung Prau tak terlihat karena tertutup gelapnya malam.

Pepohonan tinggi bergoyang kencang tertiup angin di ketaksaan malam. Membuat kami kecut dan nyali menciut. Langit terselimuti mendung tipis dan berkabut tebal.

Mengambil waktu beberapa saat untuk berdoa, kami memulai pendakian gunung Prau dengan Pak Didik di posisi depan, aku, Aris dan Bayu sebagai sweeper.

Jalur yang kami lewati pada awalnya adalah anak tangga beton karena masih di area pemukiman warga Dieng. Trek jalan berbatu menyambung kemudian.

Angin semilir kencang menerpa badan membuat kami bergidik. Ditambah lagi saat kami melihat di sebelah kiri awal jalur pendakian ini ternyata adalah lahan pekuburan warga. Aseem kan! 

Awal pendakian kami awali dengan napas ngos-ngosan. Harap maklum, kami adalah veteran dan cukup lama tidak beraktifitas dalam dunia pendakian. Perjalanan tracking terakhirku adalah tahun lalu saat ke puncak Sikunir yang mempunyai track lebih pendek dan mudah dibanding jalur pendakian malam ini.

Gunung Prau; Dieng; Wonosobo
Jalur menanjak terjal menjadi tantangan menuju puncak gunung Prau – meet the guys (Dok. Pribadi)

15 menit sudah kami lalui dan perjalanan menjadi semakin mudah. Tubuh kami sudah bisa menyesuaikan dengan kondisi dingin dan jalur menanjak. Track berubah menjadi tanah gembur.

“Kita melewati perkebunan kentang ya, mas. Agak berat ini jalannya!” Pak Didik berkata memberi tahu kami.

Dengan kontur tanah yang menanjak dan tanah perkebunan yang gembur menjadikan jalur tanah serasa berat. Tanah yang dipijak  serta merta ambles dengan tanah lempung yang menempel di sepatu kami.

10 menit kami lalui menyusur tanah gembur ini. selanjutnya jalur sedikit menanjak dengan kontur tanah keras bebatuan. Senter yang kami bawa tidak dapat menembus pekatnya malam.  Desiran angin kencang menembus pepohonan membuat suara gaduh semilir.

Kalau aku jalan sendirian pasti jiper juga deh, pikirku.

Baca juga: Batu Pandang Ratapan Angin & Legenda Perselingkuhan 2 Anak Manusia

Tanjakan dengan kemiringan sekitar 30 derajat kami libas dengan sedikit memiringkan badan ke depan demi menjaga keseimbangan.

Jalur berubah saat kami memasuki jalur hutan pinus. Tanah sedikit licin karena bebatuan keras itu basah, imbas dari kabut dan embun yang turun.

Setelah melewati hutan pinus, jalur berubah dengan sisi kiri adalah jurang sementara di bagian kanan terdapat tanaman pakis yang cukup tinggi.

Tak berapa lama Aris mengeluh sakit perut. Kami berhenti sejenak guna mengatur nafas dan minum. Sepelemparan tombak dari tempat kami istirahat, Aris “bongkar muatan” di semak-semak. Meninggalkan jejak di tanjakan gunung Prau. Hahaha.

Jalur di depan kami terlihat terjal dan menanjak dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Pak Didik sebagai pemimpin rombongan terlihat beberapa kali terpeleset. Bayu di belakang, masih sebagai sweeper, rupanya asyik dengan lagu Metallica yang disetel cukup kencang guna mengusir kesunyian malam. Dasar anak metal bedebah! Hahaha. 

Gunung Prau; Dieng; Wonosobo
Bukit yang tertutup kabut tebal sebelum menerjang kami berlatar belakang sinar matahari pagi (Dok. Pribadi)

Tak terasa sudah 1½ jam perjalanan kami tempuh. Jalur semakin menanjak dan licin. Kabut sudah menghilang dan cuaca terlihat terang diatas sana. Langit menampakkan terangnya yang berwarna oranye sebagai pertanda fajar sebentar lagi menjelang.

Di ½ jam perjalanan terakhir, kami memperlebar langkah dan ini adalah ½ jam terakhir yang benar-benar menguras tenaga. Bagaimana tidak? Dengan kemiringan kontur tanah hampir 60-70 derajat, jalur berbatu dan licin, sementara kami nekat mempercepat langkah. Berharap sampai puncak tepat pada waktu matahari menyingsing. Edan sih menurutku.

Dengan sisa tenaga yang ada, langkah terakhir menghantarkan kami sampai di puncak gunung Prau. 2536 mdpl berhasil kami jejak. Selamat buat kami berempat.

Baca juga: Menapak Jejak Para Dewa Di Negeri Kahyangan

Jam menunjukkan pukul 05.00 saat kami berada di puncak gunung. Menara radio komunikasi PEMDA Wonosobo menjulang di puncaknya. Angin tak berhenti berhembus dengan kencangnya, membuat kami kesulitan untuk berdiri dan menjaga keseimbangan.

Di depan kami berdiri, di kejauhan, terlihat 2 bukit yang diselimuti kabut tebal. Sementara jauh di baliknya, sinar matahari menyeruak menembus kabut, memperlihatkan semburat warna  kemerahan di ufuk timur.

Kami mengeluarkan kamera untuk mengabadikan cantik ragawi alam pegunungan yang memesona. Keindahan alam maha karya Sang Pencipta.

Aris terlihat menggigil menahan dinginnya angin. Aku berlari-lari kecil guna menghilangkan hawa dingin juga, sementara Bayu sudah mulai menghamburkan jepretan kameranya.

Gunung Prau; Dieng; Wonosobo
Kami yang telah berhasil menjejak 2356 mdpl. Not bad for the veterans (Dok. Pribadi)

Tiba-tiba angin bertiup semakin kencang ke arah kami berdiri. Kali ini dengan mengangkut kabut yang tadinya menyelimuti bukit di depan kami. Alamaak! Seketika udara berubah menjadi sedingin es.

Aris tak kelihatan lagi. Rupanya ia rebahan di balik gundukan tanah guna mengusir dingin. Pak Didik juga terlihat menggigil kedinginan. Ternyata 2 orang ini dalam kondisi yang tidak benar-benar fit hari itu.

Beberapa kali aku sempat menekan tombol shutter kamera. Namun karena tak tahan dinginnya angin yang bertiup disertai kabut, akhirnya mencari tempat sembunyi di balik gundukan tanah yang lain juga.

Lalu di mana Bayu? Ia masih aja jeprat-jepret. Sinting! Hahaha.

Kami bertiga karena tak tahan dengan dinginnya hawa pagi itu, memilih menepi dan mencari tempat berlindung di balik tembok menara radio. Menunggu posisi matahari meninggi supaya badan mendapatkan kehangatan.

Cuaca seketika kembali berawan dan tertutup kabut. Mimpi kami untuk melihat 9 puncak gunung seketika sirna. Namun sudah menjadi kepuasan tersendiri dan menjadi pengalaman yang berbeda buat kami.

Bersambung.

4 Replies to “Gunung Prau, Perjalanan Menembus Sunyi (2)”

Leave a Reply to Rifqy Faiza Rahman Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s