Mencumbu Setumbu

“Setumbu bagaikan dirimu, sesosok wanita bermata sipit dan berambut sebahu yang berhasil membuyarkan lamunan panjangku. Muse dan juga bongkahan Kryptonite yang melemahkan Kal-El”

Waktu belumlah menunjukkan pukul lima pagi, namun beberapa langkah kaki tampak bergegas menaiki tangga yang basah bekas hujan. Mereka terlihat tak sabar untuk menikmati sebuah pertunjukan orkestra alam yang megah. Aku, lebih memilih untuk berjalan santai meniti satu demi satu anak tangga buatan tangan manusia dari beton tersebut. Aaah, masih hujan gerimis pikirku. Pasti di atas kabut masih tebal. Tepat dugaanku, kabut tebal masih menyelimuti bukit berketinggian 400 meter ini. Bukit yang dikenal dengan nama Punthuk Setumbu beberapa waktu lalu pernah menjadi latar belakang film “Ada Apa Dengan Cinta 2”. Tempat kedua tokoh sentral film itu menikmati matahari terbit.

Waktu bergerak perlahan menuju rembang pagi, namun tanda-tanda kabut bakalan menyingsing tak kunjung terlihat. Halimun sepertinya enggan pergi, ia masih ingin menyelimuti kemegahan susunan batu candi dari wangsa Syailendra itu. Menutupi anggunmu. Aku, memutuskan untuk menunggu dengan sabar. Ya, menunggu sosok kokoh nan angkuh. Borobudur, sosok yang menggabungkan kecantikan dan kemolekan tentunya akan menjadi lebih memesona dengan limpahan sinar Sang Rawi.

Benakku membayangkan seandainya kamu ada disini mungkin aku akan memelukmu erat, membisikkan kata mesra di telingamu serta menikmati matahari terbit ini berdua. Seperti Rangga kepada Cinta… Ihiiir.

00 9050898
Borobudur dengan segala kemegahannya, dilihat dari Punthuk Setumbu

Fajar telah beringsut, berganti menjadi pagi ketika pertunjukan lampu-lampu dimatikan silih berganti di kejauhan. Pertunjukan kolosal semesta alam akan segera dimulai. Biasanya, saat langit cerah ia akan perlahan berubah dari warna hitam gelap menjadi merah, kemudian berganti warna kuning menjadi keemasan, hingga kemudian diakhiri dengan warna biru. Semuanya diiringan ketukan teratur detak jarum jam, dengan pemimpin orkestra Sang Hyang Agung sendiri.

Pertunjukan kolosal semesta ini berlangsung untuk menyambut terbitnya matahari di kejauhan, menyembul dari tengah kedua gunung, Candrageni dan Candramuka, sebutan lain untuk Merapi dan Merbabu.

Menyenangkan sekali ketika kita beruntung mendapati bentang alam yang megah seperti ini. Namun hasrat untuk melihat Batara Surya terbit merekah di ujung timur tertunda, kabut bertambah gelap sementara gerimis juga tak rela melepasnya. Hanya sesaat kabut tersingkap, menampilkan panorama indah candi Borobudur. Memang berkunjung di bulan Desember ke Punthuk Setumbu adalah pilihan yang tak sepenuhnya benar. Perlu keberuntungan. Tak heran jika orkestra alam nan megah gagal aku nikmati. Tak sedikit pengunjung (baca: turis) yang akhirnya memutuskan untuk turun karena merasa tak ada lagi kesempatan menikmati bangunnya Batara Surya di ufuk timur pagi, atau mereka memang mempunyai agenda lain.

 

00 9050896

Aku memasukkan kamera di tanganku ke dalam tas ransel di pundak. Memang akhirnya keindahan tak harus selalu diabadikan lewat mata kamera, ada kalanya keindahan itu hanya dinikmati lewat mata kita tanpa harus ribet dengan setting ISO, White Balance maupun Diafragma. Cukup dengan duduk diam menikmati seduhan segelas teh atau kopi di tangan.

Setumbu dengan tagline Nirwana Sunrise bagaikan magnet, mengundang banyak mata untuk menyaksikan kemegahan, keindahan serta aura mistis dan sakral candi Borobudur dari kejauhan. Dari sebuah ketinggian kita dapat menyaksikan lansekap yang memikat. Sekat-sekat pepohonan dan perbukitan yang tertutup kabut dipagi hari menjadi sebuah sisi keindahan tak terbantahkan, dengan Borobudur, bangunan abad 8 sebagai nirwananya.

Setumbu bagaikan dirimu, sesosok wanita bermata sipit dan berambut sebahu. Berhasil memikat dan membuyarkan lamunan panjangku. Magnet sekaligus muse, namun juga seperti bongkahan Kryptonite bagi Superman.

Setumbu, ijinkan aku mencumbumu lain waktu.

Magelang, Desember 2018

Punthuk Setumbu
Dusun Kerahan, Desa Karangrejo,
Borobudur, Magelang, Jawa Tengah

Advertisements

6 Replies to “Mencumbu Setumbu”

  1. Jangan jangan perginya bareng Gallant hehehe dia juga menulis perjalanannya ke sini. Luar biasa ya pemandangannya … Nirwananya Sunrise. Kalau ada kabut kabut begitu (karena mendung) kelihatan semacam mistis begitu hehehe. Asli kece.

    Liked by 1 person

    1. Hehehe… Mungkin pas kebetulan saja nulisnya samaan, mbak.

      Iyes, makanya mereka pakai tag line “Nirwana Sunrise”; berasa di surga kata penjaga loket. Padahal dia sendiri juga belum pernah ke surga… Hahahaha

      Like

  2. Wah aku seneng nih model tulisan kayak begini. Kapan-kapan ajari saya dong, Mas 😀

    Betul itu. Suasana pagi yang beringsut perlahan itu romantis, terlalu sayang jika dilewatkan, apalagi ritme pergantiannya berlangsung cepat, berbeda saat senja yang berangsur perlahan dan lambat.

    Nah nyari sunrise emang susah ditebak ya. Kalau mau keren ada awan/kabut, pas musim hujan tapi ya ada kemungkinan kabut semua. Kalau pas musim kemarau nanti nggak ada awannya. Kurang dramatis.

    Liked by 1 person

    1. Hehehe… Terima kasih sudah mampir, mas. Lha ini saya juga masih belajar nulis, nggak sebaliknya kah mas yang ajarin saya… 🙂

      Saya justru penasaran lihat sunrise (yang benar-benar) kinclong di Setumbu, belum pernah dapat. Mari kita berburu bareng.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s