Secobek Kebaikan Mak Nuri

Tangannya sibuk mengoleskan bumbu ke potongan-potongan ikan sebesar kepalan tangan. Panggangan dari ram kawat tampak hitam oleh jelaga. Sesekali tangannya mengusap peluh yang melipir di keningnya. Sementara kain penutup di kepalanya terlihat kotor. Setelah potongan ikan semuanya terolesi bumbu, satu demi satu dibaliknya dan kembali ia mengolesinya hingga merata. Dengan segera ia mengangkat panggangan dan menyorongkannya masuk ke perapian. Ikan-ikan itu mulai diasap. Tak butuh waktu lama untuk mengasapi potongan-potongan ikan itu. Batok kelapa sebagai media pengasap diyakini akan membuat proses pengasapan ikan menimbulkan aroma yang khas.

Benar saja, aroma ikan yang terbakar harum sontak meruar ke tiap sudut ruangan yang berfungsi sebagai tempat pengasapan itu. Asap putih mengepul serta merta membuat mata pedih, sebelum naik ke cerobong asap dan menggumpal ke udara. Daerah tepian Kali Asin Bandarharjo kota Semarang memang terkenal akan sentra pengasapan ikan. Uniknya sungai disini berwarna hitam tetapi tidak menimbulkan bau dan seringkali terjadi banjir rob atau air pasang karena letaknya dekat dengan muara.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pengasapan ikan

Mak Nuri masih tampak sibuk dengan panggangan ikannya. Ia harus menjaga supaya batok kelapa yang sudah menjadi arang tidak mengeluarkan api, karena akan membuat ikan menjadi hangus. Rupanya itu adalah kunci mendapatkan hasil ikan asap yang baik. Sesekali tangannya mengusap celana ungu seperempat kaki yang dipakainya yang lusuh, sementara sepatu boot yang dipakainya tampak sedikit kedodoran. Di tempat pengasapan ikan ini Mak Nuri sudah bekerja selama 9 tahun. Tentunya ini waktu yang cukup lama untuk berkutat dengan asap dan bumbu ikan mangut.

Aku tersenyum kepadanya ketika Mak Nuri menyapaku ramah. Tak tampak aura kelelahan di wajahnya walaupun hawa panas dan asap menyeruak di ruangan berukuran 6 x 5 meter itu.

“Mau beli iwak mangut, mas?” tanya Mak Nuri sumringah.
“Iya, bu. Sejinah (Jawa – 10 biji) berapa?”
“ Dua puluh lima ribu, mas.” jawabnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tetap sehat ya, Mak!

Mak Nuri cepat memilihkan 10 potong ikan asap yang di Semarang lebih terkenal dengan nama iwak mangut itu, dan menyerahkannya ke tanganku. Matahari merayap naik dan sinarnya menelusup masuk lewat kisi-kisi ruangan beratap genteng tanah itu. Hawa bertambah panas dan pengap ketika beberapa pekerja lain bersama-sama mengasapi ikan. Sementara di luar, beberapa pegawai lelaki bekerja menjemur potongan kepala ikan sebelum nantinya diasapi juga.

Sesekali menengok ke dalam ruangan pengasapan, terlihat Mak Nuri sedang menggerus cabai dan tempe membuat sambal. Cobek tanah liat yang cukup besar itu rupanya sudah disiapkannya sedari tadi. Ia mengambil waktu untuk mengaso dan menikmati bekal makanannya. Mak Nuri mengambil tiga potong iwak mangut dan mencocol ke sambal di cobeknya. Ia membagi bekal nasinya menjadi dua dan memanggilku untuk mendekat. Mak Nuri membagi makanannya untukku. Aku menolak ajakannya dengan halus. Namun dengan sedikit memaksa ia menyerahkan sepiring nasi putih dan sepotong iwak mangut diatasnya seraya menuangkan sambal buatannya dengan sendok ke piringku. Senyum sumringah menghiasi wajah lelahnya. Guratan keriput di wajahnya meregang ketika dia tersenyum. Tangan kanannya menyuap nasi masuk ke mulutnya, sementara piringnya diletakkan pada kotak kayu yang sudah reyot.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Proses pengasapan iwak mangut

Sambil mencolekkan sesuwir ikan ke sambal, aku memasukkan nasi ke dalam mulutku dengan sedikit rasa malu. Tak dinyana aku mendapatkan kebaikan dari seorang yang sangat sederhana, Mak Nuri. Negeri ini masih ditinggali oleh orang-orang berhati baik. Aku percaya bahwa kebaikan bisa datang kapanpun dan kepada siapapun. Hari ini kebaikan itu datang kepadaku lewat sebuah cobek. Sembari berbincang kami menikmati makan siang, disertai tawa renyah Mak Nuri juga beberapa pegawai lainnya. Celotehan dan sendau gurau mereka adalah energi kebaikan yang membuncah tulus, bukan kebaikan dengan pamrih. Tawa canda mereka menghilangkan rasa lelah yang mendera.

Aku tak tahu entah aku akan bertemu kembali dengan Mak Nuri, tetapi aku percaya bahwa ia akan meneruskan kebaikannya. Bahwa kecantikan itu memang seringkali terungkapkan atau dilihat dari sisi fisik, tetapi kali ini aku memandang kecantikan itu dari kebaikan yang memancar keluar tanpa polesan bedak atau rekayasa.

Advertisements

10 Replies to “Secobek Kebaikan Mak Nuri”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s